
Para dokter sibuk membereskan barang barang operasi dan membersihkan area operasi yang bersimbah darah. Bu isna masih nerdiri disamping posa "terima kasih nak sudah mau menemani masa tua ibu." Lirihnya ditelinga posa.
"Ibu dipersilahkan keluar dulu, kita mau membereskan tempat ini, baru nanti posa dipindah diruang rawat inap."
Bu isna lalu keluar melepas apd nya dan mandi lalu melaksanakan dua rokaat syukur.
***
Maria masih sibuk didalam mobilnya menghitung uang sumbangan buat posa, ia juga menyisipkan uangnya 100.000 buat biaya operasi posa, uang terkumpul 300.000 rupiah.
"Pak aku ke rumah sakit pku muhamadiyyah dulu ya mau jenguk temen." Ungkap maria ke pak dopir.
"Baik non." Jawab sopir sembari mengemudikan mobil alpard orang tuanya.
Khawatir mulai bermunculan di diri maria, terbukti dari raut wajahnya yang gelisah, sampai pak sopir menyadarinya.
"Non gelisah ya?" ucap supir sembari melihat spion.
"Tidak pak, ndak papa maria." Ucap maria sembari tersenyum tipis.
"Cerita aja atuh non ke bapak kalo ada apa apa mah, santay." Ucap pak sopir.
"Tidak papa pak, maria cuman khawatir ama temen, yang mau maria jenguk ini, ia terkena luka bacok di bagian perut sampai dioperasi!"
__ADS_1
"Kena klitih dia?" Tanya pak sopir.
"Bukan pak, habis tawuran dia."
"Oh yaudah non tenang saja, temen non pasti bisa ngelawan rasa sakitnya, orang jagoan kok dia." Ucap pak supir yang tak tahu teman yang dimaksud maria siapa, tapi itu cukup menenangkan maria, terbukti dari raut wajah maria yang berubah menjadi tenang kembali.
"Ni bentar lagi sampai non." Ucap pak supir ketika akan sampai lokasi tujuan.
***
Dua rokaat syukur bu isna laksanakan dengan hati yang sedih bercampur bahagia, ia berdiri dengan badan sedikit tegar, berniat dengan tujuan penghambaan selesai salam berkumandang ia ucapkan syukur kepada tuhan yang masih memberi anak semata wayangnya merasakan kehidupan.
Ia lepas mukena putih syarat ia bersujud, ia sampirkan ditempat yang semestinya lalu keluar dari masjid menyusuri lorong lorong gelap pengingatan, menuju ruang posa tadi di operasi.
"Anak ibu butuh beberapa hari untuk siuman, minta tolong dibantu ya." Ucap suster.
"Baik dok, saya akan bantu semaksimal mungkin." Ucap ibu posa sembari tersenyum kecil.
"Sebentar lagi posa saya pindahkan ke ruang rawat inap bu, supaya teman temannya bisa menjenguknya."
"Baik sus, terima kasih."
Ibu posa melamun sembari memegangi dagunya ia tak tahu jika ia kehilangan anaknya, betapa sepinya rumah hanya ia sendiri tampa ada semangat dan memberikanya senyuman hangat.
__ADS_1
"Bu ...." ucap maria keras sembari berlari kecil.
"Hai maria, udah pulang seko_." "Salim dulu dong bu." Senyum maria.
"Sudah ibu, ini aku langsung otewe kesini nemanin ibu dan posa."
"Terima kasih banyak nak maria, t ..."
"Tapi apa bu?"
"Tapi tak ada yang bisa diharapkan dikeluarga kecil ibu dan posa ini."
"Sudah tak apa bu." Ucap maria sembari menggenggam tangan ibu posa. "Oh iya ini tadi ada sukbangan dari teman teman bisa ibu terima."
"YaALLAH terima kasih ya nak maria" ucap ibu posa yang juga menggenggam tangan maria.
"Kreeek." "Bu ayo ikut kita keruangan posa yang baru." Ucap suster tadi.
"Baik bu, ayo nak maria ikut."
Maria menganggukan kepala dan berdiri sembari memandangi wajah posa pucat sedang didorong menggunakan kasur pasien menuju ruangan baru.
Ibu isna berjalan bebarengan dengan maria dibelakang suster yang sedang mendorong posa.
__ADS_1
Kehangatan maria rasakan, tak memandang fisik ekonomi ataupun yang lainnya, ia merasa bersyukur mengenal sedikit lebih dalam keluarga posa, ia merasa diberi pelukkan hangat, ia terharu, ia merasakan kasih yang amat dari seorang ibu. "Terima kasih." Ucapnya lirih dalam hati.