
Bu isna tampak lahap memakan makanan yang diberi econ. "Posa belum ada perkembangan bu?" Tanya econ disela sela ibu posa makan.
"Belum nak econ." Ucap bu isna sembari berusaha menelan makananya. Tak lama marley dan firman datang dengan membawa kopi dan cemilan. "Kalian udah pada makan belum?"
"Udah bu tadi dirumah."
Marley dan firman langsung memposisikan duduk "gelar tikar aja po bu?" Ucap firman. "Kamu bawa tikar nak firman?" Tanya ibu posa.
"Bawa bu, itu ada tak taruh dimotor."
"Ya sudah gelar tikar aja nak firman, biar lesehan aja, lebih enak."
Firman langsung mengambil tikar yang ia taruh dimotornya "mau duduk dimana bu?" Ucapnya saat sudah kembali dengan menenteng tikar.
"Duduk depan ruang icu aja man." Jawab ibu isna.
"Okke bu."
Akhirnya mereka berpindah tempat didepan ruang icu sembari menunggu dokter mengabarkan kapan dilaksanakanya operasi. Saat akan berjalan bu isna melihat mobil aplhard hitam seperti mengintainya dari jalan, namun tak ibu isna hiraukan.
Dokter dari tadi masih belum ada yang keluar sama sekali dari ruangan posa, apa yang mereka lakukan pun tak tampak dari luar ruangan sebab kaca yang buram.
Perbincangan pun kembali dimulai dengan hangat sampai "kreek." Mereka semua melihat arah pintu yang terbuka dengan arap arap dokter inti memberitahukan schedule operasi. "Ibu ..., ibuknya posa?" Arap arap mereka benar dijam 12 an malam dokter memberitahukan schedule tentang perawatan dan operasi posa.
"Iya dok."
"Posa akan dioperasi besok pagi jam 10 bu, besok diperbolehkan satu orang untuk membantu tim operasi agar posa terbantu dalam segi batin, di sarankan ibu sendiri."
"Baik dok, terima kasih pemberitahunya, kita boleh melihat posa ndak dok."
"Boleh bu, sementara waktu nanti posa dipindahkan diruang rawat inap supaya ibu dan teman teman bisa melihatnya." Ucap dokter ramah, kata katanya sangat tersusun menandakan betapa pendidikanya dokter ini.
Tak berselang lama dokter masuk, ada beberapa suster keluar membawa posa yang ditaruh di kasur pasien lalu didorong menuju ruang rawat inap.
"Mari bu ikut kami menuju ruang sementara." Ucap salah satu suster yang mendorong kasur posa.
"Baik sus." Ibu posa langsung berdiri dan mengikutinya menuju ruangan sementara.
Econ, firman dan marley langsung membereskan barang barang mereka lalu mengikuti ibu posa.
Saat sampai diruangan sementara ibu posa langsung duduk di samping kasur dan sesekali menciummi kening posa, betapa ia sangat menyayangi anaknya melebihi yang lainnya, sampai ia terlelap dalam mimpi dalam keadaan duduk dengan keadaan sedang mencium tangan anaknya.
__ADS_1
"Con, man, gua tidur dulu ya ngantuk bener." Ucap marley sembari merebahkan badanya.
"Iya udah cepet tidur nanti gantian." Jawab econ.
Mereka yang awalnya membuat jadwal jaga, namun pada akhirnya semua tertidur pulas sampai pagi dihari selasa menyongsong.
"Assalamualaikum." Ucap maria sembari masuk keruangan sementara posa.
"Waalaikum salam." Ucap ibu posa yang sudah bangun sedari subuh tadi. "Oh pagi pagi kok sudah kesini nak maria."
"Iya bu sekalian berangkat sekolah aku, tak mampir dulu... oh ini ada sarapan buat ibu econ marley sama firman."
"terima kasih nak maria." Ucap ibu posa.
"Iya bu sama sama, eee posa di operasi jam berapa bu jadinya?"
"Nanti jam 10 kata dokter."
"Semoga lancar bu."
"Aamiin." "Duduk sini nak maria, ibu mau membangunkan mereka dulu." Maria langsung duduk di tempat ibu posa tertidur semalam. Ia pandangi wajah teman pertamanya diyogya.
"Con, mar, man bangun ..., sudah pagi." Ucap ibu posa sembari menepuk mereka satu persatu. "Ayok makan dulu, dibawain maria sarapan ini."
"Iya bu, cuci muka dulu." Ucap econ sembari berjalan menuju toilet.
Bu isna econ, firman, marley langsung memakan sarapan yang diberikan maria. setelah makan mereka bertiga langsung pulang menuju rumah untuk bersiap siap berangkat sekolah. "Semoga operasi posa lancar bu, nanti aku setelah sekolah kesini lagi." Ucap econ ketika mau beranjak pulang.
"Iya nak econ, makasih ya marley, econ firman."
Mereka menjawabnya dengan senyuman ramah tak terbayarkan.
"Bu aku pamit sekolah dulu ya sudah jam setengah 7." Ucap maria.
"Baik nak maria." "Nanti ijinkan posa ya." Sambung bu isna.
Suasana diruang ICU kembali sepi tersisa bu isna dan posa yang masih belum tersadar dengan keadaan hidung diberi oksigen bantuan.
Sebelum jam 10 pagi bu isna mengambil wudhu dan sholat sunah dua rokaat dengan tujuan supaya operasi posa berjalan dengan lancar, ia bermunajat kepada tuhan dengan penghambaan yang sangat ashor, ia meminta pertolongan, karna nyawa hanya tuhan lah yang mengetahuinya.
Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 10.00 datang 4 suster sembari memberi apbn ke bu posa untuk dipakai agar ruangan operasi tetap steril. "Bu ini sudah jam 10, waktu operasi sebentar lagi, ibu diharapkan mendampingi pasien untuk membantu menjaga kesadaranya." Ucap suster sembari membawa posa menuju ruang operasi.
__ADS_1
"Baik sus, untuk ruang operasinya dimana ya?" Tanya bu isna.
Suster langsung menunjukan ruangan operasi yang akan ditempati posa. "Makasih sus."
Bu isna berganti pakaian dan langsung berdiri disamping kepala posa. "Sudah siap bu." Ucap dokter inti operasi ini.
Jantung bu isna kembali tak karuan, sebentar lagi menjadi penentu apakah ia masih bisa melihat posa kembali atau hanya kenangan saja. Ia awali dengan BISMILLAH "bisa dok." Dokter yang lain langsung bersiap siap dengan jobdesk masing masing.
***
Suasana kelas bagi maria tak asik ketika posa tak ada disampingnya, Semua berjalan begitu saja, ia tanpa sadar mulai sedikit menyukai posa, terbukti ketika dikelas tak ada dirinya.
Semua pelajaran sudah maria atau econ ijinkan untuk posa, saat waktu istirahat, arhan sebagai ketua kelas tak ada sedikit pun mengajak yang lainya untuk menjenguk posa. Dan econ tak begitu menghiraukanya sebab posa tidak senang jika teman teman sekelasnya menjenguknya.
***
"Berapa jadinya biaya operasi posa sus?" Tanya seseorang kakek kakek berpakain rapih.
"Anda siapanya?" Suster tanya balik.
"Tidak penting juga saya siapanya, saya hanya ingin membayar kekuranganya saja."
"Baik pak, tunggu sebentar."
Suster penjaga loket pembayaran langsung mengecek pembayaran pasien atas nama posa "semuanya 70 juta pak, tapi kemaren sudah dicicil 4 juta, jadinya masih kurang 66 juta pak."
"Apa saya boleh tau, itu pembayaran buat apa saja?"
"Pasien atas nama posa terkena sajam yang dalam di bagian perut kanan sehingga mengharuskan untuk dioperasi supaya bisa dijahit dan darahnya tidak bercucuran terus menerus pak."
Kakek tersebut langsung menghembus napas berat sembari berucap "anak ini tak jauh dari bapakknya."
"Ya sudah, boleh minta no rekening rumah sakit, saya tidak memegang uang cash."
"Boleh pak, ini di samping sini nomor rekeningnya." Ucap suster sembari menunjuk poster yang tertempel di kaca loket.
"Baik sebentar saya transfer dulu."
Bapak dengan badan sedikit kekar dan tinggi itu langsung membayarkan biaya operasi posa, dan berlalu pergi dengan meninggalkan perkataan "nanti kalau ditanya siap yang bayar suster bilang saja kakek kakek."
"Baik pak." Ucap suster sembari menganggukan kepalanya
__ADS_1
***
Operasi masih berjalan dengan lancar belum ada kendala suatu apapun, bu isna masih berdiri kokoh disamping anaknya sembari memegangi dahi yang keluar keringat terus menerus. Berdoa tak henti henti bu isna lantunkan, tuhan adalah sebaik baiknya tempat meminta pertolongan.