
"Tapi rumah posa jelek, ndak kaya rumah nak maria." Senyum ibu posa tak pernah memudar, ia pintar menyembunyikan rasa khawatir yang sedang menyelimutinya.
Perbincangan antara maria dan ibu posa terjeda saat pak jono tiba tiba datang dengan berlari sedikit kencang.
"Bu, posa dirumah sakit, dia habis tawuran kena luka bacok."
"Yaallah nak." Lirih bu isna. "Dirumah sakit mana pak?" Sambungnya.
"Pku muhammadiyyah bu, tadi aku dikabari econ."
"Nak maria bawa motor ndak?"
"Bawa bu, ayo biar kuantar kesana." Jawab maria lembut.
"Minta tolong antar ibu kesana ya nak." Mohon ibu posa.
"Baik bu, ayo .."
"Pak jono minta tolong barangku di bereskan ya."
"Baik bu, ibu mending langsung kesana saja, posa masih butuh ibu sekarang ini."
"Baik pak jon, makasih ya."
Maria langsung mengambil motornya yang terparkir tak terlalu jauh dari tempat jualan ibu posa. "Ayo bu kita kesana." Ucap maria. "Ayo nak."
Di sepanjang jalan, baru terlihat rasa arap arap cemas dari ibu posa, ia tak kuasa, ia mulai menitikkan air mata, posa anak satu satunya yang ia miliki, dan sekarang posa terkapar dirumah sakit dengan keadaan setengah sadar.
"YAALLAH semoga anakku tak apa apa." Doa ibu maria disepanjang jalan.
"Berdoa terus bu, supaya posa bisa diselamatkan." Maria meyakinkan ibu posa bahwa posa akan baik baik saja. Maria merasakan sayang yang teramat dari seorang ibu ke anaknya, maria sesekali melihat kaca spion, ia melihati ibu posa menyeka air matanya dengan jarik yang ia bawa kemana mana. Muka tua sedikit kriput membuat suasana hati ibu posa terlihat dari raut wajah. Ia iba, terbesit dibenaknya "aku harus merubah posa supaya ibunya tak selalu bersedih lagi atas perbuatannya."
Terlihat dari jauh ramai teman teman posa sedang menunggu ibu posa, mereka mondar mandir, mereka cemas, mereka khawatir, apalagi dengan econ, ia tertundun, bajunya penuh darah, ia yang menggendong posa dari lokasi sampai masuk ambulance.
"Bu cepat masuk ruang ICU, posa butuh ibu." Ucap marley yang melihat ibu posa sudah sampai. "Motornu parkir sana mar."
Ibu posa langsung turun, ia sedikit berlari supaya cepat sampai dalam ruangan, terlihat econ sedang tertundun didepan ruang ICU.
"Keadaan posa gimana?"
"Ibu cepat masuk, posa masih butuh ibu sekarang." Ucap econ memburu buru, dengan jaket abu abu yang sudah penuh dengan darah segar.
__ADS_1
Ibu posa lalu masuk, ia melihatti anaknya ditengah tengah dokter dengan memakai seragam lengkap yang sedang memeriksa luka.
"Ibu ...,ibuknya posa?" Ucap salah seorang penjaga di dalam ruang ICU.
"Iya bu, saya boleh melihat anak saya dari dekat dok?" Tanya ibu posa.
"Boleh bu, ibu cepat menggunakan pakaian ini." Ucap dokter sembari memberikan pakaian bersih dan tutup kepala. "Anak ibu dari tadi manggil ibu terus?"
"Baik dok." Ibu posa langsung menggunakan pakaian yang diberikan dokter tadi dan langsung mendekat dikerumunan dokter yang sedang memeriksa luka posa.
"Ibu, ibuknya?"
"Iya dok."
"Ibu bisikkan sesuatu ditelinganya, supaya ia cepat tersadar." Ucap dokter yang memimpin jalanya pemeriksaan.
"Baik dok." Ibu posa langsung memulai mengatakan apapun yang posa suka dengan diawali kalimat "jangan tinggalkan ibu nak." Ia ulang berkali kali kata kata tersebut sembari mengelus elus dahinya.
***
"Ley posa diruang mana?" Tanya maria ke marley.
"Sekarang masih di ICU mar, parah keadaanya." Ucap marley dengan suara lemas.
"Man tolong antar maria keruang icu." Ucap marley kefirman saat maria mulai melihati ruangan yang tak kunjung ketemu juga.
"Ayo mar, ikuti aku." Ajak firman.
Tak ada baju teman posa yang bersih, semua ada bercik darah walaupun itu cuman beberapa tetes. Dari pihak polisi belum ada yang mengetahuinya, itu sebabnya mereka masih berani untuk menampakkan diri.
"Itu mar, ruanganya, aku mau kedepan lagi, tak kuasa aku menunggu didalam." Ucap firman yang kemudian meninggalkan maria.
"Okke makasih man." Ucap maria singkat sembari berjalan keruangan yang ditunjuk firman.
Nampak dari depan econ masih tertundun dengan memegangi kepalanya. "Conn ..."
ucap maria, econ menoleh dan mempersilahkan maria tuk duduk. Maria paham ia jangan banyak bicara dulu apalagi menanyakan kronologi kejadianya, mereka semua hanya membutuhkan penjelasan dari dokter tentang kabar posa.
Suasana jadi hening, para penjenguk dirumah sakit sudah pada berpulangan, maghrib sudah menyongsong, sore ini menjadi saksi betapa khawatirnya maria kepada teman pertamanya di yogya.
"Con lu gak balek dulu aja ganti baju." Ucap maria lirih.
__ADS_1
Econ tak menggubrisnya, ia masih saja tertundun, sudah sejam sejak posa masuk ICU, teman temanya terlihat mondar mandir dari luar ke ruang ICU untuk mengetahui kabar posa namun belum ada kabar tentang keadaan posa.
Sampai tak lama suara sirene polisi terdengar sedang menuju rumah sakit "econ ayo cepat kabur, ada polisi datang." Teriak bagas. Econ akhirnya menegakkan kepalanya dan melihat kearah suara, ia langsung sadar dan bersiap membawa tasnya untuk pergi "nitip posa mar, nanti kabarin aja lewat pesan whatsaap." Econ nampak berat meninggalkan ruangan ini, tapi ia paksakan tuk berjalan menjauh.
"Okke con."
Suara motor teman teman posa dari luar rumah sakit sedikit terdengar riuh, mereka semua berhamburan meninggalkan rumah sakit kemudian pulang kerumah masing masing tuk menghilangkan jejak, dirumah sakit hanya tersisa maria, ibuk posa dan posa.
Maria sesekali berdiri, lalu mondar mandir didepan pintu rumah sakit. "Semoga posa gak kenapa napa." Ucap maria tuk menenangkan dirinya.
***
"Bu ..., ini lukanya dalam, harus secepatnya dioperasi." Ucap dokter inti di pemeriksaan posa.
Ibu posa tampak tak percaya, ia tahu biaya operasi itu tak murah, dan ia hanya memiliki uang tabungan 4 juta saja.
"Harus dioperasi dok?" Tanya ibu posa lagi, ia tak percaya kalau keadaan anaknya begitu buruk.
"Iya bu, ini luka nya sampai dalam dan membutuhkan beberapa kantong darah."
Ibu posa lemas, badanya gemetaran, tapi ia berusaha tuk cukup tenang dihadapan para dokter.
"Baik dok secepatnya saja dioperasi anak saya."
Ia yakin tuhan tak tidur, jika memang anaknya dikehendaki masih hidup maka tuhan memiliki banyak cara menitipkan rezekinya.
"Silahkan ibu urus pembayaranya dulu, baru pasien posa bisa kita operasi."
Ibu posa perlahan mulai menjauh dari anaknya dengan meninggalkan satu kecupan kening tanda ia mencintainya.
***
"Kreeek ..." terdengar suara pintu ICU terbuka, maria menoleh dan langsung berdiri.
"Gimana bu keadanya?"
"Posa harus dioperasi nak maria, dan ia masih membutuhkan beberapa kantong darah lagi."
Maria langsung merangkul ibu posa yang terlihat lemas "duduk dulu bu." Ucap maria lirih.
Lengan maria terasa seperti basah sebab air mata ibu posa, ia bingung, ia harus bersikap gimana.
__ADS_1
"Sedangkan ibu hanya memiliki tabungan 4 juta saja." Ucap ibu posa dengan nada sedikit lemas. "Kalau pembayaranya tidak segera diurus posa belum bisa dioperasi." Sambung ibu posa.
"Ayo bu kita tanyakan dulu ke loket, berapa biaya yang harus dibayar?"