
Pagi ini, Bulan mengunjungi Nanda dimansionnya. Bulan membawakan kue hasil buatannya untuk Nanda dan juga para penghuni mansion lainnya.
"Pagi" sapa Bulan saat baru sampai dimeja makan dimana semua orang baru selesai sarapan
"Pagi juga Bulan" sapa mereka kembali
"Udah sarapan?" Tanya Nanda
"Udah,, aku buat kue, tapi ngga banyak, jadi kita bagi sama rata aja nggapapa ya" ucap Bulan menunjukkan keranjang kecil berisi kue buatannya
"Nggapapa, kita juga udah sarapan" jawab Krys
"Ayo ke ruang keluarga aja" ajak Manda sambil merapikan cadarnya
"Ayo kak" ucap Bulan
Mereka pergi ke ruang keluarga dan memakan kue buatan Bulan bersama-sama.
"Ini sangat lezat, Bulan" puji Amee
"Yup, aku menyukainya" ucap Krys
"Aku baru tau kau bisa memasak kue seenak ini" ucap Manda
"Mommy, Gatha suka kuenya" ucap Argatha tersenyum manis ke arah Bulan dengan mulut penuh kue
"Habiskan dulu kuenya, baru ngomong Gatha" tegur Nanda
"Iya dad" jawab Argatha
Merekapun melanjutkan memakan kue itu hingga habis tak tersisa. Selesai makan, Manda meminta Bulan untuk mengajarinya membuat kue seperti ini karena ia ingin membuatnya untuk Arkan nanti. Manda berniat siang ini akan pergi ke kantor Arkan dan memberikan kejutan. Bulan mengangguk setuju.
"Amee, kau bersiaplah" ucap Nanda
"Mau kemana kalian?" Tanya Manda
"Iya,, mau kemana Nan?" Tanya Amee bingung
"Sudahlah, kau bersiap saja" ucap Nanda
"Hmm oke" jawab Amee beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar untuk bersiap, Nanda pun pergi bersiap juga setelah mendapatkan anggukan dari Bulan
"Kau ikut juga?" Tanya Krys menatap Bulan
"Tidak" jawab Bulan menggeleng
"Bagaimana kalau Nanda selingkuh?" Tanya Romi
"Astaga mulutmu" Krys menegur Romi
"Maaf" cicit Romi
"Aku percaya sama kak Nanda, lagian kak Nanda sudah cerita semua padaku" jawab Bulan
"Lagipula Nanda tidak mungkin selingkuh" jawab Manda
"Memangnya mereka mau kemana?" Tanya Krys penasaran
"Ke suatu tempat yang dibutuhkan kak Amee" jawab Bulan
Mereka tidak menyahut lagi. Semalam saat akan tidur, Nanda menelpon Bulan dan menceritakan apa yang terjadi pada Amee serta memintanya untuk merahasiakannya. Kunci hubungan awet adalah saling terbuka dan percaya, itulah yang dilakukan Nanda dan Bulan. Melepaskan kepergian Nanda dan Amee, mereka kembali bersantai karena Jam 10 nanti, Manda dan Bulan memulai aktivitas mereka didapur.
~o0o~
Nanda dan Amee sampai ditempat psikater yang direkomendasikan Bulan semalam.
"Kenapa kita disini?" Tanya Amee, tentu saja dia tau tempat apa ini
"Kau tidak pernah kesini?" Tanya Nanda
"Tidak" jawab Amee
"Maka kau membutuhkannya sekarang" ucap Nanda
"Tapi aku baik-baik saja" ucap Amee menolak saat disuruh keluar
"Kalau begitu kenapa kau takut?" Nanda menaikkan sebelah alisnya
"Emmm aku,,,"
"Sudah ayo" Nanda menyela ucapan Amee mengajaknya turun dari mobil
Amee menurut dan membuntuti Nanda masuk ke dalam. Sebelumnya Nanda sudah buat janji, jadi mereka bisa langsung masuk.
"Selamat pagi" ucap psikiater yang bername tag Fani
"Pagi" jawab Nanda dan Amee serempak
__ADS_1
"Saya dokter Fani, ada yang bisa saya bantu?" Tanya dokter Fani
Nanda tidak menjawab tapi dia melirik ke arah Amee yang sudah pucat sekarang. Dokter Fani pun ikut melirik Amee dan sepertinya mengerti apa yang membuat mereka kemari.
"Silahkan ikut saya nona" ucap dokter Fani
"Nan" Amee menggenggam tangan Nanda dan menggelengkan kepalanya
"Pergilah, aku menunggumu disini" ucap Nanda melepaskan genggaman tangan Amee
Amee hanya bisa pasrah sekarang, mengikuti kemana dokter Fani membawanya. Dokter Fani membawa Amee ke sebuah ruangan kosong, hanya ada satu Ranjang tempat tidur disana.
"Silahkan berbaring disini Nona" ucap dokter Fani menepuk ranjangnya
"Baiklah" Amee merebahkan dirinya pada ranjang itu
"Tutup mata anda, rilekskan pikiran anda" pinta dokter Fani duduk disisi ranjang
Amee hanya menuruti dan mulai memejamkan matanya. Ingatan Amee seolah ditarik ke ingatan kelam beberapa tahun lalu.
"Anda bisa mendengar saya nona?" Tanya dokter Fani
"Ya" jawab Amee dengan suara gemetar
"Apa yang anda rasakan?" Tanya dokter Fani
"Takut" jawab Amee, wajahnya sudah dipenuhi keringat dingin
"Anda pernah menangis ditempat seperti ini nona?" Dokter Fani menepuk ranjangnya
"Setiap malam" jawab Amee
"Kegelapan?" Tebak dokter Fani
"Ya,,, selalu gelap" jawab Amee
"Apa ketakutan terbesar anda?" Tanya dokter Fani lagi
"Orang tuaku" jawab Amee
"Apa yang anda lihat sekarang?" Tanya dokter Fani
"Rumahku hancur" jawab Amee dengan air mata sudah mulai mengalir
"Lihatkan, rumah anda sudah hancur, sudah tidak bisa disebut rumah, tapi kenapa anda masih bertahan?" Dokter Fani berusaha memancing Amee agar menceritakan apa yang Amee pendam selama ini
"Yang hancur itu bukan rumah anda, tapi perasaan anda" ucap Dokter Fani
"Ya saya tau" jawab Amee
"Bagaimana rumah anda bisa hancur? Dan kapan?" Tanya Dokter Fani
"Rumahku hancur karena orangtuaku, dan itu terjadi saat aku berusia 8 tahun" jawab Amee
"Ceritakan" pinta dokter Fani
Flashback on
Beberapa tahun lalu, seorang gadis kecil berusia 8 sudah rapi dengan hijab abu-abunya. Hari ini, dia bersama kedua orang tuanya akan ikut hadir untuk acara keluarga.
"Ibu,,, Amee sudah siap" ucap gadis kecil bernama lengkap Ameera Aya itu
"Ya" sang ibu bernama Amel hanya menjawabnya singkat
"Ayah,, apa Amee cantik?" Tanya Amee menghampiri ayahnya yang duduk diruang tamu sambil membaca koran
"Hmm" ayahnya yang bernama Rasya hanya menjawab dengan deheman
"Ayo berangkat" ucap Amel sudah siap dengan tas mahal dan beberapa perhiasan ditangannya
Amee dengan semangat naik ke mobilnya, Amee sangat jarang bertemu dengan keluarga besarnya jadi dia sangat bersemangat hari ini. Sesampainya ditempat yang dituju, kedua tangan Amee digandeng oleh dua orang tersayangnya. Hal itu membuat Amee sangat bahagia, kapan lagi tangganya digandeng orang tuanya seperti ini.
"Rasya dan Amel sudah datang" ucap Rania -ibunya Rasya
"Halo oma" sapa Amee
"Ayo duduk dulu" ucap Rania
"Amel, bagaimana? Aku dengar kau Hamil" tanya Rania
"Iya,, baru dua bulan" jawab Amel
"Aku harap kali ini mendapatkan cucu laki-laki darimu, Rasya" ucap Adam- ayahnya Rasya
"Ya, semoga saja" jawab Rasya
"Amee, ayo kita bermain" ajak Rayhan- sepupu Amee
__ADS_1
"Makan dulu sayang" ucap Rania membelai pipi Rayhan, bohong jika saat itu Amee tidak cemburu, neneknya bahkan jarang menyentuhnya.
"Sepertinya kita akan memiliki anak dengan usia dekat juga kak, aku juga sedang hamil" ucap Devi- adiknya Rasya
"Dalam keluarga ini, hanya kau saja yang tidak memiliki anak laki-laki, Rasya, jadi ini kesempatanmu" ucap Firman- kakaknya Rasya
"Aku harap anakku yang kedua ini laki-laki kak" ucap Rasya
Mereka pun makan siang dengan tenang. Setelah makan siang, Amee dan kedua sepupunya bernama Rayhan dan Recall sedang bermain dihalaman rumah neneknya. Mereka bermain bola lalu saat Recall menendang bola, bola itu pergi ke jalan.
"Maaf" ucap Recall penuh sesal
"Tidak masalah, biar aku yang mengambilnya" ucap Amee
"Jangan, bahaya, aku yang paling tua disini, jadi biar aku yang mengambilnya" ucap Rayhan
Amee hanya mengangguk dan membiarkan Reyhan menyebrang jalan untuk mengambil bolanya. Saat akan kembali, sebuah mobil dengan kecepatan penuh dan menabrak Reyhan. Tubuh Reyhan terpental dan menghantam jalanan keras dengan darah yang mengalir.
ARGHH
"KAK RAYY"
Amee berteriak histeris melihat tubuh Rayhan yang sudah dilumuri darah. Teriakan Amee membuat semua orang yang ada didalam berlari keluar.
"RAYHAN!!" Pekik Devi
Devi langsung berlari dengan cepat, melupakan kondisinya yang tengah hamil muda. Dia berlari dan memeluk anaknya yang sudah tak sadarkan diri dengan darah membanjiri tubuhnya. Suaminya Devi bergegas menggendong tubuh Rayhan dan memasukkannya ke dalam mobil lalu membawanya ke rumah sakit.
"Apa yang terjadi?" Tanya Rania menatap tajam ke arah Amee dan Racell
"Kak Amee menedang bola ke jalan dan nyuruh kak Ray untuk mengambilnya" ucap Racell menuduh Amee, dia tidak mau disalahkan dalam hal ini
"Tidak,,, Racell yang,,,"
PLAK
Belum sempat Amee menyelesaikan kalimatnya, Rania sudah menampar pipi kanannya "Beraninya kau mencelakai cucuku!!" ucap Rania murka
"Bukan aku!!" Pekik Amee
"Jangan berteriak pada orang tua, apa kau tidak punya sopan santun?!" Tanya Firman ikut emosi
"Bukan aku pelakunya!!" Ucap Amee kembali berteriak
"Amee ayo pulang" Rasya dengan emosi tertahan menyeret Amee dengan kasar dan memasukkannya ke dalam mobil
Amel pun bergegas mengikuti suaminya masuk ke mobil. Mobil mereka pergi meninggalkan rumah orang tua Rasya. Sesampainya di rumah, Amee dicaci dan dipukul habis-habisan oleh orang tuanya.
"Apa yang kau perbuat? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Rayhan?" Tanya Amel
"Kak Ray sendiri yang mau ngambil bolanya" ucap Amee
"Sudah jelas Recall bilang kau yang menyuruhnya" ucap Amel
"Recall bohong, bahkan dia yang menendang bolanya ke jalan" ucap Amee
BUGH
"Jangan memutar balikkan fakta Amee!" Ucap Rasya setelah menendang Amee hingga Amee tersungkur ke lantai
"Aku tidak bohong!!" Untuk pertama kalinya Amee membentak Rasya
PYAR
"Awshhh" ringis Amee saat Amel melempar gelas pada tubuhnya
"Jangan membentak orang tua, kau mau jadi anak durhaka?!" Pekik Amel
"Kenapa kalian tidak pernah menyukaiku?" Tanya Amee
"Karena kau, ayah jadi malu saat ditanya kapan memiliki anak laki-laki" jawab Rasya tanpa rasa bersalah
"Ya,,, ibu juga harus menahan malu pada keluarga nenekmu karena semua keluarga kita memiliki anak laki-laki, tapi kau?!" Amel tak dapat berkata-kata lagi
"Amee tidak minta dilahirkan dan tidak bisa memilih mau jadi perempuan atau laki-laki" ucap Amee
"Dan kami pun tidak minta kau lahir" ucap Rasya dengan kejamnya
"Karena kau lahir didunia ini, ibu tidak bisa meneruskan karir ibu, kau menghancurkan ibu, Amee" ucap Amel dengan emosi
"Kalian jahat" ucap Amee, semakin menangis pilu
"Berhenti menangis, itu tidak akan berguna" ucap Rasya beranjak pergi bersama Amel dan meninggalkan Amee sendirian didalam kamarnya yang gelap
Sejak hari itu, kehidupan Amee berubah lebih kelam. Awalnya, Amee hanya didiamkan dan tidak dianggap oleh orang tuanya. Tapi semenjak kejadian ini, Amee jadi sering disiksa dan dihancurkan luar dan dalam oleh orang tuanya sendiri. Setiap Amee menangis, orang tuanya selalu tidak peduli, bahkan sesekali memaksa Amee untuk tersenyum agar tidak disadari oleh tetangga mereka. Itulah alasan Amee lebih sering menyembunyikan kesedihannya dibalik senyumannya yang ceria, terlalu ceria sehingga tidak ada yang menyadari ada luka dibalik senyuman itu.
Flashback off
__ADS_1