
"Boleh kucoba dulu bro." Akupun tak mau berlama lama untuk segera menaiki motor ini.
Akupun segera membawanya keluar gerbang lalu kuengkol motor tua ini, dan mungkin akan segera jadi miliku.
Kagok, ya pasti, baru beberapa kali aku menakki motor vespa. Bahagia, sudah pasti, siapa yang tidak bahagia jika sesuatu yang diimpikan menjadi kenyataan.
Tak ada hentinya hatiku bersyukur kepada khaliqnya atas apa yang sudah aku doakan tiga tahun lalu sampai hari ini, tersenyum senyum bak seorang raja mempunyai anak lelaki.
"Gimana?" Tanya teman padil.
"Enak bro, berapa jadinya bro?"
Aku langsung to the point saja, sebab sangat sesuai yang aku minta dan nyaman saat digunakan.
"5.600.000 saja bro." Jawabnya.
"Okke bro, deal." Teman padil pun tersenyum aku juga ikut tersenyum atas transaksi ini.
Kami bertigapun menuju keruang tamu lagi untuk berbincang bincang sebentar dan menyerahkan surat surat motornya.
"Dihabisin minumnya, biar kuambilkan surat suratnya dulu." Ucap teman padil.
"Gimana poss?" Tanya padil.
"Top dil." Kuacungkan jari jempol sembari tersenyum.
"Mantap lah, kalo gini kan enak kalo kita mau nyerang lu udah ada motor, langsung cari cewek gak nih."
"Ah bisa bae lu dil, markir dulu aja yang penting mah."
Walaupun aku sudah bahagia, tapi itu hanya kebahagiaan kecil dibandingkan menaikan haji ibukku, yang sudah ia impikan sejak aku smp dulu.
"Ini bro surat suratnya, bisa dibaca dulu."
__ADS_1
"Tak baca dulu ya bro."
Kubaca dari tangan pemilik pertama, nomor mesin, sampai nomor kerangkanya.
"Okelah." Ucapku sembari mengambil uang yang berada didalam wasbag ku.
"Ini bro coba dihitung dulu."
Teman padilpun mulai menghitung uang yang aku berikan tadi.
Oh iya sebelum aku beranjak transaksi, uangku aku tukarkan diindomaret dahulu, sebab banyak uang koin dan uang recehhan yang jika aku bawa, dompetku tidak muat rasanya sampai sampai aku menggunakan plastik untuk membawanya.
"Pas bro."
Padilpun kembali berbincang bincang lagi dengan temanya, dan terkuak kalo temanya sekolah di smk seni. pantas saja didalam rumahnya banyak sekali lukisan dan patung patung buatan, dan untungnya smk seni dengan smk ku akur dan tak ada perselisihan sedikitpun.
Waktu menunjukan pukul setengah 5 sore, tak kerasa sebab ini hari bahagia, ku kode padil untuk segera beranjak sebab aku harus menyiapkan sepatu futsalku yang jika aku main bermain pasti ku lem dahulu agar tidak terlihat menganga.
Tak lama padilpun berpamitan. "Bro aku pulang dulu ya, udah sore ini."
"Okke dil, makasih lo ini bro." Jawab temanya.
Kamipun berpamitan dan segera beranjak pergi.
"Poss, mau mampir tongkrongan dulu ndak?"
"Boleh dil."
Kamipun segera ngacir menuju warung ibu sri, warung tempat biasa temanku menongkrong.
*******
"Poss jangan lupa ya." Sembari kufotokan sepatu futsal.
__ADS_1
"Kemana anak ini, tumben tumbenya tidak menjaga parkiran."
"Con."
"Iya mar."
"Posa kemana tumben gak jaga parkiran."
"Mau lihat lihat motor katanya mar."
"Oh oke oke con."
"Kruuuk." Perutku berbunyi.
Akupun segera menuju ke meja makan lalu kubuka dandang dan tak ada isi sama sekali didalamnya.
"Bu, bu ...." kupanggil bu izzah dan tak ada tanda sautan sama sekali.
Lalu kutanyakn pada pak satpam, "pak bu izzah kemana ya?"
"Bu izzah masih pulang kerumah non, anaknya sakit."
"Oalah oke oke pak."
Akupun segera membuka shoope food dan memesan mie gacoan untuk mengisi perutku supaya tak berbunyi lagi.
"Yangg."
"Apa yang, tumben ngechat?" Jawabku sinis sebab sudah beberapa hari ini ia tak mengabariku.
"Gak papa yangg, putus aja ya kita kayaknya udah gak bisa bareng lagi."
Hatiku kacau, suram, dan geram, tapi tak apa memang ini yang aku inginkan. Aku sudah lama mengetahui pacarku di lampung selingkuh.
__ADS_1