Simiskin Dan Wanita Kaya

Simiskin Dan Wanita Kaya
tugas matematika


__ADS_3

Aku walaupun bodoh dalam beberapa pelajaran tapi aku pernah ikut les matematika dulu waktu sekolah menengah pertama, dan aku sedikit banyak bisa tentang pelajaran ini. Kuberi tahu untuk pembacaku, matematika fisika memang susah, tapi jika kau mengetahui alur jalannya dan mau menghapal rumusnya ku jamin kau akan paham walaupun hobi mu tidur di dalam kelas sama seperti ku.


"Yang mana soalnya mar?" tanyaku ke maria.


"Ini pos hal 23" jawabnya sembari menunjukan soal yang pak guru tadi berikan.


Langsung kubuka buku dan lks ku, kupandangi dulu, kulihat contoh soal soal sebelumnya lalu ku paskan mana yang sama dengan soal ini, sudah ketemu langsung ku kerjakan dengan segala hal yang aku pelajari dulu, ternyata mudah soalnya bagiku dan tak butuh waktu lama aku mengerjakan 5 soal tersebut sekitaran 25 menitan.


"Ini mar mau lihat ndak" tanyaku kepadanya.


"Kau sudah poss?" ia menunjukan muka kaget dan tak percaya.


"Ini sudah." Jawabku sedikit enteng sembari tersenyum senyum agar maria tak mempercayai jawabanku. "hahaa" tawaku dalam hati.


Dan seperti dugaanku maria hanya mengacuhkanya dan kembali menghadap soal yang sedang ia kerjakan.


"Poss." Seperti biasa ketika econ melihatku sudah tak mengerjakan apa apa ia akan memanggilku dan meminta jawaban atas soal tadi, dan bencinya ketika ujian nilai matematikaku tak pernah lebih bagus dari econ padahal jawabanya sama denganku dan ia tinggal menyalinya saja, jika pembacaku ada yang sepertiku tinggalkan komentar dibawah.


Lalu kuanggukan kepalaku menandakan tanda mendengar.


"Lihat aku." Sudah kuduga pasti econ akan meminta jawabanku dan tugasnya hanya menyalin atau menulis ulang.


Lalu kulemparkan bukuku ke econ yang duduknya tak terlalu jauh didepanku sembari menunggu econ menyalin jawabanya, aku mencuri curi pandang ke maria yang wajahnya begitu sejuk dipandang, terlihat ia terkadang kesusahan mengerjakanya.

__ADS_1


"ada yang bisa ku bantu, marr" tanyaku kepadanya, saat melihatnya kesusahan mengerjakan soal yang ketiga.


"Gak, poss, aku bisa sendiri kok." ia masih tidak percaya denganku dan kekeh mengerjakanya sendiri.


tak lama, "pos ikutan nyonto aku" trio memohon.


"Kerjakan saja." Jawabku.


"Ingin mencontoh punyaku tidak" tawarku lagi kemaria.


"Ah tidak poss, aku bisa sendiri."


"okke." Jawabku enteng sembari menaruh kepalaku dimeja ingin melanjutkan tidur lagi.


"Iya, maria, akhirnya mau juga lu, gayanya sok sok bisa ah" puasku sembari tersenyum renyah. "Nomor berapa?" Aku bertanya.


"Nomor 3 pos, dari tadi ndak bisa bisa aku" dia dengan nada memelas.


"Sebentar nunggu si trio."


"Oke" jawab maria.


Saat buku dikembalikan langsung ku berikan kemaria. "Ni" sembari menyodorkan buku kepadanya. "Cepat disalin sebelum pak guru masuk kelas" lanjutku.

__ADS_1


"oke posaa" jawabnya sembari tersenyum senyum.


Entah apa yang kurasakan. Melihat senyum maria sudah menjadi candu bagiku sekarang, dan hobiku sekarang memandanginya diam diam, ia bak putri dikerumunan wanita wanita dikelasku, dan ia masih menjadi pemenang ketenanganku kedua setelah ibu. Sesekali kulihati ia mengernyitkan keningnya tanda masih kurang percaya atas jawabanku atau kebingungan dengan tulisanku ya kayak cacing kepanasan.


"Kenapa mar, masih kurang percaya dengan jawabanku atau tulisanku tidak jelas?"


"Tidak tidak, jelas kok tulisanmu." Ia nampak kaget, terlihat dari raut wajahnya dan saat ia menengok kearahku.


"Sudah kerjakan saja, kalau tulisanku tidak jelas tanyakan saja padaku, untuk benar atau salahnya nanti kita liat saja."


Tadi sekilas aku melihat jawaban 1 2 4 dan 5 punya maria berbeda dengaku dan hanya nomor tiga saja yang sama.


Maria langsung kembali meneruskan menulis jawaban nomor tiga, masih saja tak bisa mukaku tidak melihat maria 2 detik saja, ia seperti memiliki magnet yang amat kuat, yang wanita wanita lain yang kutemui tidak memilikinya. Sesekali kulihat kearahnya ia nampak serius sekali mencontoh jawabanku, tanpa sadar orang disampinganya ini sesekali memandanginya dengan hati berdecak kagum.


"Ini poss, sudah."


"Okke mar, kita liat nanti ya siapa yang benar ya."


"Okke." jawab maria kepadaku.


Pak joko pun datang dengan raut wajah segar habis menghisap rokok dan meminum kopi.


"Okke anak anak siapa yang mau maju nomor satu?" pak guru menawarkan kepada murid untuk menuliskan jawaban nomor satu dipapan tulis, dan yang bisa biasanya akan ia kasih nilai lebih.

__ADS_1


__ADS_2