
2 bulan setelah kepergian Alvaro dan Andera, Nanda mulai membuka matanya secara perlahan.
"Tuan muda, akhirnya anda sadar" ucap dokter laki-laki yang menangani Nanda
"Dimana ini?" Tanya Nanda
"Anda berada dirumah sakit tuan, saya adalah salah satu dokter kepercayaan keluarga anda" ucap sang dokter
"Dimana mama sama papa?" Tanya Nanda yang membuat sang dokter jadi gelagapan karena mengingat keadaan Nanda yang baru sadar tidak memungkinkan untuk memberitahu kebenarannya.
Diamnya sang dokter tentu menciptakan tanda tanya besar untuk Nanda. Apa yang sebenarnya terjadi?
"DOKTER!!" Bentak Nanda memanggil dokter yang tak kunjung menjawab pertanyaannya
"Iya tuan muda, anda baru saja siuman dari koma, sebaiknya anda harus banyak istirahat" ucap Dokter
"Saya tidak akan istirahat sebelum saya bertemu dengan orang tua saya" ucap Nanda
"Tapi tuan muda,,,"
"DOKTER NGERTI BAHASA MANUSIAKAN? DIMANA ORANG TUA SAYA DOKTER" pekik Nanda memotong kalimat sang dokter
Bingung bagaimana harus menghadapi Nanda,, dokter itu langsung keluar begitu saja dari ruangan Nanda. Entah kenapa, Nanda merasa dadanya diselimuti rasa sesak yang sulit diartikan. Hatinya sakit tapi tak tau apa penyebabnya.
"BANGSAT!!!" Pekik Nanda yang menggema diruang rawatnya yang sepi dan luas itu
Tok tok tok
"Masuk" ucap Nanda dari dalam
Perlahan, Nanda mulai bisa mengendalikan emosi dalam dirinya. Dengan ragu-ragu, seorang perawat masuk ke ruang rawat Nanda sambil membawa nampan berisi makanan rumah sakit.
"Suster" panggil Nanda
"Iya tuan muda?" Tanya sang suster
"Sebelum saya bertanya,, bisakah saya meminta anda untuk tidak memanggil saya dengan sebutan itu? Saya bukan bosmu" ucap Nanda
"Maaf tuan, tapi anda dan keluarga anda adalah pasien istimewa dirumah sakit ini dan dokter senior kami memanggil anda dengan sebutan itu, jadi saya merasa tidak sopan jika harus memanggil anda dengan sebutan seperti pasien lain" ucap Suster
"Terserah kau saja" ucap Nanda
"Maaf, apa yang mau tuan muda tanyakan?" Tanya suster
"Sudah berapa lama aku koma?" Tanya Nanda
"2 bulan tuan muda" ucap suster
"Dua bulan? Bagaimana bisa?" Tanya Nanda
"Iya tuan muda, anda mengalami benturan keras pada kepala bagian belakang, dan itu yang menyebabkan anda koma selama ini" ucap suster
"Lalu,, bagaimana kondisi adik saya?" Tanya Nanda
"Adik anda masih belum sadar dari komanya Tuan" ucap suster
"Dimana orang tuaku?" Tanya Nanda lagi
"Maaf tuan muda, untuk pertanyaan yang ini, saya tidak tau,,, permisi" ucap suster itu lalu bergegas pergi dari ruangan Nanda
Setelah suster itu pergi, Nanda semakin merasakan rasa sesak yang amat dalam dan sakit. Nanda sama sekali tidak tau apa arti dibalik semua ini. Yang pasti, Nanda selalu kepikiran tentang orang tuanya.
Hari-hari Nanda lalui dirumah sakit dengan rasa penasaran yang cukup tinggi tentang dimana orang tuanya sekarang. Dia sudah melihat kondisi Manda yang koma hampir setiap hari, namun dia tidak pernah melihat kondisi orang tuanya. Setiap kali bertanya, pihak rumah sakit selalu enggan menjawabnya.
"Kondisi anda sudah stabil tuan muda" ucap dokter setelah memeriksa kondisi Nanda
"Hmm" Nanda hanya membalas dengan deheman
"Kalau begitu, saya permisi" ucap dokter sebelum keluar dari ruangan Nanda
"Tunggu dokter" panggil Nanda
__ADS_1
"Iya tuan muda?" Tanya dokter itu
"Karena kondisi saya sudah stabil, bisakah saya tau dimana dan bagaimana kondisi orang tua saya?" Tanya Nanda
Dokter itu menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Nanda. Sementara Nanda, dia menunggu jawaban yang pasti dengan rasa sesak menemani.
"Saya bertanya padamu Dokter, mohon dijawab" pinta Nanda
"Maaf tuan muda, orang tua anda,, sudah berpulang, awalnya kami berhasil menyelamatkan mereka, mereka memutuskan untuk tidur satu ranjang, namun dari tidur itu, mereka tidak pernah bangun lagi, sekali lagi maafkan kami, kami sudah berusaha semaksimal mungkin" ucap sang dokter
"Jadi,,, mama sama papa udah meninggal" ucap Nanda lirih, kini air matanya sudah tidak bisa ditahan
Sekarang Nanda tau, apa penyebab sesak dalam hatinya selama ini. Ternyata orang tuanya sudah berpulang terlebih dahulu, dan itulah alasan mengapa orang tuanya selalu berpesan untuk menjaga Manda, seolah mereka sudah tidak bisa menjaganya dan adik kembarnya itu.
"Ikhlaskan mereka tuan muda, anda harus kuat demi adik anda,, saya yakin anda pasti,,,"
"Keluar" Nanda memotong ucapan sang dokter
"Tapi tuan muda,,,"
"Saya minta anda KELUAR!!! JANGAN GANGGU SAYA!" ucap Nanda membentak sang dokter
"Baiklah, saya permisi" pamit dokter lalu pergi dari ruang rawat Nanda
Nanda termenung dengan air mata terus mengalir, dia tidak menyangka kalau orang tuanya sepercaya itu padanya. Meninggalkan dunia dan mempercayakan Nanda yang mengurusnya. Nanda menangis dalam diam sebelum ide gila mulai muncul dalam otaknya.
Nanda mengendap-endap untuk pergi dari rumah sakit. Tujuannya saat ini adalah rumah. Nanda mencuri pakaian keluarga pasien lain yang sedang dijemur. Entah keberuntungan atau apa, didalam saku bajunya ada uang 100 ribu, cukup untuk naik kendaraan umum dari rumah sakit ke rumahnya.
"Tuan muda" panggil bi Darsih
"Bibi" panggil Nanda, berlari kecil menuju bi Darsih dan menangis sejadi-jadinya pada pelukan orang yang telah merawatnya dan Manda juga merawat papanya dari kecil.
"Alhamdulillah tuan muda sudah sehat" ucap bi Darsih sambil mengusap punggung Nanda
" Bi,,, mama sama papa,," ucap Nanda dengan suara tercekat menahan isakan tangisnya
"Yang sabar ya tuan muda, ikhlaskan tuan dan nyonya" ucap bi Darsih melerai pelukan mereka dan mengusap air mata Nanda
"Tapi sakit bi" ucap Nanda
"Aku mau ikut mama sama papa bi" ucap Nanda
"Astaghfirullah, jangan ngomong gitu, ngga boleh" ucap bi Darsih, demi apapun, kehilangan majikannya saja sudah sakit, apalagi harus kehilangan anak majikannya juga
"Nanda ngga bisa kalau ngga ada mama sama papa" ucap Nanda
"Tapi Nanda ngga boleh egois, kalau Nanda nyerah, Manda gimana?" Tanya bi Darsih, kalau Nanda dan Manda sudah mode manja atau keadaan seperti ini, mereka lebih suka dipanggil nama
"Manda kuat kok" ucap Nanda
"Kalau Manda kuat, Nanda juga harus kuat" ucap bi Darsih
"Aku mau ke kamar dulu bi" ucap Nanda
"Ya sudah, mau bibi buatkan makanan?" Tanya bi Darsih
"Ngga usah bi, tadi udah makan" jawab Nanda
"Ya sudah kalau begitu istirahat aja ya" ucap bi Darsih
Nanda hanya mengangguk patuh, lalu naik menuju kamarnya. Nanda masuk ke dalam kamar mandi kamarnya dan mengisi bathub dengan air dingin. Merilekskan tubuhnya dalam bathub itu sambil membiarkan tubuh disiram air shower.
"Mama,, papa,, kenapa kalian pergi?" Tanya Nanda sambil menangis
Nanda menangis dalam diamnya. Setelah acara mandinya selesai, Nanda mengambil kunci motornya, berniat akan mencari tempat untuk memenangkan pikirannya yang kacau. Setelah menutup pintu kamar, bi Darsih datang dengan nafas memburu seperti habis berlarian.
"Tuan muda" panggil bi Darsih
"Kenapa bi?" Tanya Nanda
"Nona sudah sadar, tapi kondisi nona,,," bi Darsih tak mampu melanjutkan kata-katanya dan itu membuat Nanda geram
__ADS_1
"Gimana kondisi Manda bi?" Tanya Nanda
"Sebaiknya tuan ke rumah sakit ,dan melihat sendiri" ucap bi Darsih
Tanpa menjawab, Nanda berlari menuju garasi dan melajukan motornya dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit.
"ARGHHH, NANDA!!!" teriak Manda sambil mengacak-acak rambutnya seperti orang depresi
"Tenang nona,, anda harus tenang" ucap dokter
"MAMA,,, PAPA,,, " Manda terus berteriak memanggil orang tua dan kembarannya
Nanda masuk ke dalam ruangan Manda dan membawa Manda ke dalam dekapannya. Manda terus memberontak dalam pelukannya, bahkan sambil memukuli Nanda, namun Nanda tetap tidak melepaskan pelukannya.
"Hati-hati tuan muda" ucap dokter
"Keluar" ucap Nanda
"Baik" ucap dokter
Saat dokter dan perawat lainnya keluar, Nanda melerai pelukannya dan membelai wajah Manda dengan kedua tangannya.
"Nda,, ini gue" ucap Nanda
"Nanda,, gue takut" ucap Manda
"Lo tenang, okay? Ada gue disini" ucap Nanda
"Jangan pergi Nan" ucap Manda
"Nggak, gue ngga akan pergi" ucap Nanda membawa Manda kembali ke dalam dekapannya
"Hujan jahat Nan, dia ngebawa pergi mama sama papa" ucap Manda
"Lo udah tau?" Tanya Nanda
"Gue lihat sendiri, mama sama papa minta maaf sama kita, terus pergi gitu aja" jawab Manda
"Kita harus kuat Nda" ucap Nanda
"Lo jangan ninggalin gue, gue takut hujan" ucap Manda
"Bukannya lo suka sama hujan? Buktinya kalau hujan turun lo semangat pengen mandi hujan" ucap Nanda
"Itu dulu, hujan jahat, gue ngga suka hujan, hujan udah ngerampas segalanya dari gue" ucap Manda
"Tenang ya Nda" ucap Nanda
Saat dimakam orang tuanya, Nanda dan Manda sama-sama menangis dalam diam. Isakan demi isakan saling bersahutan dan itu terdengar memilukan bagi siapapun yang mendengarnya.
"Mama,,, papa,,, kenapa kalian pergi?" Lagi dan lagi Nanda menanyakan hal yang sama
"Kami udah iklhas kok,, asalkan,, mama sama papa bahagia disana" ucap Manda
"Semoga mama sama papa dijauhkan dari siksaan api neraka" ucap Nanda
"Dan mama sama papa terus awasi dan jaga kami dari sana ya" ucap Manda memaksakan senyumannya
"Tolong tegur Nanda kalau Nanda salah saat menjaga dan mendidik Manda, walaupun itu hanya lewat mimpi" ucap Nanda
"Sering-seringlah datang ke mimpi kami ma,, pa,, karena kami rindu kalian" ucap Manda
Sepulang dari makam, Nanda mengantar Manda ke rumah terlebih dahulu sebelum ia pergi.
"Kemana lagi Nan? Udah malem lho" ucap Manda saat Nanda hendak pergi
"Ke suatu tempat, lo istirahat aja ya,, lo kan baru sembuh" jawab Nanda sambil mengusap pipi Manda yang terlihat lebih tirus dari sebelumnya
"Ya udah, lo hati-hati ya, jangan pulang malem banget" ucap Manda
"Siap nyonya" ucap Nanda mengangkat sebelah tangannya membentuk hormat
__ADS_1
"Apaan sih Nan" ucap Manda
Sebelum pergi, Nanda mencium kening Manda cukup lama.