
Posa tak ingin ketawa maria membuat dirinya terlelap dalam lubang dulu.
"Oh yaudah temenan aja ya ama posa, kasian dia ndak punya temen cewek, temenya cowok semua."
"Masa iya bu?"
"Iya nak, kesana kemari ama cowok aja kalo hak sendirian."
"Posa mah emang pemalu bu kalo sama cewek, padahal disekolahan ada yang ngejar ngejar tu." Ucap maria sembari mengarahkan mukanya ke posa yang berada sebelahnya.
"Masa iya nak maria, siap emang orangnya?"
"Tu si eca!"
Posa langsung tersengguk minumanya dan melihati maria dan ibuk.
"Ndak ada deng ibu, bohong maria."
"Ah kalau bener gak sampe kesedak minuman lah." Sindir ibu posa.
"Ibu lebih percaya maria atau aku?" Posa membalasnya dengan pertanyaan.
"Ya tentu... maria."
Mereka berdua langsung menertawakan posa yang kebingungan melihat ibunya lebih memilih maria dari padanya.
"Wah kacau maria ni memang, kau make pelet apa mar ke ibukku?"
"Aku mah gantleman pos." Ucap maria sembari tertawa.
"Udahlah nak lupakan saja, toh kamu udah dewasa, kali mau cari penyemangat!"
"Ah tidak dulu lah bu, nanti kalo ada penyemangat takutnya kesemangatan." Lawak posa.
"Noh gak mau yang bening bening gini!" Ucap ibu posa sembari mengarahkan pandanganya ke maria.
"Eee gak dulu bu."
Tak lama wajah maria yang tadinya tersenyum langsung berubah drastis menjadi tertekuk, posa menyadari hal itu namun akal sehatnya masih berjalan dan tak mau ia kecolongan hanya gara gara wanita.
Adzan ashar mulai berkumandang dilangit langit malioboro, sebentar lagi senja akan menampakkan kecantikanya yang menghiasi orang orang berbondong bondong menuju masjid.
"Ayo mar mau tak antar pulang tidak?"
"Ayo boleh poss."
"Yaudah pamit dulu dengan ibuk."
__ADS_1
Posa mengembalikan gelas minumanya yang ia pesan tadi.
"Bu aku nganter maria dulu ya, nanti aku kesini lagi, ndak lama kok."
"Lama juga gak papa nak... hehe."
"Maria pulang dulu ya bu." Ucap maria lalu berjalan menuju motor posa terparkir.
"Keras kepala ya kamu pos?"
"Hah apanya mar?"
"Tadi udah dibilang ibuk ada yang bening bening sok sok jual mahal."
Hati posa berdebar mendengar maria berkata seperti itu, semua menjadi berwarna, ia ingin sebenarnya mengungkapkan isi dalam kepalanya, namun baginya belum pas untuk mengungkapkanya sekarang.
"Bukanya jual mahal mar, tapi emang begitu takut kesemangatan." Jawab posa remeh.
"Yaudah ayo cepat jalan keburu malam, tapi boleh ya muter muter sebentar."
"Aman atuh mar."
Posa langsung menancapkan gasnya lalu beranjak pergi dari hiruk piruk malioboro dengan motor tua yang ia beli sendiri.
"Mar..."
"Bagus ya yogya!"
"Iya bagus, tak bosan bosan aku melihat tatanan bangunan yogya yang aku sendiri tak tahu siapa arsiteknya."
"Hihihi." Posa hanya tertawa remeh.
"Gitu doang?" Tanya maria.
"Iya gitu aja sementara."
"Tak kira ada yang laen."
"Gak ada mar, nanti aja pas kita jalan jalan lagi!"
"Okkelah."
Maria melihati sekitaran jalanan yogya dengan tak henti hentinya tersenyum.
"Pegangan mar!, takut jatuh nanti."
"Ah modus lu."
__ADS_1
"Seterah lu dah." Posa langsung menarik gasnya sampai sekitaran kecepatan 70 meter perkilo, dan terasa perut posa ada yang memeluknya hangat dengan kepala ia tempelkan di bahu posa.
"Ah sialan, aku semakin tak bisa menahanya jika seperti ini terus." Geming posa dalam hati.
"Kring kringg." Suara hp terdengar dari arah dalam tas.
"Mar tolong ambil hp ku didalam tas."
Maria mencoba membuka resletingnya dan mengambil hp yang ada didalam tasnya posa.
"Siapa mar?"
"Marley pos."
"Angkat coba."
"Hallo ley." Ucap posa saat telepon terangkat.
Terdengar napas marley naik turun tak beraturan, ia seperti orang yang panik dan kebingungan.
"Hallo ley." Ucap posa lebih kencang.
"Poss, lu dimana?"
"Lagi dijalan gua."
"Nanti ke warung biasa pos, genting ini."
"Okke ley." Ucap posa lalu menyuruh maria tuk mematikan telponya.
"Ada apa poss?"
"Gak ada apa apa mar aman kok."
"Bener poss?"
"Iya maria nuraini."
Posalangsung menarik gasnya lagi supaya cepat sampai kerumah maria.
"Mar aku antar sampai depan saja ya."
"Iya poss."
"Aku langsung saja pulang ya mar, sudah sore."
"Okke pos makasih ya, hati hati."
__ADS_1