Simiskin Dan Wanita Kaya

Simiskin Dan Wanita Kaya
Haru campur bahagia


__ADS_3

"Motor baru nih."


"Heheh." Aku menjawabnya sembari tersenyum lalu "enggak mari, minjem ini."


"Ah jangan bohong dah lu."


Lalu posa jawab dengan senyuman sembari berucap "tau dari mana?"


"Tadi gua tanya econ, setelah lu bilang ada urusan." Jawab maria.


"Wah kepo ternyata ya ges ya." Ucap posa sembari mengongkel motor tuanya ini.


"Ayo udah jalan." Seru maria.


"Buka dulu sharelock kan lu, daripada kita muter muter kek kemaren." Ucap posa.


Posa berkata kebohongan, ia suka jika berlama lama dengan maria, tapi ia tahu tak pantaslah ia bersanding dengan wanita cantik nan kaya ini.


"Udah jalan aja dulu." Jawab maria sembari menaiki motor tua ini.


Mereka pun mulai keluar dari gang gang sempit sekitaran rumah maria menuju jalan besar.


"Kakilu jangan ngakang gitu mar, sini taro didepan." Saut posa dibarengi dengan bisingan motor di jalanan.

__ADS_1


"Okke posa, wajar aku tidak pernah naik motor vespa." Jawab mari sembari membenahi kakinya.


Kulit kaki maria mulus bak ratu elionor tak ada bekas luka satu pun, rambut terurai dengan menggendong tas sepatu adidas, berbeda dengan kulit kaki posa yang lusuh dengan debu air dan apalah itu berbau aspal rambut acak acakan sembari menggendong tas sepatu spech itupun KW.


"Sepatu lu bagus keknya mar." Ucap posa berbasa basi supaya tak diam diam saja.


"Halah cuman adidas aja pos."


Jiwa miskin posa bergetar saat maria mengucap cuman adidas, sepatu yang posa sudah inginkan sejak lama dan belum tersampaikan.


"Bagu tu adidas, aku ingin punya juga, tapi susah banyak kebutuhan yang harus dipenuhi dulu." Ucap posa dengan nada renyah.


"KW ini poss, ayahku yang membelikanya."


Maria pun kembali melamun , tak ada semangat dalam dirinya hari ini, berbeda dari hari hari sebelumnya, posa pun baru ngeh saat melihat kelopak mata maria ada sesuatu yang menonjol bekas menangis.


"Mata lu kenapa mar, habis nangis lu ya." Ucap posa


Maria pun diam sejenak sembari mengusap usap matanya.


"Enggak kenapa napa poss, aman" maria masih menutu nutupinya, dan kembali posa melihat spion kali ini dengan tatapan serius.


"Cerita aja mar kalo ada yang mau diceritain, biar lu lega."

__ADS_1


Tiba tiba....


"Cowok gua ngajak putus poss!"


"Cowoklu yang dilampung itu mar?" Posa balik bertanya.


"Iya poss, tiba tiba minta putus, emang semenjak aku disini ia sudah berubah pos." Maria berhenti berucap. "Tapi gak papa memang ia suka carper didepan cewek, aku dikasih tau teman kelasku sewaktus dilampung kalo ia sering jalan dengan wanita lain, tapi bodohnya aku gak percaya dengan omongan temanku."


"Emang lelaki bangsat kalo kayak gitu mar, gak pantas kamu pertahanin lagi, kasian kamunya." Ucap posa berharap ucapanya bisa mewakili perasaan maria.


"Mar, lu itu cantik, kaya, humbel lagi, sapa coba lelaki yang gak mau sama lu, dari pada lu larut dikesedihan lu mending lu lakuin hal hal yang buat lu senang." Sambung posa.


"Iya poss, bener kata kata lu, tapi kenangan kenanganya masih terngiang ngiang pos." Ucap maria dengan nada emosional.


"Udah mar, semua luka pasti menyisakkan bekas, terus gimana cara lo cepat menyembuhkan luka tersebut supaya lo gak larut dalam kesakitan."


Maria pun terdiam cukup lama, sembari menunjukan arah arah yang harus kita lalui untuk menuju lapangan futsal.


"Bener kata lu poss, gua gak bisa larut terus dalam kesedihan ini terus."


"Udah jangan nangis lagi, malu ah udah gede, ambil bandana gua ni disaku belakang buat ngusap air mata lu, kalo lu diusap di kaos kotor nanti, apalagi kaos putih." Ucap posa


"Makasih poss."

__ADS_1


Kamipun sampai ditempat lapangan futsal, dan posapun sering juga bermain dilapangan ini.


__ADS_2