Simiskin Dan Wanita Kaya

Simiskin Dan Wanita Kaya
Operasi berjalan lancar


__ADS_3

Bapak dengan badan sedikit kekar dan tinggi itu langsung membayarkan biaya operasi posa, dan berlalu pergi dengan meninggalkan perkataan "nanti kalau ditanya siap yang bayar, suster bilang saja kakek kakek."


"Baik pak." Ucap suster sembari menganggukan kepalanya


***


Operasi masih berjalan dengan lancar belum ada kendala suatu apapun, bu isna masih berdiri kokoh disamping anaknya sembari memegangi dahi yang keluar keringat terus menerus. Berdoa tak henti henti bu isna lantunkan, tuhan adalah sebaik baiknya tempat meminta pertolongan.


"Ayo nak berjuang terus, jangan tinggalkan ibuk sendirian." Ungkap ibu posa lirih ke telinga anaknya.


Wajah tegang sekaligus takut tak bisa ibu isna hindari ia cemas anak semata wayangnya tak bisa berada disampingnya kembali. Ruang operasi menjadi ruangan paling menakutkan setekah kuburan bagi siapa saja yang merasakanya, salah sedikit malaikat utusan menjemput kita dengan muka yang berbeda beda.


"Terus bu bantu posa!" Ucap dokter inti ketika suasana sudah mulai mencair sebab operasi sebentar kagi selesai, "sebentar lagi operasi akan selesai." Sambungnya. Yang membuat hati ibu posa mencair dan terbesit wajah bahagia.


2 jam sudah berlalu ruangan kembali sunyi hanya suara jam dinding dan gesekan alat alat operasi yang berbenturan.


***


"Nanti mau jenguk posa gak lu con?" Tanya maria.

__ADS_1


"Iya mar agak maleman aku kesanya gantian ama bu isna."


"Yaudah biar nanti sepulang sekolah gua yang nemenin bu isna." Singkat maria tak mau berbasa basi.


Econ pun berlalu keluar kelas untuk istirahat nongkrong dikantin belakang bersama yang lainya.


"Hann." Ucap maria. "Posa masih operasi dan kekurangan banyak dana, gak ada salahnya to kamu sebagai ketua kelas meminta sumbangan ke yang lain!"


"Iya mar nanti selesai matkul terakhir aku umumkan."


"Baik lah kalo gitu han, makasih ya."


Bel masuk kelas tanda pelajaran terakhir akan segera dimulai, bu guru tak datang, ia hanya memberikan tugas hal 45 untuk dikerjakan dan berpesan jangan pulang dulu sebelum bel pulang berbunyi. "Perhatikan semuanya." Lantang arhan membuat mata yang lain tertuju padanya. "Posa hari ini operasi, sebaikanya kita sumbang seikhlasnya buat membantu keluarganya membayar biaya operasi."Sambung arhan sembari membawa topi econ dijadikan tempat sumbangan.


"Tumben arhan." Lirih eco sembari mengkode trio.


"Yok demi teman kita." Ucap trio sedikit keras.


Arhan pun berjalan mengelilingi meja satu persatu, uang sudah terkumpul lumayan banyak, teman teman yang lainya mencoba untuk membantu dengan seadanya uang disaku mereka masing masing.

__ADS_1


Uangpun terkumpul lumayan banyak dilihat dari topi econ sampai tak muat menampungnya. Langsung arhan serahkan ke maria untuk menyerahkan ke ibunya. "Ini mar uang sumbanganya lu aja yang ngasihin."


"Lo kenapa kalian gak sekalian jenguk aja."


"Posa tidak suka dijenguk ramai ramai." Ucap arhan.


Maria menganggukan kepala tanda ia paham akan perkataan arhan. "Agak laen ya posa." Lirih maria dalam hati.


Bel tanda berakhirnya sekolah hari ini sudah dibunyikan, siswa siswa pada berhamburan untuk cepat cepat pulang kerumah dan melakasanakan kegiatanya sehari hari.


***


"Alhamdulillah." Ucap dokter inti sedikit keras lali diikuti dengan asisten yang lainnya.


Muka tegang bu isna akhirnya mencair, ia senyum, ia tampak senang operasi posa berjalan dengan semestinya tanpa ada kendala.


Para dokter sibuk membereskan barang barang operasi dan membersihkan area operasi yang bersimbah darah. Bu isna masih nerdiri disamping posa "terima kasih nak sudah mau menemani masa tua ibu." Lirihnya ditelinga posa.


"Ibu dipersilahkan keluar dulu, kita mau membereskan tempat ini, baru nanti posa dipindah diruang rawat inap.

__ADS_1


__ADS_2