
Pelajaran penjaskes pun selesai, teman teman posa mulai berbubaran satu persatu, ada yang menuju kelas ada yang kekantin untuk membeli air es terlbih dahulu.
"Ayo ke kantin dulu." Ajak maria ke posa, trio dan econ.
"Yaudah ayo." Posa langsung mengiyakan, sebab berkegiatan dibawah terik matahari pas membuat tenggorokan kering.
Jalan lah mereka berempat menuju kekantin sekolah, membeli es, duduk dudk sebentar lalu beranjak ke toilet untuk berganti pakaian putih abu abu lagi.
Pr dari pak jono sudah terselesaikan, pelajaranya pun sudah berlangsung, lalu dilanjutkan pelajaran selanjutnya sampai pelajaran terakhir, tetap seperti biasanya, tak ada yang perlu di ceritakan.
"Pelajaran hari ini bapak tutup, jangan lupa belajar dirumah, ayo segera dibereskan barang barang kalian, lalu baca doa pulang." Ucap guru pelajaran terakhir pertanda berakhirnya sekolah hari ini yang bagi posa hanya begini begini saja. Sekolah baginya hanya begini begini saja hanya ada pelajaran yang asik dan tidak.
"Ayo pos kumpul kebelakang udah ditungguin ni." Ucap trio selesai membaca doa pulang sembari memberitahukan kabar grup.
"Ayo gass." Jawab posa.
"Aku pulang dulu ya." Ucap maria saat berpisah dengan mereka bertiga.
"Iya mar hati hati." Ucap posa.
Tak lama maria masuk mobil, ada pesan masuk di handphonenya, ia mengira itu chat dari anak buah aziz, pisapun penasaran lalu ia mengeluarkan handphonnya. Ternyata ...
"Hati hati pos." Ucap maria melalui pesan whatsap.
Posa pun langsung senyum senyum sendiri dan sedikit bersemangat yang membuat trio dan econ heran.
"Kenapa lu ***?"
"Gak papa con." Ucap posa tenang.
Dihari ini tak tau besok masih bisa bertemu ibuk atau bertemu pencipta, tawuran bagiku masih menjadi momok untuk dihentikan namun aku sudah masuk lebih dalam, mau gimanapun harus aku selesaikan, tak ada yang tau nyawa kita kapan diambil, kita harus selalu terjaga saat malaikat menjemput dengan wajah yang berbeda beda.
"Ayo gass." Ucap posa penuh semangat supaya teman temanya percaya diri dan tak gemetaran.
Motorpun mulai melaju dari parkiran ketempat yang sudah gang posa dan aziz janjikan, teman posa berjalan beriringan, tanpa mengganggu pengguna jalan.
Tak lupa kami membeli sebotol kecil ciu untuk menenangkan diri, berbotolkan aqua, lalu diminum bergantian dijalanan.
***
Ibuk posa kembali menjajakan jualanya ditempat biasa yaitu malioboro, namun hari ini wajahnya dipenuhi kecemasan yang amat dalam.
"Pak jono bakal memberitahukan ke posa tidak ya, semoga saja tidak."
__ADS_1
"Kemana ya posa, jam segini belum berangkat keparkiran?" Ibu posa arap arap cemas, ia baru sadar kalo waktu sudah sore dan tak ada tanda tanda keberadaan posa.
"Bu aku nitip dagangan sebentar ya."
"Iya bu isna." Jawab teman se paguyuban dengan ibu posa.
Ibu posapun berjalan setengah lari menuju parkiran untuk memastikan apakah posa disana. ternyata tak ada batang hidungnya.
"Bu." Panggil pak jono saat ibu posa baru datang.
"Pak jono, coba chat posa ia sedang dimana." Ucap ibu posa dengan nada berbenturan dengan napas yang tersenggal senggal.
"Baik bu, duduk dulu sini bu.".
"Poss, kamu dimana?, dicariin ibukmu."
Dikirimlah pesan ke posa melalui whatsap, tak ada jawaban selama beberapa menit, lalu pak jono langsung meneleponya, sama saja tak ada tanda tanda
"Kamu dimana nak." Ucap ibu posa lirih namun terdengar sampai telinga pak jono.
"Sudah ndak papa bu." Ucap pria sedikit tua dan bertato di lengan bagian kanannya.
Akhir akhir ini ibu posa sering merasakan khwatir yang berlebihan karna rasa sayang takut kehilangan melebihi sisapapun didunia ini. Kakeknya memaksa memboyong posa untuk dijadikan penerus kerajaan bisnisnya, istri kedua dari ayah posa ternyata tak memiliki keturunan sampai sekarang yang membuat kakek pisa mengharapkanya.
***
Taunting pun tidak terelakan, dari jauh terlihat gang aziz sedikit lebih ramai dibandingkan gang sekolahku, smk memang tak bisa jauh dari pertempuran, entah siapa yang menciptakanya tapi bagiku penciptanya jika mengetahui banyak korban muda yang berguguran ia akan dihantui rasa bersalah seumur hidupnya.
Seperti biasa posa dibarisan terdepan, diikuti temanya dibelakang berbaris sedikit beracak acakan.
"Kuat kan wani kalian ..." teriak posa.
"Woi anj***, maju lo." Taunting gang aziz, yang sedikitnya tak membuat gentar gang posa.
"Ayo." Ucap posa lirih dibarengi dengan lari lari kecil sembari mengayun ngayunkan sajam.
Benturan tak terelakan, semua keahlian yang dimiliki dikeluarkan, sekali salah langkah bisa menjadi petaka. Kali ini posa tak mencari aziz melainkan mencari bingka, anak dari bu toni.
***
"Sudah ndak papa bu, mungkin posa masih nongrkong bareng teman temannya." Ucap pak jono.
"Iya pak, aku akhri akhri ini sering khwatir sebab kakek posa masih terus menerus ingin bertemu posa.
__ADS_1
"Saya yakin posa tak akan mau meninggalkan ibunya demi seorang yang datang datang mau memintanya, dan tak posa kenali.
"Iya pak." Ucap ibu posa memandangi wajah pak jono.
"oh iya sebentar bu, saya kabarin temenku yang rumahnya deket gudang yang biasa dipake anak smk tawuran ya, kali posa masih disana.
"Baik pak." Ucap ibu posa.
Posa sudah tak dimarahin lagi jika bentrok, ibunya sudah terlalu sering memperingatkanya, tapi tak ada perubahan sama sekali.
"Disana ada anak smk gak jon." Telpon pak jono kepada temanya yang jaga parkir tak jauh dari gudang tersebut.
"Ada jon, masih tawuran mereka."
"Smk mana?"
"Gak tau aku jon gak terlalu paham."
"Okke okke suwun." Ucap pak jono sekaligus kenutup pembicaraan.
"Bu posa masih tawuran keknya."
"YAALLAH lee." Ucap ibu posa dengan tatapan kosong.
"Ndak papa bu posa tu jagoan." Pak jono kembali menguatkan bu isna.
"Ya sudah pak aku tak kembali ke tempat jualanku dulu."
"Iya bu, sudah tak usah dihiraukan tentang posa."
Walaupun perkataan pak jono gak mungkin bisa menutupi kecemasan bu isna, tapi ia sudah berusaha untuk membuat bu isna tenang.
Bu isna pun lalu pergi dengan meninggalkan senyum.
***
"Ya tuhan semoga tidak terjadi apa apa dengan posa." Maria selipkan doa untuk posa di atas sajadah.
Setelah maria mengumandangkan sholat ashar ia langsung cepat cepat berganti pakaian dan menuju kemalioboro untuk mencari keramaian, hatinya di penuhi rasa sedih, kenangan kenangan tentang ia dan ashr masih saja mengayun ngayun dikepala yang membuatnya jengkel dan mood tak beraturan. Dia melewati tempat posa biasa mengayuh rezeki, disitu hanya terlihat pak jono yang sedang berdiri sembari menghisap rokoknya.
"Belum pulang ternyata." Ucap maria pada dirinya sendiri saat melewati tempat posa memarkir.
Maria pun memarkirkan motornya tak jauh dari situ, ia duduk dikursi kursi maliobor sembari memandangi seorang wanita yang wajahnya mirip dengan wajah posa.
__ADS_1