
"Nak, anakmu berilah asimu dulu, kasihan gak berhenti nangisnya." Ucap ayah isna sembari mengetok pintu kamar, Isnapun tersadar dari lamunananya lalu pergi menuju buah hatinya yang baru lahir seminggu yang lalu. "Bawa sini yah, biar aku beri asi." Ucap isna berat, sebab sudah banyak tenaga yang ia keluarkan hari ini, bayi kecil mungilpun berhenti menangis lalu ia taruh di kasur tak lama langsung tidur, isna masih melamun sembari melihat buah hatinya, "sudah nak nanti kita hidup berdua saja ya." Ucap isna tak kuasa ketika melihat nasib buah hatinya kelak. "Jangan seperti ayahmu ya nak." Kata kata itu ia sebutkan berkali kali di dekat anaknya.
Terbukti jika posa yang sudah dewasa ini selalu menghargai seorang wanita, itu salah satunya tak mau mendekati wanita terlebih dulu takut menyakiti hatinya seperti ayahnya menyakiti ibunya.
Hari yang melelahkan bagi isna akhirnya usai, isna terlelap dalam tidurnya dengan mata yang sembab, orang tuanya iba melihat anak wanita satu satunya yang ia jodohkan dengan anak laki laki temanya. "Sudah lah bu, sudah terlanjur." Ucap ayah isna."besok lagi kita obrolkan."
"Iya mas." Ucap ibu isna.
Fajar menyongsong dibarengi adzan subuh, bayi kecil mungin disamping isna menangis karena kaget dengan suara adzan di samping rumah kakeknya pas, isnapun langsung menggendongnya lalu menyusuinya, bayi kecilpun kembali terlelap dalam tidurnya setelah ia susui. Kemudian isna beranjak menuju kamar mandi untuk bebersih diri lalu sholat subuh.
"Tok tok tok" terdengar suara ketokkan pintu dibarengi dengan suara "Nak ..., bangun subuhhan dulu." "Iyah bu, isna baru selesai subuhan."
"Nanti kalo sudah selesai subuhan, turun kebawah ya, ibu buatkan teh."
"Iya bu." Isna mulai melepas mukenanya dan bersiap turun ke bawah untuk berbicara dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Ada kejadian apa to nak, bojomu selingkuh ya?" Ucap ayah isna sembari menyodorkan teh.
Isna kembali mengeluarkan air matanya, rasa sakit masih sangat mengenang dihatinya. "iya yah." Ucap isna berat.
"Maafkan ayah dan ibumu ya nak, sudah menjodoh jodohkan kamu." Ingatannya dijodohkan dengan alex pun kembali terbayang bayang di kepalanya, rasa kecewa yang tadinya mulai memudar kembali memercikkan api. "Ayah dan ibumu tak menyangka kalau alex laki laki tak be_" "sudah bu, jangan diteruskan." Potong isna sembari menaruh gelas yang ia pegang dengan keras, perkataan ibuknya memekikkan hatinya kembali, sampai napas tak beraturan naik turun. "Aku mau bersiap siap kekantor pengadilan." Ucap isna berjalan menjauh dari ibu dan ayahnya." Dengan nada sedikit lantang.
"Ayo ayah antar." Ayah isna menawarkan diri.
"Tak usah yah, aku bisa sendiri." Ucapnya lalu berjalan kembali menuju kamarnya. Sampai dikamar ia lihati buah hatinya lagi, timbul rasa iba yang teramat, "ayo nak kita ke gedung peradilan agama." Isna mengajak bicara bayi yang belum bisa apa apa, ia merasa kesepian, ia butuh pelukan hangat, dan kasih sayang, cuman buah hatinya yang ia miliki sekarang, rasa kecewa ke orang tuanya sudah membakar api bagi dirinya sendiri. Ia gantikan pakaian buah hatinya ia taruh lagi di kasur, dengan satu mainan yang ia bawa dari rumah.
Mengurus surat perceraian pun selesai, isna langsung berangkat kerumah alex untuk memberitahukan mantan suaminya surat cerai dan meminta tanda tangan.
Dari luar terlihat rumah tampak berantakan, ia tak menghiraukanya ia langsung menuju kepintu yang terbuka sedikit, ia tengok mantan suaminya sedang tertidur di kursi ruang tamu, sudah tak ada rasa iba lagi ia langsung memanggilanya.
"Mas ..." ucap isna sedikit teriak.
__ADS_1
Alex langsung terbangun dan mencari arah suara berasal.
"Isna maafkan aku ya." Ucap alex dengan nada memohon.
"Iya mas aku maafkan, tapi kamu harus menanda tangani surat cerai ini dulu." Ucap isna tegar dibarengi membuka tas yang ia bawa. Ia sebenarnya rapuh tapi ia harus terlihat kuat didepan yang sebentar lagi menjadi mantan suaminya, air matanya ia tahan dalam dalam supaya tak jatuh.
"Dek ayolah." Mohon alex. "Kasihan anak kita masih kecil."
Airmata isna tak terbendung lagi, berjatuhan di baju anaknya, bayi mungil itu hanya melihat melongo ia belum banyak tahu apa apa, sedikit ia memeperlihatkan muka kasihanya kepada wanita yang menggendongnya lalu diam dan tenang menyaksikan mata wanita yang mengendongnya sedikit sembab.
"Sudah tidak ada maaf mas bagi orang selingkuh." "Cepat tanda tangani surat i_" ucap isna sembari mengeluarkan pulpen. "sudahlah is maafkan aku." Alex masih belum berhenti memohon mohon.
"Cepat mas ..." Isna menaikkan sedikit nada suaranya."
"Baiklah jika maumu seperti itu dek." ucap alex sembari menanda tangani surat perceraian tersebut.
__ADS_1