
Maria tak mau kalah, ia juga menaruh kepalanya dimeja sehingga berhadap hadapan dengan posa.
"Mana sini kulihat?" Tanya maria sembari mengangkat baju sebelah kiri posa.
"Buat apa mar?" Ucap posa replek sembari memegangi tangan maria.
"Liat aja masa ndak boleh!" Ucap maria murung.
"Iya iya, ni liat." Posapun luluh lalu membuka sedikit bajunya sampai terlihat sisa sisa jahitanya.
"Hiii." Ucap maria meledek saat melihat bekas jahitan di badan posa dan hanya posa ladenin dengan memalingkan wajahnya berlawanan dengan maria sembari menaruh kepalanya ke meja kembali.
Maria tak tahu betapa gundah gulananya hatinya, betapa getarnya mulutnya untuk menanyakan perihal yang econ sampaikan tadi. Moodnya tak beraturan udara menipis lalu ia terlelap tanpa menghiraukan maria yang sedang mengoceh dibelakangnya.
Bel istirahat berbunyi, posa terbangun, ia tak tau apa apa pelajaran pagi ini.
"Ayo pos ke warung biasa." Ucap econ sembari memegangi pundak posa.
"Ayok lah, mulutku dah kecut ini!"
__ADS_1
"Trio mana?"
"Udah duluan dia mau berak dulu katanya."
Ia terbangun lalu melihat maria sudah tak ada di sampingnya, posa berargumen kalau maria sedang bersama ketua osis itu.
"Biarlah aku memang tak pantas buat siapa siapa" Ucap posa dalam hati.
"Murung bener muka lu ***, cemburu ya sama ketua osis itu bisa dekat dengan maria." Ledek econ.
Posa tak menghiraukanya, ia hanya melihati sekitar sekolahan.
"Bener kan dugaanku." Ucap posa dalam hati saat melihat maria sedang jalan bebarengan dengan ketua osis menuju kantin sekolah.
***
Dia temen sd wanitaku, aku menyukainya sejak kecil namun terhalang pendidikan yang menuntutku jauh dari rumah.
6 tahun berselang akhirnya aku menemukan nomor whatsaapnya dari tetanggaku sedesa, "ia sudah besar sekarang" ucapku saat melihatnya di foto profil.
__ADS_1
Aku mulai mengawali pendekatan sampai hati ini tak bisa ku tahan untuk mengungkapkan rasa.
Akhirnya ia pun mau, saatku mendekatinya aku masih diyogya untuk menuntut ilmu demi kelangsungan hidupku kedepan. Sampai lebaran aku memaksakan pulang tuk menemuinya.
Kami tertawa, kepantai, menghabiskan waktu seharian layaknya orang bercinta, aku bangga, senang ku tak bisa terelakan, moodku baik disetiap hari hariku bersamanya.
Sampai akhirnya aku berangkat kembali ke yogya untuk melanjutkan studiku, kita berjauhan, awalnya semua baik baik saja, sampai ia berangkat kejakarta untuk mencari uang dan pengalaman, semua rasanya berbeda, ia mulai tak mengabari aku, sampai ia berucap "jangan terlalu mencari hal tentangku." Aku hancur, studiku terganggu, sampai perutku lapar tak ku hiraukan.
Tapi aku cinta aku tak mau ia meninggalkanku aku memang egois waktu itu sebab aku tak akan meninggalkanya kecuali ada orang lain dihatinya itu janjiku padanya.
Setahun berjalan banyak sekali rintangan yang kuhadapi mulai dari kuliah, keluarga, keunganan ditambah lagi dirinya yang memaksaku untuk mencari uang supaya waktu lebaran tiba aku memgang uang.
Aku pun bekerja disore hari, dipagi hari aku kuliah, badanku capek, tak terurus, tak terawat, melamun sering kurasakan, ditambah dengan wanitaku yang mulai jarang menanyakan kabarku, sampai akhirnya feelingku benar.
Waktu subuh subuh kutelpon ia supaya bangun subuh, saat ku telpon ia sedang berada dipanggilan lain!. Aku tambah kacau hari hariku mulai abu kembali sesak kurasakan di kamar kecil tempat ku melamun.
Dan ia mengakuinya sedang sleepcall dengan orang lain aku tak bisa berkata kata aku hanya mengusap dada sembari "ayo kita sembuhkan lagi" ucapku dalam hati. Pagi itu aku tak bisa tertidur aku masih merenung "kurang apa dariku." Kata kata itu terucap beberapa kali dari lisanku. Sampai akhirnya aku berkata padanya "aku mundur, perjuangkan jagoanmu yang baru."
Mungkin itu saja curhatanku, alay memang, sebab ini yang kurasakan sekarang. Dan ini tak ada sngkut pautnya dalam novel simsikin dan wanita kaya. Terima kasih yang sudah mau membaca noveku.
__ADS_1
***
"Sudah pos jangan diliatin terus." Ucap econ menenangkan ku.