
"Ya tuhan semoga tidak terjadi apa apa dengan posa." Maria selipkan doa untuk posa di atas sajadah.
Setelah maria mengumandangkan sholat ashar ia langsung cepat cepat berganti pakaian dan menuju kemalioboro untuk mencari keramaian, hatinya di penuhi rasa sedih, kenangan kenangan tentang ia dan ashr masih saja mengayun ngayun dikepala yang membuatnya jengkel dan mood tak beraturan. Dia melewati tempat posa biasa mengayuh rezeki, disitu hanya terlihat pak jono yang sedang berdiri sembari menghisap rokoknya.
"Belum pulang ternyata." Ucap maria pada dirinya sendiri saat melewati tempat posa memarkir.
Maria pun memarkirkan motornya tak jauh dari situ, ia duduk dikursi kursi maliobor sembari memandangi seorang wanita yang wajahnya mirip dengan wajah posa. "Mirip sekali ibu itu dengan posa." Ucapnya lirih sembari mengambil handphone ditasnya.
Baru saja maria duduk, perutnya berbunyi tanda tak ada lagi yang diproduksi didalam tubuh, "Kayaknya enak beli gudeg ni." Maria merogoh sakunya memastikan kalau ia tadi membawa uang. "Alhamdulillah." Maria pun langsung menuju ketempat jualan ibu ibu yang mirip dengan posa, yang tak lain tak bukan itu ibunya posa.
Maria pandang dalam dalam gerak gerik ibu itu melayani penjual sampai ibu itu melihat balik maria yang membuat maria memalingkan pandanganya.
"Mau beli berapa non?"
"beli seporsi aja ya bu."
"Iya nak, sebentar ya" Ucap ibu posa ramah, sembari meracik makanananya.
"Kamu maria ya, teman posa??"
__ADS_1
Maria seketika langsung ingat kalau ibu posa memang berjualan dimaliobro dan sebelumnya juga pernah bertemu.
"Iya bu, aku maria, teman posa." Ucap maria ramah, sembari mengingat ngingat wajah ibu posa. "Ibu ingat aku?" Tanya maria dengan lembut supaya tak menyinggung perasaan ibu posa.
"Ingat nak, walaupun ibu suda berumur tapi masih ingat." Ibu posa lalu tertawa renyah sembari sesekali memandangi wajah maria. "Kamu tau ndak posa dimana?"
Pertanyaan itu membuat maria kicep, ia ingin berkata jujur tapi takut ibu nya khawatir tapi kalau tidak berkata jujur nanti ia berdosa. Tapi akhirnya maria mencoba untuk berkata jujur "tau bu, posa masih tawuran, tadi aku melihatnya menggunakan buff dan sajam pergi bareng bareng dengan temanya."
Ibu posa langsung menghela napas berat sembari berucap "tak ada kapok kapoknya anak itu membuat ibunya khawatir."
"Sering ya posa tawuran bu?"
"sering sekali nak, sampai banyak luka ditubuhnya." Ibunya menceritakan tentang posa didepan wanita yang perlahan lahan ada rasa dengan anaknya. "Ia seperti bapaknya, suka berantem hihi."
Keadaan seketika hening, tak ada pembahasan sampai maria memberanikan diri..."Sekarang suami ibu dimana bu?" Ucap maria matang karna ia sudah ingin bertanya tentang ini kepada posa namun belum ada keberanian menyampaikanya, hingga saatnya inilah waktunya.
Flash back.
"Mas alex ...!!!" Ucap wanita yang sedang menggendong bayinya memasuki rumah.
__ADS_1
"Isna, ngapain kamu disini?" Alex pun menjawab dengan muka kaget, sembari menjauhkan badanya dari selingkuhanya.
"Mas ka _," isnapun menghela napas dalam sembari menahan air mata yang tak kuasa ia tahan. "Sepertinya kita sudah tidak bisa bersama lagi mas, tak ada rasa sudah dihatiku kepadamu, aku sudah sangat capek mas dengan sikapmu, kecewa aku mas." Ucap seorang wanita dengan suara menahan air mata menatap tajam lelaki tersebut.
Bayi kecil itulah yang dikemudian hari diberi nama posa al farabi oleh kakek dari ibunya.
"Ya sudah jika maumu seperti itu."
Air mata isna pun jatuh ke wajah bayi itu, "huekkkkkk" tangis bayi membuat suasana makin tak terelakan. "Ya sudah mas jika maumu seperti itu, biar bayi kecil ini aku yang menjaga, kita sudahi saja pernikahan ini." Ucap isna sembari beranjak pergi dari rumah tersebut.
"Isna, ayolah masih bisa kita perbaiki." Tangan isna ia tarik kuat kuat "mas, katanya kamu mau segera menceraikanya supaya cepat menikahiku!!!" Isna kembali merasakan sakit yang teramat dalam ia sudah tak kuasa menahan air matanya lagi lalu ia berucap "Sudah mas tak ada yang harus diperbaiki." "Sudah kan bersenang senanglah kalian." Tatap isna tajam ke wanita yang berada di samping alex, ia kibaskan tanganya lalu pergi. "Suuutt, diam ya nak, ayahmu memang jahat, sudahlah kita pergi saja dari rumah ini." Diperjalanan tak ada henti hentinya isna bercerita dengan bayi yang digendongnya.
Dirumah yang penuh kenangan itu ia mulai mencopot satu persatu foto nya, membereskan barang barangnya dan kebutuhan bayinya lalu pergi kerumah orang tuanya tuk menenangkan diri. 3 jam perjalanan ia lalui dengan sakit yang teramat dalam, rasa ingin cepat sampai ke rumah mertuanya harus ia tahan sebab angkutan yang ia naikki lanmbat, hingga akhirnya sampailah isna dirumah orang tuanya.
Saat sampai Ia langsung dicerca pertanyaan oleh kedua orang tuanya dan tak satu katapun terlontar kecuali ..."mah tolong diamkan anak ini dulu, aku mau sendirian dikamar." Ucapnya pada ibunya.
Isnapun kekamar lalu merenung dengan rasa kecewa atas perbuatan suaminya, "kenapa aku tidak percaya dengan perkataan temanku." Ia menyalahkan dirinya terus menerus sembari ******* ***** krudungnya. Isna masih tak percaya dengan apa yang ia lihat tadi siang. Diambilnya handphone dari tasnya ia blokir nomor suaminya ia matikan data lalu melamun kembali sampai ...Terdengar suara ketukan pintu "Nak nak, bukalah pintu, ayah mau ngomong?", "jangan sekarang yah, besok aku ceritakan." Setelah mendengar suara ayah dan bayinya hati isna pun kembali tenang. ia lalu mulai mengambil air wudhu dan sholat isya untuk mengadu kepada tuhanya.
"Nak, anakmu berilah asimu dulu, kasihan gak berhenti nangisnya." Isnapun tersadar dari duduk diatas sajadahnya lalu pergi menuju buah hatinya yang baru lahir seminggu yang lalu. "Bawa sini yah, biar aku beri susu dulu." Ucap isna singkat keayahnya lalu masuk lagi kedalam kamarnya. Bayi kecil mungilpun berhenti menangis lalu langsung tidur, isna masih melamun sembari melihat buah hatinya, "sudah nak nanti kita hidup berdua saja ya." Ucap isna tak kuasa ketika melihat nasib buah hatinya kelak. "Jangan seperti ayahmu."
__ADS_1
Hari yang melelahkan bagi isna akhirnya usai, isna terlelap dalam tidurnya dengan mata yang sembab, orang tuanya iba melihat anak wanita satu satunya yang ia jodohkan dengan anak laki laki temanya. "Sudah lah bu, sudah terlanjur." Ucap ayah isna."besok lagi kita obrolkan."
"Iya mas." Ucap ibu isna.