Simiskin Dan Wanita Kaya

Simiskin Dan Wanita Kaya
kabar gembira


__ADS_3

Sudah ada sejangka dua minggu si kusut ini tidak menulis, bukan karena ada masalah, sebab ada hal hal yang aku harus tunaikan demi ibu, yang mungkin akan bangga melihat anaknya memakai toga, itulah sebabnya si kusut ini tidak menulis minggu kemaren, ujian akhir sekolah membuatku lupa kepada pembaca setiaku yang budiman, ini hanya sekilas pemberitahuan saja, dan tidak masuk dalam cerita percintaan yang pembaca tunggukan uploadtan selanjutnya. terima kasih.


*******


Hari hari berlalu begitu saja,  kegiatan tak ada yang berubah, hati juga terkadang cemas, sebab sudah ada sekitaran 1 minggu tak berkabar dengan maria kembali, firman sudah melanjutkan sekolahnya dan kembali menongkrong dengan yang lainnya walaupun masih banyak perban yang terbalut dibadanya dan harus check up seminggu sekali sampai dokter memastikan ia pulih sepenuhnya.


Sepulang sekolah, kuganti pakaianku, mengisi perut, menyalami wanita yang aku sayangi yaitu ibu dan berangkat keparkiran. Hari hariku hanya sekitaran itu saja nongkrong malam jarang aku lakukan. Tak seperti pemuda yang lainnya yang menikmati masa muda dengan uang meminta dan menikmatinya dengan teman circlenya, apalah aku yang hanya memendam rasa iri saja.


Entah kenapa aku akhir akhir ini banyak membayangkan tentang maria, baik sedang sendiri maupun mau beranjak mimpi, ku bukai whatsapp demi menghilangkan rasa kangen ini, inginku membuka obrolan saat ia online tapi rasa takut dan tidak percaya diriku tinggi yang sudah kupendam sejak terakhir kami mengobrol.


"Mar" aku mencoba menyapanya lewat pesan whatsaap.


"Iya poss," tak berjangka ia langsung membalas pesanku.

__ADS_1


"Sudah mendingan?", aku mencoba mencari topik sepantasku.


"Alhamdulilah pos, besok aku sudah berangkat sekolah kok", aku gembira mendengar jawaban ini, sebab aku akan setiap hari bertemu denganya, dan bisa saja sambil menyonto jawaban yang bapak atau ibu guru berikan, setelah berbalas pesan itu bukan apa apa lagi yang ku tunggu, melainkan esok hari.


"Okke mar," jawabku singkat.


"Kenapa poss, kangen ya?" jawaban itu membuatku tersenyum senyum sendiri tanpa alasan sampai sampai pak jono menyindirku sembari berkata;


"Tidak ah, marr," jawabku dibarengi degan emot senyum, mungkin maria meyadarinya tapi biarlah dari pada ku pendam pendam terus rasa ini coba aku mengungkapkanya, urusan ia suka atau tidak suka itu belakangan.


"Ah yang benar pos" kenapa ia memujiku aku tak kuasa, inginku terbang, kepalaku membesar, senyumku tidak bisa aku sumputkan lagi, hingga ketahuan oleh pak jono lagi, aku malu malu tapi tak apalah, pak jono juga pernah muda sepertiku.


"Hahahaha" aku menjawabnya dengan kata kata seperti itu, agar tak ketahuan lebih dalam bahwa aku menyukainya.

__ADS_1


Malam semakin larut, adzan isya sudah berkumandang sedari tadi, percakapanku dengan maria pun berhenti dengan kalimat terakirku, kulihat jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh mobil mobil sudah mulai sepi, plang dilarang parkir sudah pak jono taruh ditempat supaya tak ada mobil yang yang berparkir disini.


Parkiran sudah sepi akupun menyalami pak jono dan menyusul ibukku, biasanya ibukku pulang bersamaku terkadang juga jika dagangannya sudah habis ia pulang terlebih dahulu.


"Bu." aku menyalaminya sembari bertanya.


"Sepi ya bu?"


"Iya nak, tapi tak apa mungkin tuhan memberi rezeki kita segini," ia mendidiku dengan sabar dan penuh kasih sayang atas titipan tuhan pencipta alam ini, ada dalam benakku untuk berhenti didunia kerasku, tapi rasa penasaranku masih besar yang membuat duniaku sedikit liar.


"Ayo bu, kita beberes dan beranjak pulang."


"Ayo nak." kita pun beberes sembari melihat sekitar apakah ada anak kecil yang sedang menjajakan makanananya, dan biasanya sisaan dagangan ibu akan diberikan ke anak anak tersebut, begitulah mulianya seorang wanita yang kuanggap malaikat tak bersayap ini.

__ADS_1


__ADS_2