Simiskin Dan Wanita Kaya

Simiskin Dan Wanita Kaya
Rezeki yang tak mungkin tertukar


__ADS_3

Ibu isna berjalan bebarengan dengan maria dibelakang suster yang sedang mendorong posa.


Kehangatan maria rasakan, tak memandang fisik ekonomi ataupun yang lainnya, ia merasa bersyukur mengenal sedikit lebih dalam keluarga posa, ia merasa diberi pelukkan hangat, ia terharu, ia merasakan kasih yang amat dari seorang ibu. "Terima kasih." Ucapnya lirih dalam hati.


"Ibu ngurus pembayaran dulu ya nak maria." Ucap ibu isna. "Maria sini saja jagain posa." Ucap bu isna menyuruh maria duduk disamping amben posa.


"Baik bu."


Entah apa yang membuat maria tertarik dengan lelaki di depanya ini, ia menilisik dalam didalam wajahnya, entah keberanianya entah kepintaranya atau selalu menyembunyikan apapun tentang dirinya.


Tangan maria perlahan berani mengusap wajah posa yang perlahan mengeluarkan keringat, ia usap, ia pandangi, ia melihati lebih dalam, ia terbengong terlamun "ayo posa bangun nanti kita jalan jalan." Ucap lirih maria didalam ruangan yang hanya berdua ini.


Posa mulai meremas pelan pelan tangan maria, ia mulai siuman namun matanya belum bisa dibuka.


"Ayo poss kamu bisa."


Posa semakin erat genggamanya, ia mulai berucap lirih kepada siapapun yang ada didepanya, "ambilkan aku air minum." Maria tak mendengar lalu ia dekatkan telinganya dibibir posa."


"Ambilkan aku air minum."

__ADS_1


Maria gelagapan ia mencari air putih di kiri dan kananya namun tetap tak ada, akhirnya dia melepas gengagaman posa pelan pelan namun ..., "jangan lepas genggamanku!"


Maria tampak bingung "tapi tak ada air minum disini poss, aku ambilkan dulu keluar."


"Siapa kamu, kamu bukan ibuku." Posa tak bisa melihat wanita didepanya sebab ia masih susah utntuk membuka matanya.


"Aku maria poss." Jawab maria lirih.


"Ibu kemana?"


"Ibu masih mengurusi admisnistrasi!"


Maria terenyuh dengan hati lelaki didepanya ini, ia sebenarnya tahu kalau dirinya butuh perawatan instensif dari dokter namun ia tak mau membuat ibunya kesusahan untuk mengurusinya.


***


"Dok...aku ibunya pasien yang bernama posa, mau nyicil bayaran lagi dok."


"Sebentar bu, nanti saya lihatkan." Dokter langsung berfokus dilaptopnya untuk mencari administrasi perwatan posa.

__ADS_1


"Disini tercatat sudah lunas bu buat biaya operasi."


Bu isna tampak kebingungan "siapa yang membayarnya?" Ungkap bu isna."


"Kemaren ada bapak bapak sekitaran umur 60 an rambutnya penuh uban badanya tegap dan sedikit kekar bu."


Bu isna langsung mengelus dada sembari berucap "alhamdulillah YAALLAH rezeki hambamu takkan pernah tertukar." Ungkap bu isna sembari tersenyum menatap langit dengan menggenggam uang 300 ribu hasil sumbangan teman teman posa.


"Baik dok, terima kasih, nanti kalo kakek itu kesini lagi saya minta tolong tanyakan siapa dia ya dok." Ungkap bu isna sembari berjalan kembali keruangan posa dengan hati yang sedikit gembira. Ia sudah tau siapa yang membayar biaya operasi ini, namun ia harus berterima kasih denganya yaitu kakek posa yang sudah menginginkan posa sejak lama. Namun bu isna bingung ia harus bagaimana menyikapi hal ini, "ah sudahlah kupikirkan nanti saja." Ungkapnya dalam hati.


***


"Dok ..."


"Oh iya pak, bapak siapanya posa ya?"


"Sudah lupakan, gimana operasi posa tadi dok?" Tanya kakek posa.


"Berjalan lancar pak operasinya tinggal menunggu posa membaik saja." Ungkap dokter. "Kalo saya boleh tau nama bapak siapa ya?"

__ADS_1


__ADS_2