Simiskin Dan Wanita Kaya

Simiskin Dan Wanita Kaya
Martin


__ADS_3

"Dok ..."


"Oh iya pak, bapak siapanya posa ya?"


"Sudah lupakan, gimana operasi posa tadi dok?" Tanya kakek posa.


"Berjalan lancar pak operasinya tinggal menunggu posa membaik saja." Ungkap dokter. "Kalo saya boleh tau nama bapak siapa ya?"


Dokter masih berusaha untuk mencari tahu tentang kakek berbadan tegap ini.


"Martin." Ungkap pak widjaya singkat sembari meninggalkan tempat administrasi rumah sakit.


***


Bau khas rumah sakit ibu isna rasakan dibarengi hati yang lega. Bu isna kaget dengan maria yang mendekatkan badanya ke posa. Ia tak langsung menegur ia mendengarkan pembicaraan dua priyayi ini.


"Aku menyusahkan ya mar!" Ucap posa dengan nada sedikit serak.


"Tidak pos, tidak ada yang menyusahkan, semua ikhlas semua sudah digariskan, terpenting kamu sembuh dan tak mengulanginya lagi." Ungkap maria.


Bu isna tak bisa berkata kata, matanya berkaca kaca, badanya gemeter, ia merasa didikanya selama ini tak sia sia, anak yang sedari kecil ia asuhnya sekarang sudah dewasa dengan tempaan yang keras, sampai ia tak ingin menyusahkan ibunya sendiri.


"Tidak nak, ibu ikhlas..." ungkap bu isna sembari mendekatkan badanya di ranjang posa.


"Bu ..." ucap maria yang langsung ibu posa tanggapi dengan bahasa isyarat telunjuk di bibir (diam).


"Aku dirawat dirumah saja ya bu, pasti biayanya mahal!" Ucap posa dengan mata yang masih terpejam.


"Tidak nak kamu akan tetap dirawat disini sampai benar benar sembuh."


"Kan kita gak punya cukup uang bu untuk merawat posa dirumah sakit."

__ADS_1


"Ndak papa nak, ALLAH sudah mengaturnya." Ucap bu isna sembari mengelus kening posa.


Maria terdiam, hatinya sedikit tenang, posa sudah tersadar namun mata dan badanya masih susah untuk dibuka. Ia menyaksikan langsung betapa sayangnya seorang ibu kepada anaknya sampai tak bisa dibeli dengan apapun kecuali rasa sayang balik.


Ibu tak akan memikirkan rasa sakit, nyeri, berkeringat, dan lelah demi sengum anaknya terpnacar dikala pagi hari menyongsong.


"coba berusaha buka matamu nak."


Posa mulai perlahan menggerakan matanya supaya bisa melihat isi dunia lagi, usaha demi usaha ia lakukan sampai akhirnya terbuka juga mata posa dengan sempurna. "Tolong ambilkan aku air minum mar, mataku kok kabur ya bu?"


"Ndak papa anak itu lama lama jug jelas lagi."


Maria langsung bergegas mengambil air minum digalon yang sudah disediakan rumah sakit lalu memberikanya ke posa dengan pelan pelan.


"Ahhh." Teriak posa.


"Jangan banyak gerak dulu nak, badanmu baru selesai operasi!"


"Aku habis operasi bu?" Dengan nada sedikit heran.


"Iya nak!" Singkat bu isna.


"Mahal ya biayanya pasti?"


Ia menanyakan hal itu kembali.


"Sudah jangan dipikirkan, terpenting kamu sembuh, dan bisa melakukan kegiatanmu sehari hari seperti biasanya."


Maria mengangguk angguk sembari sesekali melihat posa dan bu isna.


"Minumku mana mar?"

__ADS_1


"Ohh iya ini pos." Ucap spontan maria saat tersadar dari lamunannya.


"Pelan pelan pos." Ungkap maria.


Posa sudah larut dalam wajah maria, ia mengangguminya lebih dalam sekarang, namun badannya yang lemas ini dibuat tak berani untuk mengatakan apa apa. Ia perlahan mulai memberanikan diri untuk memujinya.


"Makasih mar, aku jadi gak enak kamu disini."


Muka merah maria menyala seperti siluet di malam hari "iya pos sama sama, santay aja aku juga dirumah gak ada kerjaan."


"Cepat sembuh supaya bisa ikut seleksi buat turnamen sekolah besok senin." Sambung maria memberi sedikit semangat buat posa.


"Ah gak mungkin aku ikut mar, badanku rasanya sakit semua."


"Bisa pos, usaha dulu."


"Hahah bismillah." Ungkap posa.


"Ah tak usah dipikirkan aku bahagia bersama ibuk dan kamu, ada pelukan hangat kurasakan dari pada dirumah." Perlahan wajah maria beralih menjadi murung dengan rona merah yang mulai memudar.


"Huss tak boleh begitu nak maria, keluarga tetap nomor satu berada dihatimu."


"Iya bu."


"Mukanya jangan cemberut gitu ah." Ucap bu isna melihat wajah maria yang sedikit murung. "Nanti kalo butuh apa apa datang saja kerumah ya."


Bu isna suka dengan teman teman posa, sebab ia tahu didunia ini hanya dia dan teman temannya lah posa bisa melanjutkan hidup walaupun banyak tempaan yang dirasakan.


***


Tak terasa sudah seminggu posa tak masuk sekolah karena sedang dirawat dirumah sakit dan tepat dihari minggu badanya mulai membaik, dan bisa diperiksa dari rumah.

__ADS_1


dihari senin ia melanjutkan sekolahnya berangkat dengan motor tuanya yang ditaro dirumah econ saat posa sedang dirumah sakit.


__ADS_2