
Airmata isna tak terbendung lagi, berjatuhan di baju anaknya, bayi mungil itu hanya melihat melongo ia belum banyak tahu apa apa, sedikit ia memeperlihatkan muka kasihanya kepada wanita yang menggendongnya lalu diam dan tenang menyaksikan mata wanita yang mengendongnya sedikit sembab.
"Sudah tidak ada maaf mas bagi orang selingkuh." "Cepat tanda tangani surat i_" ucap isna sembari mengeluarkan pulpen. "sudahlah is maafkan aku." Alex masih belum berhenti memohon mohon.
"Cepat mas ..." Isna menaikkan sedikit nada suaranya."
"Baiklah jika maumu seperti itu dek." ucap alex sembari menanda tangani surat perceraian tersebut.
"Ayo nak kita pergi." Ucap isna sembari berjalan ke luar rumah. Wajahnya ia tahan supaya tak melihat kebelakang, kenangan kenangan bersama alex selalu saja terngiang sampai sesekali menyeka air matanya yang mau jatuh, setelah itu isna pulang kerumah orang tuanya berbasa basi sebentar, membeaaa barang barang yang ia butuhkan lalu pergi dengan membawa beberapa uang yang ada dalam tabunganya. Kota yang ia tuju adalah yogyakarta, dan isna menetap disitu sampai bayi kecil mungil tadi sudah beranjak dewasa.
***
Tawuran masih berlangsung, barisan sudah tak beraturan lagi, teman temanku mengayunkan sajamnya sesekali dua kali.
"Itu anak buk toni!!" Lirih posa sembari berjalan keaeah bingka, posa masih menahan beberapa tangkisan yang diberikan musuhnya.
Posa tekan terus anak buk toni, dia mencari ruang yang bebas bergerak, sajamnya tak digerakkkan sama sekali, ia hanya menghindar hindar, ia tak mau buk toni menjadi sedih kalau anaknya terkena sabetan sajam, sebegitunya ia mencintai orang orang disekitarnya tanpa memikirkan dirinnya sendiri.
Bingka masih saja menyerang posa, ia bersemangat sekali seperti orang kelaparan akan darah, aziz sidah merengsek baju ke dalam gangku. "Arghh." Sabetan sajam mendarat di bagian lengan posa, di susul sabetan sabetan yang lainya sampai membuat mata posa semakin blur, posa mulai mundur menjauh, bingka tetap merengsek maju, gangnya baru kali ini jebol dalam sejarahnya ia hidup dijalan, teman temanya berlarian kebelakang semua, posa terjatuh dan tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Sayurin diaaa."
Perkataan yang didengar posa terkahir kali sebelum koma. Darahnya berucucuran gang aziz mundur perlahan dan mulai melarikan diri, posa masih terkapar. "Ayo cepat bawa kerumah sakit." Teriak econ keras sembari mengangkat posa menaiki motor jerry.
***
"Itu nak cerita sedikit tentang ayah posa."
Maria sedari tadi melihati ibu posa bercerita dengan khusu' ia mulai merasakan iba pada posa, ia mulai tahu kenapa posa sangat mencintai teman temanya seperti keluarganya sendiri.
"Oh berarti itu yang membuat posa menjauhi wanita dan lebih mementingkan temanya." Maria menyadarinya.
Maria pahami dengan anggukan kepala "Ini buk uangnya_"
"Sudah tak usah nak maria, bawa saja uangmu buat jajan besok sekolah." Ucap ibu posa sembari senyum tipis kearah maria.
"Deg" jantung maria kaget "mulianya ibuk ini." Maria terkagum dengan sikap ibu posa, seseorang yang mungkin membutuhkan uang tapi ia malah menolaknya, maria langsung membandingkan dengan keluarganya yang haus akan harta.
"Tapi kan b_"
__ADS_1
"Sudah ndak papa nak maria." Ucap ibu posa dengan suara ditekan sedikit.
"Terima kasih ya bu, aku boleh ikut duduk disini gak bu." Ucap maria polos.
"Boleh boleh nak maria, silahkan." Ibu posa pun langsung mempersilahkan maria tuk duduk disebelahnya. "tapi kamu ndak malu? Hihi, duduk sebelah ibu."
"Ndak bu, aku lebih malu terlihat sok kaya." Ucap maria sembari senyum tipis.
"Hihihi, kapan kapan minta posa ajak maen kerumah."
Mereka berdua berbincang ditemani senja yang mulai membentuk, tak ada rasa canggung tak ada perbedaan, maria sopan ibu posa menghargai, percakapan dua insan yang sangat langka sudah kita jumpai.
"Tapi rumah posa jelek, ndak kaya rumah nak maria." Senyum ibu posa tak pernah memudar, ia pintar menyembunyikan rasa khawatir yang sedang menyelimutinya.
Perbincangan antara maria dan ibu posa terjeda saat pak jono tiba tiba datang dengan berlari sedikit kencang.
"Bu, posa dirumah sakit, dia habis tawuran kena luka bacok."
"Yaallah nak." Lirih bu isna. "Dirumah sakit mana pak?" Sambungnya.
__ADS_1