Simiskin Dan Wanita Kaya

Simiskin Dan Wanita Kaya
Ketua osis


__ADS_3

"Poss." Ucap maria teriak yang menyadari keberadaan posa.


Posa melihat kearah sumber suara dan melambaikan tanganya. Ia membalasnya supaya maria tak menyadari kalau dirinya sedang cemburu dengan lelaki disampingnya itu.


Maria hanya memanggilnya lalu pergi berdua bersama ketua osis itu kekantin sekolah tanpa menghiraukan perasaan posa yang kalut kaluat ini.


"Udah lah poss, masa sekelas posa cemburu ama ketua osis yang cupu itu." Ledek econ yang hanya ditanggapi posa dengan senyuman tipis.


Posa dan econ pun akhirnya sampai dikantin biasa mereka menghabiskan waktu istirahat bersama teman temanya, seperti biasa posa langsung menuju ke kasir tuk memesan es susu lalu duduk melingkar, kali ini ada yang berbeda di diri posa ia tampak banyak sekali beban terlihat saat ia menghisap rokok dalam dalam ke dalam dirinya.


"Ada masalah apa lu poss?, segitu bener ngisap rokoknya gak kek biasa." Ucap marley yang menyadarinya.


"Tak apa ley, cuman masalah kecil!"


Posa mulai merasakan apa itu sakit hati yang sedari kecil rasa ini belum pernah ia rasakan, ia melihatti satu sudut dengan bayangan saat ia dirawat dirumah sakit ditemani maria. Namun semua itu hilang seketika.


"Pasti gara gara maria yang sekarang lebih dekat ke ketua osis." Ucap marley menghilangkan bayangan itu.


Posa masih saja diam seribu bahasa, sembari memandangi marley dengan tatapan kosong. Mulutnya tak kuasa untuk berucap.


"Sayurin aja po ketua osis yang belaguk itu?" Sambung marley.

__ADS_1


"Tak usah ley, biarin aja gua paling gak suka demi wanita sampai nyayurin orang, lagian gua gak ada apa apanya dimata maria tu." Ucap posa sembari sesekali menghisap rokoknya.


"Bukan kek gitu jagoan, banyak cewe sekolahan yang ngincer lu, contohnya eca, ngapa gak sama eca aja lu, udah seneng lu dari lama, kaya lagi, cantik pula." Hibur econ yang sedikit menenangkan posa.


Eca sudah lama menyukai posa terlihat dari glagatnya yang slalu caper didepan ketua gang itu. Namun posa tak pernah menghiraukanya, padahal ia cantik nan kaya juga. Ia masih kelas 10.


"Iya to poss, saran yang bagus." Ucap firman.


"Udahlah gak mau pacar pacaran dulu gua, ekonomi aja sulit, hehe." Ucap posa sembari tertawa.


"Gua bantu kalo urusan ngedate mah!" Sambung firman.


Tenang namun menakutkan itulah kata kata yang pantas disematkan di diri posa, namun ia tak pernah mau mengakui tentang menakutkan itu, terbukti dengan ia akrab sekali dengan orang yang lebih tua dijajaran malioboro.


"Hari ini seleksi tim futsal kan?" Ucap firman memecah keheningan.


"Iya ***, tapi gua gak bisa ikut keknya, badan gua buat gerak aja masih sakit." Ucap posa.


"Wahh tim kita gak bisa full berarti ini!, kalo gitu gua juga gak ikut lah." Ucap firman.


"Gua juga kalo gitu." Padil membalasnya.

__ADS_1


Betapa bahaginya dia yang memiliki teman seperti keluarga itu.


"Jangan gitu lah." Ucap posa. "Harus ngeharummin nama sekolahan dan juga diri kalian didepan guru guru, kasih tau kalo kita bukan jago berantem doang." Sambung posa dengan menyilangkan kakinya.


Ia berucap seperti itu supaya teman temanya tak usah menghiraukan dirinya yang tak bisa ikut seleksi.


Akhirnya teman teman posa termenung lama sampai akhirnya.


"Iya juga ya poss." Ucap firman. "yaudah gua ikut aja kalo gitu." Sambung firman.


"Na gitu dong." Saut posa dengan nada sedikit menggebu gebu.


Pikiran maria hilang saat ia berada di lingkaran teman temanya yang terkadang menyebalkan namun itu bisa sedikit membuat posa tidak memikirkan maria.


Sampai akhirnya bel berbunyi dan pengumuman akan dimulainya seleksi sudah terdengar tersiar dipenjuru penjuru sekolah menggunakan toa.


"Ayoklah cepat kita masuk, dan mengikuti briefing tentang syarat penyeleksian." Ucap posa sembari berdiri.


Disekolahan pavorit memang banyak sekali saingan baik dari kecerdasan, keahlian, soft skill dan juga kekayaan.


Murid murid pun segera berbaris dengan teman sekelasnya masing masing. Tampak maria berbaris dibagian depan sedangkan posa dan yang lainya dibelakang bergerombol. Dimulailah briefing untuk syarat syarat penyeleksian untuk setiap lomba oleh ketua osis itu sebut saja michael. Saat sedang mendengarkan briefing lewatlah eca denan satu temanya, tak sengaja posa memandanginya, lalu dibalas dengan senyum eca.

__ADS_1


__ADS_2