Simiskin Dan Wanita Kaya

Simiskin Dan Wanita Kaya
Mimpiku


__ADS_3

"Lu udah dijemput?"


"Tu." Ia menunjuk kearah gerbang, terdapat mobil hitam dengan jelas di depan gerbang sekolah.


"Aku balek dulu ya, nanti jangan lupa." Ucap maria sembari menuju kegerbang kelas kemudian masuk mobil.


"Anak orang kaya mah enak, jarang kena matahari." Celetuk trio.


"Ah sudahlah kita punya rezeki sendiri sendiri." Ucapku memutus omongan yang mungkin saja bisa melebar.


Mereka sudah menungguku untuk pulang bersama sama.


"Ayo udah pulang, nanti urusan aziz kita bahas senin saja, kalian nikmati dulu hari libur esok, tapi tetap hati hati." Ucapku kepada temanku.


"Aman atuh pos, jadi liat motor gak nanti poss." Ucap padil.


"Jadi jadi, kalo pas langsung bawa aja." Ucapku.


"Yang penting mah kalo sisa uangnya minum minumlah nanti." Celetuk firman.


"Aman dah." Jawabku singkat.


"Ayo poss." Seru econ.


"Gass, ayo balek balek, nanti gua kabarin dil."


Temanku pun mulai beranjak menuju rumahnya masing masing.


"Con, jadi ikut futsal gak lu nanti."


"Jam berapa?"

__ADS_1


"Jam 8 malem."


"Iya nanti gua kabarin kalo ikut."


Sampai dirumah, seperti biasanya, rumah tampak sunyi, lusuh dan sudah mau roboh, tapi mau gimana lagi uangku belum seberapa banyak, "doakan anakmu jadi orang kaya bu" ucapku dalam hati. Aku bergegas salin lalu membuka dandang di meja makan dan mulai mengambil nasi, terlihat tempe goreng dan sambal goreng yang mengajakku untuk segera menyantapnya.


"Kluntinggg" hp ku berbunyi, ku cari di saku celana sekolahku tadi lalu kubuka.


"Pos, nanti kalo sudah gua jemput." Ucap padil singkat di pesan whatsaap.


"Okke dil."


Kulanjutkan lagi makanku selesai makan ku ambil uangku kumasukkan wasbag kebanggaanku yang ku beli lewat hasil jerihpayahku, dan segera mengabari padil.


"Udah siap dil gua."


Tak lama maria mengechatku.


"Iya mar, gimana?"


"Markir ndak."


"Ndak mar."


"Tumben mau kemana emangnya?"


"Ada urusan mar."


"Tawur sama gang yang kesekolah tadi?"


"Enggak mar."

__ADS_1


"Oh okke deh, nanti malam jangan lupa ya."


"Okke." Jawabku singkat.


"Otiwi poss." Jawab padil.


Sembari menunggu padil datang, kuhisap rokokku, ku minum kopiku sisa tadi pagi, lalu kupandangi orang orang berlewatan sembari memutar lagu morfem rayakan pemenang, semoga kelak nanti aku dan teman temanku merasakan melepas pemenang dengan hormat dan ini salah satu kutipan lagunya yang langsung kuhapal saat pertama memutarnya esok dirimu kan terbang, tak habis pikir kami melepas pemenang, tak habis pikir kami melepas pemenang.


Jarak rumahku ke rumah padil lumayan dekat hanya beda satu dusun, tapi ya begitu jalan sempit banyak anak anak kecil yang mengharuskan menggunakan motor dengan pelan yang membuatnya lama sampai.


Tak lama padil tiba dan aku langsung menutup pintu rumahku lalu beranjak pergi melihat motor yang akan dijual temen padil, motor yang aku impikan dari smp, dan motor pertama yang akan kumiliki.


"Ini poss motornya, liat dulu aja lewat foto." Ia menyodorkan handphonnya kepadaku sembari menyetir motor.


"Ini dill, bener?"


"Iya poss." Walaupun suaranya bersautan dengan suara bising bising jalan tapi masih terdengar.


"Okkedeh kalo gitu, kita liat dulu aja."


"Okke poss."


"Oh iya mampir ke jualan ibukku dulu dil, belum pamitan aku." ucapku saat kita sudah sampai dipertengahan jalan.


"Okke poss, gak jauh to rumah temenmu itu."


"Enggak poss."


Ia lalu memutarkan motornya dan mengarah ke jl malioboro, sembari membawa motor, aku dan padil pun berbicara ngalor ngidul supaya lebih enjoy.


Dan tentang sifatnya sudah kuceritakan dieps sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2