
Aku canggung, maria pun begitu, apakah aku memiliki perasaan kepadanya, yang membuatku kata kataku menghilang ditelan sesempitnya udara?, tidak lah, mungkin karena awal saja aku berboncengan dengan wanita cantik nan kaya ini.
"Besok kalo gabut, maen aja keparkiran gua mar."
"Siap poss, mungkin akan lebih sering gua kesitu"
"Okke, kabar kabar aja kalo mau keparkiran, biar ku bersihkan dulu supaya tidak kotor seperti tadi."
"Ah tak apa, namanya juga pasar, bersih paling pagi doang keknya."
"Tau an lu, iya mar bersih pagi doang selebihnya mah kotor."
Menaikki motor tanpa tau arah kemana kita menuju rumah maria adalah hal yang sangat mencanggungkan bagiku ingin menegurnya tapi mulut dan badanku ingin berlama lama denganya tanpa sadar bahwa maria sudah memiliki pria.
"Cowok lu gak papa kita boncengan gini mar."
"Gak papa pos santay aja lagian cowok gua dilampung masihhan, dia tu playboy poss, makanya sekarang gua antara percaya sama gak percaya."
"Sutt gak boleh kek gitu mar, gitu gitu juga pernah nemenin lu kemana mana."
Kupandangi maria diam diam dari balik kaca spion, tak kisadari wanita yang diidam idamkan anak disekolahku sekarang berada dibelakangku, ia memang cantik sekali, sampai ku berpikir sesempurna ini ciptaan tuhan, tak sampai kata kataku untuk memujinya lagi, jika kubukukan mungkin akan lebih dari buku karya ilmu pengetahuan tentang asntronot.
__ADS_1
"Temanlu pada kemana poss, kok gak pda nongkrong di tempat lu."
"Ada tongkrongan sendiri mar, aku kesana biasanya jika semua tanggunganku sudah kuselesaikan dan badan ku bisa berkompromi."
"Ohhh, tapi mereka sering nemenin lu gak diparkiran?"
"Sering mar, terkadang mereka tiba tiba datang, dan terkadang juga membantu ibukku menjajakan makakannya."
"Bantu ibu lu?"
"Iya mar, makanya itu harta yang kumiliki hanya ibu dan teman temanku, Mereka salah satu harta yang kumiliki didunia ini mar, jika memang harus berganti dengan nyawa mungkin aku akan membantunya."
"Harus gitu sih pos, tapi gua gak pernah ngerasain punya temen sekelas temen temen lu yang segitu akrabnya sampai membantu ibuklu pos."
Lama kita berbincang berbagi experience tanpa merendahkan satu sama lain, sampai sampai maria terbengong lalu...
"Kita mau kemana ini mar?" aku mengagetkanya yang sedang tersenyum menghadap langit menikmati keindahan lingkungan barunya yang wisatawan sebut yogyakarta.
Yogyakarta istimewa bagi mereka yang merasakanya tapi tidak denganku.
"Oh iya pos, sebentar kukabari orang rumah dulu suruh sharelok?"
__ADS_1
Tak lama maria mengabari orang rumah dia menepuk pundakku untuk menyingkir dijalanan dahulu'
"Hallo mah?"
"Kamu dimana nak?"
"Aku dipasar mah maen ketempat kerja temenku sekolah"
"Cepat pulang sudah mau maghrib ini."
"Iya mah, ini masih dijalan arah pulang."
"Naik apa kamu nak pulangnya."
"Motor mah."
"Waduh nanti hitam kamu kalo naik motor mar, lah gak ngabarin pak supir tadi nak?'
"Kukabari bu tapi tak sampai sampai, terus aku dianterin sama posa ini."
"Posa sapa nak, lupa ibu?"
__ADS_1
Suara itu terdengar ditelingaku, menampar jantungku, menggugah kesadaranku, sampai aku terdiam dan kembali memikirikan hal yang ibu maria katakan saat ku menjenguknya di rumah sakit.
Tamstam_