SKY PATH

SKY PATH
pindah


__ADS_3

1 tahun berlalu, dan kini saatnya Nanda dan Bulan menikah. Romi dan Krys sudah punya anak laki-laki bernama Daniyal Alessio. Amee dan Lance juga sudah punya anak bernama Danesh Eijaz Lauren. Semua pasangan sudah memiliki momongan. Tinggal Nanda dan Bulan yang baru saja menikah.


"Kalian harus punya anak perempuan" ucap Angkasa 


"Itu benar, didalam persahabatan kita, tidak ada yang berhasil melahirkan anak perempuan pertama" ucap Krys


"Itu rencana tuhan, aku tidak bisa memilih" ucap Bulan kesal


"Iya makanya berusaha dan berdoa" ucap Angel


"Kalau lahir anak perempuan, pastinya akan lengkap" ucap Manda


"Ya, anak perempuan itu akan menjadi anak emas dalam persahabatan kita" ucap Amee


"Ayolah, sudah seperti sayembara saja" ucap Nanda


Mereka hanya bisa tertawa puas setelah menggoda dan mendesak pasangan baru ini. Sahabat biadab memang.


"Gatha tinggal satu tahun lagi akan naik ke kelas 1, mau hadiah apa?" Tanya Krys


"Krayon mom, Gatha mau krayon" ucap Argatha, semenjak Romi dan Krys menikah, Krys juga ingin dipanggil mommy oleh Argatha, hitung-hitung pancingan buat anak.


"Baiklah, nanti mommy belikan krayon untuk Gatha" ucap Krys


"Thanks mom" ucap Argatha 


"Sama-sama sayang" balas Krys


~o0o~


Dua tahun kemudian, Bulan sedang berjuang dalam ruang bersalin dengan ditemani Nanda. Bulan mencakar tangan Nanda untuk melampiaskan rasa sakitnya. Nanda tidak masalah, tangganya tidak sakit tapi hatinya menjerit melihat perjuangan Bulan melahirkan anak pertama mereka. Nanda jadi teringat dengan Almarhumah mamanya.


'Ma,,, terimakasih,,, terimakasih sudah berjuang untuk melahirkan Nanda dan Manda, maaf kalau kami banyak salah sama mama, maaf karena kami belum sempat bahagiain mama, sekali lagi,, maaf dan makasih ma' ucap Nanda didalam hatinya dengan mata terpejam 


"Sekali lagi bu,,, dorong sekali lagi" ucap dokter menginterupsikan


"ARGHHH" Bulan mendorong dengan seluruh tenaganya, tangannya semakin kuat menggenggam tangan suaminya 


OEKK OEKK OEKK


Akhirnya, suara bayi terdengar nyaring memenuhi ruangan bersalin itu. Nanda menunduk mencium Bulan dan memeluk Bulan dengan erat sambil terus menggumamkan kata terimakasih. Nanda menangis diatas dada Bulan yang masih berbaring, tangan Bulan terulur mengusap lembut punggung Nanda. Saat ini, Bulan sudah dipindahkan ke ruang rawat. Sudah ada teman-teman mereka didalam ruang rawat itu. Bulan melahirkan bayi laki-laki yang saat ini berada digendongan Manda.


"Mommy,,, ini adiknya Arga?" Tanya Argatha 


"Iya,, ini adik sepupunya Arga" jawab Manda


"Dibawa pulang mom?" Tanya Argatha 


"Nggak sayang, adeknya ikut daddy Nanda" jawab Manda


"Lo ga ada niatan punya anak lagi? Argatha udah kebelet punya adik itu" tanya Angel


"Tau deh, kita udah pasrah sama Allah" jawab Manda


"Semoga cepet dikasih momongan ya" ucap Angel


"Aminn" jawab Manda


"Halo debay, namanya siapa?" Tanya Arkan yang baru datang langsung duduk disebelah Manda 


"Gatau,, Nan,, nama anak lo siapa?" Tanya Manda

__ADS_1


Nanda saling tatap dengan Bulan. Bulan hanya tersenyum dan mengangguk. 


"Namanya Naufal Pradipa Elfachra" jawab Nanda


~o0o~


Saat sudah waktunya, Calvin dan Clara bersekolah. Biaya sekolah mereka berdua gratis karena dibantu oleh ibu-ibu kompleks. Renata tidak perlu pusing memikirkan biaya untuk Calvin dan Clara. Uang sekolah dari Reno, dia gunakan untuk belanja keperluannya. Clara menceritakan kesedihannya pada teman-teman TKnya, tapi Clara malah mendapat bully dari mereka karena menganggap Clara tidak akan ada yang membela. Ibunya saja tidak peduli, jadilah Clara menjadi sasaran empuk untuk dibully. Itulah alasan mengapa Clara selalu terlihat ceria dan tidak pernah lagi mengungkapkan kesedihan, karena Clara takut dianggap lemah dan berakhir dibully. Sementara Calvin, dia selalu cuek saat disekolah. Kesedihan Clara bertambah saat dia memasuki kelas 2 SD. Reno, dia mulai sakit-sakitan. Selama satu bulan Reno tidak bisa bangun dari tempat tidurnya. Pada akhirnya, Reno pergi meninggalkan dunia.


"Ayah,, hiks kenapa ayah meninggalkan Clara?" Lirih Clara melihat jenazah ayahnya yang tengah dikafani 


"Ayah, ayah ninggalin Calvin?" Tanya Calvin tak kalah lirih


"Yang sabar ya anak-anak, ibu juga sedih disini,, udah jangan nangis lagi, masih ada ibu kok" ucap Renata datang dan memeluk kedua anak angkatnya 


Perlakuan Renata tak lepas dari perhatian ibu-ibu kompleks yang ikut meneteskan air mata saat melihat bagaimana sayangnya Renata pada anak-anak angkatnya. Saat malam harinya, Renata sedang duduk melamun disofa ruang tamu. Suaminya sudah dimakamkan, dia seorang janda sekarang.


Tok tok tok


Renata beranjak membukakan pintu saat seseorang mengetuk pintu rumah sederhananya.


"Kalian,,, masuklah" ucap Renata melihat kedua adik suaminya bernama Saiful dan Restu


"Langsung saja kak" ucap Restu saat mereka sudah duduk disofa


"Ini rumah kakak kami" ucap Saiful sebagai adik pertama Reno


"Iya,, lalu?" Tanya Renata heran


"Bang Reno sudah meninggal, jadi mbak Rena bisa angkat kaki dari rumah ini" ucap Saiful


"Apa? Gabisa gitu dong" ucap Renata tak terima 


"Bang Reno dan mbak Rena tidak punya anak kan? Jadi otomatis warisan bang Reno jatuh ke tangan kita" ucap Restu 


"Berapa tahun kau menikah dengan bang Reno?" Tanya Saiful 


"11 tahun" jawab Renata


"Kalau begitu, 110 juta untuk mbak Renata" ucap Saiful menyerahkan uang sebesar rp110 juta didepan Renata


"Wait,, aku menghabiskan waktu perawanku, dan hanya dihargai 110 juta? Aku tidak mau, aku mau lebih" ucap Renata


"Terima atau tidak sama sekali?" Tanya Restu 


"Oke" Renata tidak punya pilihan selain pasrah menerima


"Kita beri waktu satu malam, besok, mbak Renata bisa keluar dari rumah ini" ucap Saiful


"Ya, bawa sekalian anak-anak jalanan itu" ucap Restu


Renata mengepalkan tangannya kuat-kuat menatap tajam ke arah adik iparnya yang kini berdiri dan pergi meninggalkan rumah suaminya. 


Renata beserta kedua anak angkatnya sudah siap akan pergi meninggalkan kompleks elit itu. Para tetangga sekitar datang hanya untuk memberikan semangatnya.


"Yang sabar ya,,, mereka pasti mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah" ucap Limau


"Iya,, terimakasih,, saya juga tidak menyangka, mereka tega mengusir saya begini, padahal saya sudah menganggap mereka sebagai adik kandung saya sendiri" ucap Renata mengeluarkan airmata buayanya


"Semangat terus ya,,, ini ada sedikit uang dari kami, untuk Calvin dan Clara,, untuk kamu juga insyaallah masih cukup" ucap Gina memberikan sebuah amplop cukup tebal pada Renata


"MasyaAllah,, terimakasih banyak semua,, saya tidak tau bagaimana cara saya untuk membalas kalian" ucap Renata

__ADS_1


"Cukup dengan ikhlaskan semua ini, biar mereka mendapatkan hukuman mereka" ucap Yanti


"Iya,, saya tidak dendam dengan mereka, saya hanya sakit hati saja" ucap Renata


"Yang sabar,, nanti kita bantu sedikit-sedikit, kamu tidak perlu khawatir" ucap Limau


Renata pun memeluk ibu-ibu kompleks satu per satu sebagai bentuk ucapan selamat tinggal dan terimakasih. Setelah berpamitan, Renata pergi meninggalkan kompleks dan memilih tinggal disebuah perumahan kecil. Disana, Renata tinggal dirumah bekas orang tuanya yang sudah meninggal. Setelah anak-anak angkatnya tidur, Renata duduk diteras rumahnya.


"Gimana cara aku hidup? Aku ga punya pendidikan tinggi, aku ga punya pengalaman kerja,,, mana harus menghidupi anak-anak lagi" gumam Renata menatap langit dengan pandangan kosong "apa aku taruh anak-anak dipanti asuhan aja ya? Kayaknya ga terlalu buruk" lanjutnya


Renata mengembangkan senyumnya, sekarang suaminya sudah tidak ada, sejak dulu dia memang ingin membuang kedua anak angkatnya itu. Sekaranglah saatnya, dia bisa meninggalkan Clara dan Calvin dipanti asuhan. Ide yang bagus, pikirnya. Keesokan harinya, Renata beserta kedua anak angkatnya tengah sarapan.


"Kalian kemasi barang-barang kalian" ucap Renata


"Kita mau kemana bu?" Tanya Clara


"Kalian mau saya taruh dipanti asuhan" jawab Renata santai


"Gak,,, saya gak mau!" Tolak Calvin mentah-mentah


"Saya gak butuh persetujuan kamu ya" ucap Renata


"Pokoknya saya ngga mau tinggal dipanti" ucap Calvin


"Memangnya ini rumahmu?" Tanya Renata geram


"Tidak,, tapi saya tidak akan pergi dari sini" ucap Calvin tegas, biarpun masih kelas 4 SD, tapi jiwa kepemimpinan sudah terlihat dari tubuhnya


"Kamu membantah saya?" Tanya Renata tak percaya, ini adalah pertama kalinya Calvin melawan dirinya


"Kalau iya memang kenapa? Saya tidak takut" ucap Calvin


Tok tok tok


Bugh


"AWSH"


Ceklek


"Ada apa? Maaf saya lancang" Tanya Wildan- salah satu tetangga baru mereka


Awalnya Wildan ingin memberikan sedikit sedekah untuk kedua anak angkatnya Renata. tapi saat mengetuk pintu, dia malah mendengar suara orang jatuh. Saat Wildan masuk, ternyata Renata yang terjatuh.


"Alvin, kenapa kamu tega dorong ibu, Nak?" Tanya Renata mulai mendramatis


"Mari saya bantu mbak" ucap Wildan membantu Renata berdiri


"Terimakasih Wil" ucap Renata


"Sama-sama mbak, ini ada apa?" Tanya Wildan


"Calvin, dia marah karena saya bilang tidak mampu membiayai mereka, jadi dia mendorong saya" ucap Renata kembali mengeluarkan air mata buayanya


"Ck tukang drama" gumam Calvin pelan, jujur saja, Calvin tidak melakukan apapun, Renata yang menjatuhkan dirinya sendiri


"Calvin, kamu tidak boleh bersikap seperti itu pada ibumu" ucap Wildan


"Sudah Wil, tidak apa-apa, Calvin itu anaknya agak tempramen" ucap Renata


"Ck" Calvin berdecak kesal lalu pergi meninggalkan meja makan

__ADS_1


"Abang" Clara ikut menyusul abangnya ke kamar


__ADS_2