Simiskin Dan Wanita Kaya

Simiskin Dan Wanita Kaya
Parkiran 2


__ADS_3

"Ayah sudah meninggalkanku berdua dengan ibuku mar."


"Sudahlah pos, kita sudah dewasa, mungkin jika kau mempunyai ayah kau tak setegar dan sedewasa ini." Jawab maria.


Ashar mulai memanggil, keramaian penjual mulai berpacking packing untuk kembali kerumah masing masing, berkumpul bercengkrama dan memikirkan hari tuk esoknya, diriku masih dibawah matahari memandang kosong, dan terjaga, begitu susah menjadi anak muda, tak seperti temanku bayangkan sewaktu sekolah dasar dulu.


Mungkin disederatan malioboro hanya ibukku yang beranjak berdiri dari duduknya untuk pulang kerumah terakhir sendiri, ia pulang mendekati matahari tidur dan bulan terjaga.


"Sholat yuk." Ajakku ke maria.


"Aku sedang tidak sholat pos."


"Haid?"Tanyaku.


"Iya pos."


"Okke, kau tunggu sini, aku kemushola belakang bentar tak sholat"


"Okkke, tapi keknya langsung balek aja aku pos"


"Oh okke mar, besok besok lagi maen sini, ini minummu biar aku saja yang bayar, kau ambil gorengan ndak tadi?"


"Enggak pos."


"Okke mar"


"Kau naik apa baleknya?"

__ADS_1


"Masih nunggu dijemput poss"


"Tunggu gua selesai sholat mar, nanti gua anter sampe depan rumah."


"Okke pos, nanti kalau supirku belum sampai sampai tak sama kamu aja."


"Okke mar." Jawabku sembari berdiri.


Beranjak lah aku dari kursi diam berkenangan menuju rumah ketenangan, rumah yang di miliki siapa saja bagi yang merindukanya, hatiku terasa ada sesuatu gejolak yang entah orang awampun tidak mengetahuinya, aku tau maria sudah memiliki seorang priyayi, tapi entah semua itu bisa disangkal jiwaku bahwa aku bisa memilikinya, aku tak terlalu melepas otakku supaya tak ada ambis dala diriku, kulepas sepatu usangku, tak pernah kucuci, laju menuju ke keran saksi kebisuan betapa seringnya mereka menyentuh keimanan, kubasuh mulutku tanda sunah lalu hidungku kemudian mukaku dengan segala doa yang sudah nabi ajarkan kepada sahabatnya yang setia apapun resiko membelanya, lalu beranjak ke kedua tangan kuusap rambut kemudian dua telinga, lalu kubasuh kakiku tanda thoharoh pun selesai.


Begitu megah tempat ibadah ini, tak bernyawa namun bersuarakan aman dimana mana, kuhadapkan badan, dadaku, tanganku dan kakiku menghadap tempat yang ingin aku dan ibuku jarahi. ALLAHUAKBAR tanda dimulainya ibadah kepadanya, lalu ku mencoba untuk khusu namun tetap saja tak bisa sebab aku bukan wali ataupun orang sholeh pikiranku masih saja kemana mana.


Selesai ku beribadah kupasang sepatu usangku kemudian beranjak menuju tempat dimana wanita yang diam diam mulai kusuka menunggu, aku hanya sekedar suka dan tidak berambis.


"Belum sampe supirmu mar?"


"Yaudah ayo Pulang sama gua bae, gua tak bayar pesanan dulu."


"Ayo mar sudah."


"Ayo pos."


"Pak" kupanggil pak jono yang sedang bersantai bersama teman teman yang dari tampak seumuran denganya.


"Iyaa poss." Ia berteriak.


"Minjam motor."

__ADS_1


"Pake aja poss, tu motor gak ada kuncinya."


"Motornya butut tapi mar" tanyaku padanya.


"Gak papa pos kaya apa aja lu ini"


"Gak alergi kan, biasa naek alpahrd ini naek motor butut kepalanya gak kenceng lagi." Aku mencoba mencairkan suasana.


"Ahahahhaha ia tertawa lepas."


"Yaudah ayo cepat naek."


"Helm mu pakai dulu." Terlihat maria menggunakan helm namun tak teroasang pasang.


"Hehehe gak bisa make helm aku poss." Ia berkata sembari tertawa kecil.


"Astaga." Ucapku spontan sembari ketawa.


"Ini injakan kakinya dimana pos."


"Hahahha lucu bener liat orang kaya pertama kali naek motor, gak pernah naek motor beginian ya lu ini."


"Hehehe." Maria ketawa tipis yang membuatku ikut tersenyum juga.


Kuturunkan injakan kaki lalu langsung ku gas motor butut ini.


Dan tanpa kusadari maria lupa dengan alamat tempat tinggalnya yang akhirnya kita berputar putar tanpa tujuan.

__ADS_1


__ADS_2