Simiskin Dan Wanita Kaya

Simiskin Dan Wanita Kaya
Kesampaian


__ADS_3

"Oh iya mampir ke jualan ibukku dulu dil, belum pamitan aku." ucapku saat kita sudah sampai dipertengahan jalan.


"Okke poss, gak jauh to rumah temenmu itu."


"Enggak poss."


Ia lalu memutarkan motornya dan mengarah ke jl malioboro, sembari membawa motor, aku dan padil pun berbicara ngalor ngidul supaya lebih enjoy.


"Parkir sini aja dil." Ucapku saat sampai di tempat ibukku bekerja.


"Okke poss."


Padilpun segera mengkunci settang motornya dan kita bergegas ke tempat ibukku bekerja untuk memberitahukan jika aku ingin melihat lihat motor dan jika cocok mungkin langsung aku beli.


"Buu." Ucapku saat sampai di tempat ibukku bekerja.


"Udah pulang le, mau kemana ini sama padil?" Jawab ibukku.


"Aku mau lihat lihat motor bu, alhamdulillah tabunganku sudah penuh dan tadi tak hitung ada 8 jutaan." Jawabku.


"Alhamdulillah le, mau cari motor apa?"

__ADS_1


"Motor vespa bu, kan posa dari dulu suka motor vespa."


"Hahaha itu perkataan 3 tahun lalu ya le, yaudah seterahmu mau beli motor apa yang penting kamu seneng, tapi ibu belum ada tambahan."


"Jauh gak rumahnya?"


"Enggak bu cuman beda dusun."


Ibukku tak pernah menyuruhku atau melarangku membeli sesuatu yang aku suka sebab ini uang yang kutabung sendiri dan dari hasil keringatku selama 3 tahun ini.


"Ndak papa bu, ibu wes santay ae pokoknya." Sembari kuacungkan jari jempol. "mungkin aku tak langsung kesana ya bu." Sambungku.


Kusalimi ibukku, lalu beranjak pergi menuju teman padil.


"Assalamualaikum." Ucap padil


"Waalaikum salam, hai dil, ini temenmu yang mau masih cari motor itu." Jawab seseorang lelaki muda dari dalam rumah, mungkin itu temanya padil.


Kuanggukan kepalaku dan sedikit tersenyum kepadanya. Lalu kusalimi, padil berbasa basi dulu, saat kita duduk mataku selalu fokus dan tertuju pada vespa hijau terpampang di depan rumah dengan rapih.


"Siapa namamu bro, kayaknya pernah liat aku, udah habis ini langsung kita liat dari deket bro." Ucap teman padil mengagetkanku yang sedari tadi melihat motor itu saja. Wajar sebab mimpiku tiga tahun lalu akhirnya bisa terwujud dengan usaha dan doa yang slalu kusisipkan selesai beribadah kepadanya.

__ADS_1


"Hahaha, Iya bro gak asing sama wajahmu aku." Jawabku.


"Oh iya iya, kamu yang biasa diparkiran sama pak jono ya."


"Iya bro, kok tau."


"Pak jono sering cerita kalo lagi nongkring digajebo."


"Posa to namamu?"


"Iya bro."


Rumah pak jono memang disekitaran rumah temenya padil ini, dan aku sering kerumahnya, ia memiliki dua anak laki laki yang sudah bekerja dan perempuan yang masih sekolah menengah pertama. Mereka hidup tidak pernah tidak bersyukur, sangat bahagia keluarga mereka, semua itu disebabkan oleh sang pemimpin yaitu ayah, karna ia yang memipin keluarga.


"Ayok liat liat motornya dulu bro!"


"Ini yang kutunggu dari tadi." Ucapku dalam hati.


Kamipun segera beranjak dari tempat duduk lalu menuju kehalaman rumah temenya padil.


"Yang ini bro yang mau tak jual, motor aman, pajak hidup, kelistrikan lancar." Ia mendeskripsikan barang layaknya penjual seperti biasanya.

__ADS_1


"Boleh kucoba dulu bro." Akupun tak mau berlama lama untuk segera menaiki motor ini.


Akupun segera membawanya keluar gerbang lalu kuengkol motor tua ini, dan mungkin akan segera jadi miliku.


__ADS_2