
Sekitar pukul 8 pagi, Nanda membawa Manda menemui dokter psikiater. Karena semalam Nanda sudah buat janji temu, jadi Manda tidak perlu mengantri seperti yang lainnya.
"Silahkan duduk nona" ucap dokter yang bername tag Mira itu
"Loh Nan?" Manda menoleh ke arah Nanda dengan tatapan bingung karena sang dokter memanggilnya nona dan berbicara menggunakan bahasa Indonesia
"Dia adiknya dokter Diana, dia dari Indonesia kok, cuma dia buka tempat praktek disini" jawab Nanda seolah membaca pikiran Manda
"Owh gitu" ucap Manda sambil mengangguk singkat
Dokter Diana adalah dokter psikiater yang menangani trauma Manda pada 3 tahun silam. Karena dokter Diana buka tempat praktek diIndonesia, jadi beliau memberikan saran agar Manda dibawa ke tempat praktek adiknya yaitu dokter Mira.
"Baiklah kalau begitu, nona,, apakah nona siap?" Tanya dokter Mira
Manda menoleh ke arah Nanda, yang dibalas anggukan kepala oleh Nanda "iya, saya siap" jawab Manda
"Mari ikut saya nona" ucap dokter Mira, membawa Manda menuju Bed Pasien yang ada diruangan itu "silahkan berbaring disini nona" ucap dokter Mira
"Baik" Manda pun menuruti apa yang dokter Mira katakan
"Tutup mata nona dan lihat apa yang terjadi" ucap dokter Mira
Manda hanya menuruti saja apa yang diperintahkan karena dia ingin sembuh. Namun tiba-tiba seluruh badannya bergetar dan berkeringat dingin. Nanda dengan sigapnya mengusap tangan Manda yang digenggamnya.
"Lepaskan dulu cadarnya, saya takut pasien akan sesak nantinya" pinta dokter Mira pada perawatnya
"Baik dokter" ucap perawat itu, saat cadar dibuka, bibir Manda sudah pucat pasi dengan nafas memburu
"Nona bisakah anda mendengar saya?" Tanya dokter Mira
"I-iya saya dengar" ucap Manda dengan suara bergetar
"tolong jawab beberapa pertanyaan dari saya" ucap dokter Mira
"Baik" ucap Manda
"Apa yang anda lihat?" Tanya dokter Mira
"Hujan, truk, ledakan" ucap Manda seadanya
"Apa anda berada disana?" Tanya dokter Mira
"Ya,, tolongin Nanda" ucap Manda
"Apa tuan muda juga ada disana?" Tanya Dokter Mira
"Iya,, Nanda, Mama, sama papa pingsan" ucap Manda dengan suara bergetar
"tenangkan diri anda nona, jangan panik" ucap dokter Mira
"NANDA!!! BANGUN NAN!!" Pekik Manda dengan tangannya terus meremas kuat tangan Nanda
-------------------------------------------------------------
3 tahun yang lalu, tepatnya setelah 2 hari ulang tahun Nanda dan Manda yang ke 15 tahun. Mereka sekeluarga dalam perjalanan pulang setelah liburan ke Korea. Kondisinya saat itu hujan sangat deras.
"Kok hujannya deres banget ya ma,, Manda jadi takut" ucap Manda
"Tenang ya sayang, sebentar lagi sampai dirumah" ucap Andera sambil menengok ke belakang, posisinya saat ini, Nanda dan Manda berada dikursi penumpang, Alvaro yang menyetir, dan Andera duduk disebelah pengemudi.
"Tapi serem ma" ucap Manda
"Nanda, kamu jagain adikmu ya" pinta Andera pada si sulung yang hanya menyimak pembicaraan mereka
"Tanpa disuruh, Nanda bakal jagain Manda sama mama" ucap Nanda
"Papa ngga dijagain Nan?" Protes Alvaro
__ADS_1
"Papa kan laki-laki jadi ngapain dijagain" jawab Nanda
"Ya kan papa orangtua kalian" ucap Alvaro
"Harusnya papa yang jagain kami" ucap Nanda
"Udah-udah, pusing aku dengernya" ucap Manda
"Tuh dengerin Nan" ucap Alvaro
"Papa juga dengerin" balas Nanda tak mau kalah
"Ayolah sayang,, Nanda katanya kamu mau jadi kayak papa, tapi kok kamu tengkar terus sama papa? Dan kamu juga mas, sama anak sendiri ngga mau ngalah" ucap Andera dengan lembutnya
"Maaf ma" ucap Nanda dan Alvaro serempak
"Iya,, ya udah kalian yang akur, jangan bertengkar lagi" ucap Andera
"Iya ma, Nanda janji kalau Nanda ngga akan tengkar lagi sama papa" ucap Nanda
"Mama percaya sama kamu Nanda, jagain adekmu ya" ucap Andera, entah sudah berapa kali dia berpesan agar Nanda selalu menjaga Manda
"Mama kok percaya gitu aja sama mereka? Bisa aja nanti mereka bertengkar lagi" ucap Manda
"ngga tau kenapa, mama ngerasa ini jadi terakhir kali kalian berantem" ucap Andera
"Iya lah, kan kita udah baikan, iya kan Nan?" Tanya Alvaro
"Iya dong pa" ucap Nanda
"Kalian punya rencana apa?" Tanya Manda
"Maksudnya?" Tanya Nanda dan Alvaro
"Biasanya kalau kalian akur gini, kalian punya rencana jahil" ucap Manda
"Iya ma, maaf" ucap Manda
"Maafnya sama papa dan kakakmu Nda" ucap Andera
"Maaf pa, maaf Nan" cicit Manda
"Iyaa gue maafin" ucap Nanda merangkul bahu Manda
"Nah gitu dong, akur" ucap Alvaro
Hening beberapa saat sampai akhirnya sebuah truk entah darimana asalnya, datang dan menabrak mobil keluarga itu hingga mobil terguling. Semuanya panik.
"AWAS KEPALA KALIAN ANAK-ANAK, JANGAN SAMPAI KENA PECAHAN KACA MOBIL" teriak Alvaro yang wajahnya sudah tidak tergambarkan karena goresan kaca mobil membuat wajahnya dilumuri darah
"Ngga bisa berhenti?" Tanya Andera pada Alvaro
"Ngga bisa sayang, kayaknya remnya rusak gara-gara mobilnya terguling tadi" ucap Alvaro berusaha mengendalikan mobilnya
"Mas buka pintu" ucap Andera
"Susah sayang" balas Alvaro
"Nanda, Manda, lompat nak" ucap Andera saat melihat pintu mobil tengah sudah copot
"Mama sama papa gimana?" Tanya Nanda
"Kalian keluar dulu, nanti mama sama papa nyusul, CEPAT!!!" ucap Alvaro dengan nada membentak diakhir katanya, karena dia melihat mobil itu akan memasuki jurang
Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, Nanda menarik tangan Manda keluar dari mobil yang melaju dengan kecepatan diatas rata-rata. Alhasil tubuh Nanda dan Manda sedikit terseret sebelum akhirnya benar-benar mendarat.
Tak lama, Alvaro dan Andera terlihat juga melompat dari dalam mobil, namun kondisi mereka langsung tak sadarkan diri. Mobil terus melaju hingga masuk ke dalam jurang.
__ADS_1
DUAR
terdengar suara ledakan dari dalam jurang itu. Manda memperhatikan jalanan sekeliling yang sudah dilumuri darah mengalir bercampur dengan air hujan. Dan sialnya, hanya Manda yang masih sadar dan melihat dengan jelas tubuh orangtua dan saudara yang bermandikan darah.
"NANDA,,, NAN BANGUN NAN" teriak Manda sambil menggoyang-goyangkan tubuh Nanda
"MAMA,,, PAPA,,, MANDA IKUT MA,, PA,, NANDA BANGUN NAN" teriak Manda lagi
Hujan terus berlanjut, bahkan semakin deras. Manda memarahi dirinya sendiri yang entah kenapa tidak bisa pingsan seperti yang lainnya.
"ARGHH HUJAN SIALAN,, GUE BENCI HUJAN,, HUJAN JAHAT,, GUE NGGA SUKA HUJAN,, BANGSAT,,, MAMA,, PAPA,, NANDA,, " teriak Manda sambil memperhatikan 3 tubuh tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir deras disetiap tubuh mereka
Manda terus berteriak meminta tolong, tak lupa dengan sesekali menyalahkan hujan. Persetan luka ditubuhnya yang perih karena terkena air hujan yang dingin dan tenggorokannya sakit karen terus berteriak.
Lama-kelamaan, Manda merasa sakit kepala yang luar biasa hingga perlahan ia ikut memejamkan matanya. Saat ada kendaraan yang lewat, langsung saja sang pengemudi menghubungi polisi. Hingga 1 keluarga itu dilarikan ke rumah sakit.
Alvaro adalah orang pertama yang membuka matanya, Ia menatap sekeliling dan langsung yakin kalau dia sudah ada dirumah sakit. 1 hal yang menggangu pikirannya, dimana istri dan anak-anaknya.
"Selamat siang pak" ucap seorang dokter yang menanganinya
"Siang, bagaimana kondisi istri dan anak-anak saya?" Tanya Alvaro
"Anak-anak bapak dinyatakan koma dan istri bapak ada diruangan sebelah" ucap dokter
"Saya mau satu ruangan dengan istri saya" ucap Alvaro
"Baik pak" ucap sang dokter lalu pergi
Sesuai permintaan, Alvaro ditempatkan diruangan yang sama dengan istrinya. Dengan 2 Bed Pasien yang dijadikan 1, membuat Alvaro jadi leluasa memeluk istrinya. Hingga tak lama kemudian, mata cantik itu terbuka.
"Mas" lirih Andera saat menoleh ke samping, mendapati suaminya yang memeluknya
"Aku takut kamu kenapa-napa sayang" ucap Alvaro mengecup kening Andera
"Anak-anak gimana mas?" Tanya Andera
"Mereka koma sayang, kita doakan saja semoga mereka cepet sadar" ucap Alvaro
"Amin" balas Andera
"Sayang" panggil Alvaro
"Iya mas?" Tanya Andera
"Aku merasa hidup aku udah ngga lama lagi" ucap Alvaro
"Mas jangan ngomong gitu, aku ngga bisa hidup tanpa kamu mas" ucap Andera yang memang sensitif saat sudah menyangkut tentang kematian
"Kalau gitu, kita pergi sama-sama ya" ucap Alvaro
"Terus anak-anak gimana mas?" Tanya Andera
"Kita terus awasi mereka dari sana sayang, Nanda juga punya pemikiran yang dewasa, aku yakin kalau Nanda akan menjaga dirinya dan Manda dengan baik" ucap Alvaro
"Baiklah" ucap Andera
"Yaudah sekarang kita tidur" ucap Alvaro
"Tapi nanti bangun lagi kan?" Tanya Andera
"Insya Allah" ucap Alvaro
"Berdoa dulu mas" ucap Andera
"Iya sayang" ucap Alvaro, merekapun membaca doa dan tak lupa dengan istighfar dan syahadat
"Maafkan kami anak-anak" ucap Alvaro dan Andera sebelum mereka menutup matanya
__ADS_1
Mata mereka tertutup rapat dan tidak akan terbuka lagi dengan disusul nafas mereka berhenti. Mereka benar-benar pergi bersama dalam kondisi saling berpelukan.