
Sampai dirumah kulihati rumah yang batang dan gentengnya sudah berwarna gelap pertanda sudah lama sekali rumah ini, batangnya sudah pada kropos. Sedih?, ya pasti kurasakan yang ku punya hanya ibu dan rumah saja itu sebabnya aku sayang sekali dengan rumah ini. Mungkin esok jika ku sudah mempunyai banyak uang akan kubangun istana ibukku megah megah dan kubuat panti asuhan disebelahnya karna itu cita cita ibu. Sabar ya bu, sementara anakmu ini cuman bisa membebani saja.
Berganti pakaian membuka dandang yang bertempat di meja makan adalah kegiatanku sehari hari, kulihati hanya ada tempe dan sambel saja, sedangkan nasinya masih di dalam pengahangat nasi yang sebut biasanya magicom, kenapa tidak kosmos saja ya, pikirku waktu itu, beruntung sekali perusahaan magicom tidak mebayar orang untuk memperkenalkan tapi masyrakat luas sudah mengenalnya. Agar kehangatanya selalu terjaga. Setelah selesai makan aku langsung bergegas ke tempat ibukku bekerja untuk menyalaminya dan sekedar memijat sembari memberitahu apa yang ku alami disekolah.
"Bu" sapa ku sesampainya di emperan ibuku bekerja.
"Sudah pulang anak ibu" terdengar suara berat seorang wanita hebat, yang membuat rongga rongga air mataku terbuka lebar tak kuasa mendengarnya.
"Sudah, bu" jawabku.
"Ada apa tadi disekolah nak?" Pertanyaan yang selalu ibu lontarkan kepadaku.
"Seperti biasanya bu"
"Maaf ya nak, ibu hanya bisa memasak tempe, kemaren dagangan ibu hanya terbeli sedikit, dan uangnya untuk membeli bahan bahan dagangan dan sisanya baru ibu buat beli lauk pauk"
"Tak apa bu, kalo posa di parkiran rame uangnya kita buat beli makan yang enak, nanti sisanya posa tabungin" jawabku menenangkan ibukku.
Ibukku tersenyum.
"Yaudah bu posa ke parkiran dulu" sembari ku salami tangan kasar ibu.
"Ati ati nak"
__ADS_1
Kususuri jalanan malioboro sembari melihat lihat sekitar, setiap hari malioboro pasti selalu dihiasi oleh wanita wanita cantik, ibu ibu sosialiata dan orang orang berliburan dengan segala kesenengannya, anak anak bermain berlari tanpa ada muka beban sedikitpun, "semoga kau selalu berkeluarga harmonis dan jangan cepat besar ya dek, besar itu sulit" lirihku dalam hati.
Tak kerasa sudah sampai lah dimana aku menggali uang ikhlas pemberian dari mobil dan motor orang orang yang ku jaga.
"Poss"
"Iya pak"
Terlihat pak jono dari kejauhan sudah memanggilku dengan muka seperti biasanya.
"Ada yang nunggu lu tu?"
"Siapa yang siang siang gini sudah mencariku." terbesit dibenakku anak anak sekolah sebelah yang kuhajar kemaren jika tidak siapa lagi, entahlah.
"Gak tau bapak juga, cewek cantik kok, temen sekolah lu mungkin"
"Mana orangnya"
"Tu di warung bu toni"
Spontan kulihat warung buk toni, ada seorang wanita yang aku tidak samar dengan rambut dan postur tubuhnya, iya siapa lagi jika bukan maria.
"Oh itu to pak"
__ADS_1
"Iya poss"
Kusamperi wanita dengan berpakaian kaos pendek dengan dan bercelana hitam pekat.
"Mar"
"Wih udah dateng lu, lama bener" jawabnya.
"Ada apa kesini siang siang mar"
"Tak apa poss, gabut aja dirumah"
"Panas tapi disini mar, item nanti lu"
"Ah udah gak papa, tu ada motor mau parkir" jawab maria sembari menunjuk arah motor yang mau masuk parkiran. Baru saja sampai belum menaruh apapun ada motor yang ing parkir.
"Oke oke mar, bentar ya, gua parkirin dulu."
"Yaudah cepet sana" jawab maria.
Kusamperi arah motor yang hendak masuk dan kutuntut agar barisan terlihat rapih.
"Jangan dikunci setang ya pak." Ucapku kepada bapak yang membawa motor ini.
__ADS_1