Simiskin Dan Wanita Kaya

Simiskin Dan Wanita Kaya
Putri


__ADS_3

"Mana ada cewek yang mau ama orang dekil ni jaga parkir lagi, hehehe."


"Husst gak boleh gitu poss, pasti ada ada." Ucap maria.


"Sebenernya gua mulai tertarik ama lu poss, tapi gak mungkin gua sebagai cewek ngungkapin duluan." Ucap maria sembari memandangi foto digalery posa.


"Mar lu diliatin michael terus tu."


"Ah biarin dah, nanti gua kesana biar dia ndak curiga."


"Wah kacau emang lu mah." Ucap posa singkat.


Posa dan maria lama memandangi murid murid seleksi untuk lomba bergengsi tahunan antar sekolah. Bercanda, tertawa dan bercerita menjadi ajang keluarnya semua kata, namun posa masih bisa menahan kata kata yang ia ingin ucapkan dengan rasa sadar diri.


"Sana samperin dulu michael." Ucap posa sembari tersenyum ke maria.


Posa tahu ia berat mengucapkan kata itu, sebab maria akan pergi dan ia akan kesepian kembali, ia ingin lebih berlama lama denganya, ia tak mau karenanya maria tak boleh keluar malam malam oleh ibunya.


"Okke pos, gua kesana dulu ya." Ucap maria sembari memberi kiss bay ke posa. Posa hanya membalasnya dengan acungan jempol ala bapak bapak.


Posa hanya tersenyum dan melihatti maria dari belakang sembari berucap "cantik sekali kau mar!"


Terlihat dari kejauhan michael tampak sedikit gembira terlihat dari raut wajahnya, sebaliknya dengan posa, ia murung, ia gundah, sesekali ia memandangi maria dan michael yang sedang bercanda tak jauh dari tempatnya duduk, sampai ia bosan dan kembali kekelas.


"Ah kayaknya lebih baik gua masuk kelas terus tidur dah." Ucap posa kepada dirinya sendiri.


Posa merebahkan badanya ditempat biasanya ia tidur diwaktu jam kosong, tak lama ia terlelap.


***

__ADS_1


"Bu, posa udah mendingan?" Tanya pak jono.


"Alhamdulillah sudah pak, ia sudah berangkat sekolah hari ini."


"Baguslh kalo gitu, yaudah bu tak keparkiran dulu."


"Tumben kesiangan pak." Ucap bu isna saat pak jono mulai beranjak dari tempat duduknya.


"Ia bu, semalem tidur kemalaman saya."


"Oh yaudah pak hati hati."


"Baik bu."


Bu isna kembali mulai menjajakan daganganya sembari melihatti orang berlewatan disekitaran malioboro.


"Bu pesen satu porsi ya!" Ucap seorang wanita menggunakan almamater kampus.


"Kuliah dimana nak?" Ucap ibu posa disela sela ia menyiapkan pesanan wanita tersebut.


"Di ugm bu." Ucap wanita tersebut sembari tersenyum.


"Ambil jurusan apa?"


"Arsitektur bu?"


"Ini ndak kuliah kok jalan jalan dimalioboro?" Sesekali bu isna memandangi wajah wanita tersebut yang sedikit murung.


"Tidak bu, aku lagi ndak enak hati!"

__ADS_1


"Hayuuuh cewek cantik secantik kamu kok ndak enak hati."


"Hehehe." Wanita tersebut tertawa.


"Oh iya nama kamu siapa nak?"


"Putri bu..."


"Oh nak putri, ada masalah apa memang kok sampai ndak mau masuk kuliah."


"Ada bu, masalah rumah!"


"Oh yang sabar ya nak putri, hidup kadang begitu, bercandanya kelewatan." Ucap bu isna dengan nada lembut.


"Hihi iya bu." Ucap putri dengan wajah senyum terpaksa lalu terlihat ia menyeka air matanya.


"Udah nak, ndak papa, semua akan baik baik saja kok!" Ucap bu isna menenangkanya.


"Aamiin bu, eeee..., saya boleh membagikan kisah yang saya alami bu?"


"Silahkan nak jika itu bisa membuatmu lega." Ucap bu isna dengan nada mempersilahkan.


"Mamah dan ayah saya mau bercerai bu, gara gara ibu saya selingkuh dengan teman kerjanya, saya tak habis pikir bu jika mamah saya sampai melakukan hal seperti itu, walaupun akhir akhir ini ia sering keluar dan pulang menjelang subuh."


Bu isna langsung beranjak dari tempat duduknya dan langsung duduk disamping putri sembari mengelus kepala lalu berucap "Ayahmu dimana?"


"Ayah sedang pergi keluar kota bu waktu itu, dan saat ayah pulang ia mendapat kabar dari temanya jika ibu saya sedang berduaan dihotel dengan seorang lelaki, saya langsung diajak ayah saya tuk menggerebeknya, dan ternyata itu benar mamah saya bu, saya tak bisa berucap apapun bu, badan saya terasa gemeteran sekujur tubuh waktu itu, sampai sekarang juga bayang bayang itu masih menghantui saya bu yang membuat saya seperti ini." Putri tak kuasa berucap lagi hanya air mata yang ia keluarkan.


Bu isna hanya diam sembari memeluknya ditengah tengah keramaian pagi menjelang siang dimalioboro, bagi bu isna ini bukan tentang malau tapi tentang seorang wanita yang bisa saja berpikiran tuk menghilangkan nyawanya sendiri kalau tak ada satu orang pun yang mendengarkanya.

__ADS_1


Author akan rajin update insyaAllah Tunggu episode selanjutnya ya🙏


__ADS_2