
Maria langsung merangkul ibu posa yang terlihat lemas "duduk dulu bu." Ucap maria lirih.
Lengan maria terasa seperti basah sebab air mata ibu posa, ia bingung, ia harus bersikap gimana.
"Sedangkan ibu hanya memiliki tabungan 4 juta saja." Ucap ibu posa dengan nada sedikit lemas. "Kalau pembayaranya tidak segera diurus posa belum bisa dioperasi." Sambung ibu posa.
"Ayo bu kita tanyakan dulu ke loket, berapa biaya yang harus dibayar?"
Berjalanlah mereka menuju loket rumah sakit. "Dok berapa pembayaran atas nama posa?"
"Bentar ya bu saya cek dulu." "Oh iya ada ktp atau tanda pengenal gitu gak bu?"
"Ada dok." Ucap ibu posa sembari mengeluarkan kartu tanda siswa."ini dok."
Mereka berdua menunggu berapa biaya yang akan mereka bayar untuk operasi posa.
"Ini bu slipnya." Ucap penjaga kasir sembari menyodorkan slip pembayaran.
"Astaghfirullah." Ibu posa kembali lemas, namun ia tetap tegar berdiri, walaupun badanya gemetar melihat berapa yang harus beliau bayar. "Berapa bu?" Tanya maria.
"Ini nak maria, liat sendiri!" Ucap ibu posa.
Tertulis dislip tersebut "70 juta." Dan dijelaskan juga secara rinci apa saja yang akan dilakukan perawatan ke posa.
"Baik dok, kalau bayarnya nyicil bisa ndak dok?" Tanya maria.
"Bisa dek, kira kira mau nyicil berapa dulu?" Tanya dokter kembali.
"4 juta dulu dok." Jawab maria, sembari melihatti ibu posa dengan tatapan iba.
"Baik dek, saya urus dulu pembayaranya ya." Ucap dokter sembari duduk dan mengecek komputernya kembali. Tak lama "boleh saya terima uangnya?"
Ibu posa langsung merogoh tas yang biasa dibawa saat bekerja, langsung ia keluarkan uang yang nominalnya bercampur campur, ada juga uang 500 perak kan. Uang koin sampai terjatuh dan tercecer sebab ibu posa mulai kelelahan, maria langsung sigap mengambilnya, banyak energi yang sudah ibu posa keluarkan hari ini, melihat anaknya koma membuat semua energi yang ia miliki terkikis.
"Sini bu saya bantu hitung." Ucap maria. Ibu posapun langsung memberikan sebagian uang yang ia pegang kemaria, butuh waktu sedikit lama untuk menghitung keseluruhan uang tersebut sampai sampai dokter penjaga kasir pun ikut membantunya.
__ADS_1
"Ini dok pas 4 juta." Ucap pelan ibu posa yang sudah mulai kehabisan energi.
Maria menyadarinya "duduk dulu aja bu, nanti sisanya biar diurus dokter." Muka tua ibu posa sangat membuat iba bagi siapa saja yang memandangnya, maria menyadari betapa hangatnya keluarga posa, walaupun tak begitu berlimpah harta."mau kemana lagi bu?" Ucap maria saat ibu posa mulai berdiri.
"Apakah anak saya bisa dioperasi sekarang dok."
"Bisa bu, nanti ada dokter yang mimpin operasi mengabari ibu kapan dilaksanakanya operasi."
"Baik dok." Ucap singkat ibu posa, ibu posa pun mulai duduk kembali disamping maria, dan mulai mengadangkan mukanya ke atap sembari berdoa tentang keselamatan posa.
"Udah gak papa bu, posa kuat kok orangnya pasti dia berjuang di titik terendahnya." Ucap maria menenangkan.
Sedari tadi maria tak sempat untuk membuka handphone, ia sadar pasti bi izzah dan mamahnya sedang mencarinya jam segini belum pulang, hingga tak lama ada telepon masuk dihandphonya. Maria kira itu ibunya ternyata econ meneleponya untuk menanyakn keadaan posa, maria pun menjauh dari ibuk posa untuk mengangkat telepon tersebut.
"Hallo mar." Ucap econ saat maria mengangkat teleponya. "Gimana posa?" Sambung econ saat maria menjawab dengan kata 'iya con.'
"Posa kehabisan banyak darah dan kata dokter ada luka didalam yang harus dioperasi untuk dijahit." Ucap maria.
Econ pun terdiam saat mendengar perkataan maria tentang keadaan posa.
Tak lama handphone maria berdering kembali.
"Hallo non." Ucap seorang wanita saat maria mengangkat teleponya.
"Iya bi izzah."
"Non maria dimana, dicariin mamah!"
"Aku dirumah sakit bi."
"Non kenapa ...!"
"Aku tak apa bi, teman sekelasku ada yang kena luka bacok habis tawuran tadi dan tak ada yang menungguinya dirumah sakit." Maria tak bilang kalau yang kena bacok itu posa, pasti nanti ia akan di suruh pulang kerumah oleh mamahnya saat mamahnya mengetahuinya, dan biasanya mamahnya bertanya ke bi izzah dulu.
"Oh iya non, jangan pulang terlalu larut ya, bahaya!"
__ADS_1
"Baik bi." Maria pun langsung menutup ponselnya dan kembali duduk disamping ibu posa.
Waktu tak terasa sudah menunjukan pukul 10 malam, dokter belum memberi kabar sampai ibu posa tertidur di pundak maria sebab kelalahan, maria pun langsung memposisikan dirinya lalu ia taruh kepala dan badan ibu posa di kursi rumah sakit.
"Mar." Ucap econ tiba tiba, econ datang bersama marley dan firman untuk bergantian menemani posa dan ibuknya.
"Hallo con." "Gan_." Belum selesai maria mengatakanya econ langsung memotong perkataan maria "iya sudah cepet pulang dulu kau, sudah malam ini, istirahat, biar kita bertiga nanti yang jaga." Econ tau maria tampak mengantuk sebab matanya sudah mulai tenggelam.
"Okke con, aku pulang dulu ya." Ucap maria sembari membereskan barang barangnya, lalu berpamitan dengan mereka bertiga. "Aku titip posa sama bu isna."
"Iya sudah aman."
Akhirnya mereka bertiga yang berjaga dirumah sakit, mereka sudah membawa bekal dari rumah seperti kopi roti dan makanan untuk ibu posa. Itulah yang membuat bu isna menyukai teman teman posa walaupun mereka nakal tapi mereka mempunyai jiwa kasih yang tinggi, sebab teman teman posa ada yang ekonominya sama dengan posa dan ada juga yang keluarganya berantakan.
Econ masih terpaku di handphonya sembari menunggu firman dan marley datang sampai ia tersadar sebab bu isna memanggilnya "Nak econ ..." ucap ibu posa yang tersadar dari tidurnya.
"Iya bu."
"Nak econ datang kapan?" Ibu posa langsung mendudukan badanya.
"Tadi bu jam jam 10 an." Ucap econ sopan.
"Sendirian?"
"Tidak bu tadi sama marley sama firman, mereka masih diangkringan membeli kopi." Bawaan econ ketika mengobrol dengan orang tua ia akan lebih banyak tersenyum. "oh ini bu, tadi ibu membawakan nasi buat bu isna." Ia mengeluarkan tupperware yang berisikan bekal untuk makan ibu posa.
"YAALLAH ... makasih ya nak econ bilangin keibukmu makasih." Ucap bu isna sembari menerima makanan dari econ.
"Iya bu, ibu cepat makan dulu baru nanti tidur lagi." Itulah perhatian yang posa bangun ditongkronganya. Walaupun ia tahu teman temanya begundal semua tapi ia selipkan sedikit tentang kasih sayang kepada yang lebih tua.
Bu isna pun langsung membuka makanan tersebut dan mulai memakanya. "Enak con masakan ibukmu." Econ hanya menjawabnya dengan tersenyum.
Bu isna tampak lahap memakan makanan yang diberi econ. "Posa belum ada perkembangan bu?" Tanya econ disela sela ibu posa makan.
"Belum nak econ." Ucap bu isna sembari berusaha menelan makananya. Tak lama marley dan firman datang dengan membawa kopi dan cemilan. "Kalian udah pada makan belum?"
__ADS_1
"Udah bu tadi dirumah."