
Bagikan disambar petir disiang bolong, itulah yang dirasakan Arkan saat ini. Saat mendengar berita kematian ayahnya dari sang dokter, Arkan terduduk lemas dilantai rumah sakit yang dingin. Arkan tidak menangis, tapi pandangannya kosong menatap ke depan.
"Arkan,,, lo yang kuat ya" ucap Lance menyemangati Arkan
"Papa,,," gumam Arkan
"Papa lo udah tenang Arkan" Lance mengusap bahu Arkan agar Arkan tenang
"G-gue banyak salah sama papa Lance" Arkan berucap dengan suara bergetar
"Papa lo pasti udah maafin semua kesalahan lo Kan" ucap Lance
"Papa ngga pergi Lance" gumam Arkan, matanya menatap kosong ke arah pintu ruang ICU tempat papanya berjuang hidup
"Arkan, sadar Kan" Lance membantu Arkan duduk di kursi ruang tunggu
"Papa gue cuma tidur Lance, papa gue ngga pergi" Arkan berusaha meyakinkan dirinya kalau papanya tidak mungkin pergi secepat ini
"Ikhlaskan om Mario, Kan" Lance terus saja mengusap bahu Arkan, berharap bisa menyalurkan kekuatannya
"Papa sama mama cuma istirahat aja,, nanti mereka kembali, gue yakin itu, mereka pasti kembali" Arkan, sepertinya dia sudah mulai masuk didunia imajinasinya
Lance hanya bisa menangis melihat Arkan seperti ini. Sebuah kebohongan besar jika Lance akan biasa saja melihat bos serta sahabatnya hancur seperti ini. Mereka tumbuh bersama, jadi saat yang satu hancur, semua ikut hancur. Lance membawa Arkan pulang ke mansion bersama ambulans yang membawa jenazah Mario mengikuti mereka dari belakang. Sesampainya dimansion, Lance langsung mengantarkan Arkan ke kamarnya. Lance menjauh untuk menghubungi seseorang.
"Halo" sapa orang diseberang telepon
"Romi,,, Om Mario meninggal" Lance langsung menghubungi Romi karena tau kalau Romi ada di Indonesia
Hening. Tidak ada jawaban dari Romi. Romi diam mematung, cukup terkejut dengan berita ini.
"Romi, kau masih di sana?" Tanya Lance
"K-kau se-serius? J-jangan main-main soal kematian, itu tidak baik" Romi berucap dengan suara bergetar
"Aku serius, tolonglah, aku butuh bantuanmu sekarang, aku harus mengurusi pemakaman om Mario, tapi kondisi Arkan juga tidak bisa aku tinggal begitu saja" ucap Lance
"Bagaimana kondisi Arkan?" Tanya Romi
"Buruk, Arkan seolah tidak bisa menerima tentang kematian ayahnya" jawab Lance
"Aku ke sana sekarang" Romi mematikan teleponnya sepihak dan bergegas keluar dari kamarnya.
"Kau mau kemana?" Tanya Angkasa saat mereka berpapasan diruang tamu
"Uncle ku meninggal, aku harus ke sana sekarang, mungkin aku tidak pulang untuk beberapa hari" jawab Romi
"Oh, aku turut berdukacita, kau berhati-hatilah, apa kau masih bisa menyetir? Kau tampak kacau" ucap Angkasa melihat menampilan Romi dari atas ke bawah. Rambut acak-acakan dan wajah pucat pasi.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, terimakasih tapi aku masih sanggup menyetir" ucap Romi
"Baiklah" ucap Angkasa
Romi pun berlari keluar dari Mansion sahabatnya dan pergi ke mansion Arkan menggunakan salah satu mobil milik Nanda. Sesampainya dimansion Arkan, Romi bergegas ke kamar Arkan. Dikamar, Arkan sedang memberontak.
"LEPASIN GUE BANGSAT!!!" teriak Arkan memberontak didalam tahanan anak buahnya
"Apa yang terjadi?" Tanya Romi pada Lance
"Arkan,, dia mengamuk saat ayahnya akan dikuburkan" jawab Lance
"LEPAS!!! BOKAP GUE BELUM MENINGGAL!!!" Teriak Arkan lagi, matanya sudah merah menahan tangis
"Kan,,, sadar,,, Bokap lo udah tenang" ucap Lance
"BOKAP GUE BELUM MATI!!! BOKAP GUE CUMA TIDUR, BENTAR LAGI DIA BANGUN!!!" Teriak Arkan
"Arkan,, ikhlaskan Uncle" ucap Romi ikut menenangkan Arkan
"****!!! KAU TIDAK TAU BAGAIMANA RASANYA KEHILANGAN ORANG TUA, SIALAN!!" Arkan membentak Romi dan tak lupa mengumpatinya juga
"Aku memang tidak tau rasanya, tapi kau juga tidak bisa seperti ini" ucap Romi
"Romi bener Kan, lo harus kuat" ucap Lance
"Tuan Lance,,, tuan besar sudah siap dimakamkan" ucap salah satu pelayan dimansion Arkan
Romi sudah tidak tahan lagi, dia tidak tega melihat sepupunya hancur seperti ini. Romi mengambil suntikan dan sebuah cairan dari kotak p3k milik Arkan. Romi menyuntikkannya pada Arkan dan itu membuat Arkan langsung tertidur.
"Lakukan prosesi pemakaman sekarang" ucap Romi, Arkan tidak ada, maka Romi lah yang akan memerintah
"Bagaimana kalau Arkan bangun dan menanyakan ayahnya nanti?" Tanya Lance
"Kita beritahu pelan-pelan, aku tidak bisa melihatnya terus seperti ini" ucap Romi
"Kau benar, bagaimana pun, dia harus bangkit" ucap Lance
"Tentu saja, lakukan proses pemakaman sebelum dia bangun, atau dia akan mengamuk lagi" ucap Romi
"Baiklah, aku titipkan dia padamu" ucap Lance
"Tenang saja, aku pasti menjaganya" ucap Romi
Lance pun keluar untuk mengurus pemakaman, meninggalkan Romi dengan Arkan yang masih tertidur dibawah kendali obat bius.
"Arkan,,, kenapa kau bisa selemah ini?" Tanya Romi menatap Arkan yang tertidur pulas
__ADS_1
Beberapa jam berlalu, proses pemakaman sudah selesai. Malam harinya, Arkan mulai terbangun.
"Arkan,,, lo udah bangun,,, makan dulu" ucap Lance memberikan sebuah nampan berisi makanan pada Arkan
"Gue ga selera makan" ucap Arkan
"Kalau gitu lo sholat aja, lo udaj ketinggalan dua waktu sholat tadi" ucap Lance
"Ck,, sholat sholat,, itu ngga ngubah apapun" ucap Arkan
"Astaghfirullah, lo kagak boleh ngomong gitu, Kan" ucap Lance
"Apa? Lo bilang dengan gue rajin sholat, bokap gue bisa selamat, tapi ini apa?" Ucap Arkan kesal
"Rencana Allah lebih baik, Kan" ucap Lance
"Rencana bullsh1t" gumam Arkan
"Lo kagak boleh gini Kan, oke lo ngga mau makan terserah, lo ngga mau sholat juga terserah, tapi awas aja kalau lo nyesel" ucap Lance meninggalkan Arkan
"Mama,,, papa,,, kalian kenapa tega banget ninggalin Arkan disini? Arkan kesepian tanpa kalian, kalian kok jahat sama Arkan? Kalian udah janjian ya buat ninggalin Arkan? Hahaha" Arkan menertawakan nasibnya sendiri
Lance yang memang tidak pergi tapi mengawasi Arkan dari jauh tak kuasa menahan air matanya. Sakit. Itulah yang dirasakan Lance saat melihat Arkan seperti ini. Apalagi Arkan berbicara seolah-olah ada orang tuanya yang menemaninya. Arkan hancur tanpa orang tuanya. Arkan hanya berdiam diri dikamar sepanjang hari. Tidak mau makan, bahkan tidak mau berbicara dengan orang lain. Termasuk Lance dan Romi. Hal ini sudah terjadi selama 6 hari setelah kematian Mario. Romi juga lelah, dia memutuskan untuk kembali ke mansion Nanda untuk menjernihkan pikirannya agar tetap waras.
"Daddy, daddy dari mana?" Tanya Argatha
"Gatha,,, daddy sangat merindukanmu" Romi menggendong tubuh Argatha
"Daddy belum jawab pertanyaan Gatha" ucap Argatha
"Daddy dari rumahnya sepupu daddy, dia sedang bersedih" jawab Romi
"Oh ya? Gatha mau ketemu sama sepupu daddy" entah apa yang mendorong Argatha untuk berbicara seperti itu
"Yakin?" Tanya Romi
"Yeah,, yakin" jawab Argatha semangat
"Izin dulu sama mommymu, kalau sudah boleh, nanti Gatha ikut daddy" ucap Romi
"Siap dad" ucap Argatha
Selesai makan malam, Romi berniat akan kembali ke mansion Arkan. Argatha ngotot ingin ikut, padahal sudah dilarang oleh Manda, apalagi Romi berniat akan menginap. Karena Argatha terus membujuk Manda, akhirnya Manda luluh dan mengizinkannya. Kini Argatha dan Romi sudah sampai di mansion Arkan. Romi langsung membawa Argatha ke kamar Arkan.
"Romi,,, aku ingin bicara padamu" ucap Lance
"Baiklah" Romi meninggalkan Argatha didepan kamar Arkan
__ADS_1
Karena tidak mau menunggu Romi, akhirnya perlahan Argatha membuka kamarnya, masuk ke dalam lalu kembali mengunci pintunya dari dalam dan terkejut dengan siapa yang ada didepannya saat ini.
"Daddy"