
Arkan membawa Manda ke pantai yang sudah dihias seindah mungkin. Manda menatap Arkan dalam-dalam, semua ini sangat romantis. Manda adalah wanita normal yang akan baper jika diperlakukan seperti ini.
"Bagus sekali dad" ucap Argatha
"Daddy sengaja menyewa tempat ini dalam sehari untuk kita" ucap Arkan
"Hanya ada kita bertiga disini" ucap Argatha
"Tentu saja hanya ada kita bertiga, jadi kita bebas melakukan apapun disini" ucap Arkan
"Arga boleh kesana dad?" Tanya Argatha menunjuk ke arah ayunan
"Boleh" ucap Arkan
Argatha dengan semangat berjalan ke arah ayunan itu dan mendudukinya. Argatha mengayun ayunan itu secara perlahan dengan ditemani oleh semilir angin dan juga suara ombak yang tenang. Melihat Manda yang hanya diam memperhatikan laut lepas, Arkan menggenggam tangan Manda yang dilapisi sarung tangan dan perlahan membawanya mendekati pohon yang rindang dan mereka duduk berdua diatas pasir dibawah pohon itu.
"Kamu suka?" Tanya Arkan
"Sangat suka, kenapa kamu sampai melakukan ini?" Manda menatap Arkan yang juga menatapnya
"Sengaja, karena ini adalah hari yang spesial untukku" ucap Arkan
"Spesial? Apa hari ini ulang tahunmu?" Tanya Manda
"Tidak, lebih tepatnya akan spesial untuk kita" jawab Arkan
"Arkan,, aku tidak suka basa-basi" ucap Manda
"Baiklah" ucap Arkan
"Apa?" Manda malah bingung
Arkan tidak menyahut, dia mengalihkan pandanganya pada Argatha "Arga" panggilnya
"Iya dad?" Tanya Argatha
"Kesini bentar" pinta Arkan
"Oke" Argatha turun dari ayunannya dan mendekat ke arah mommy dan daddynya
Argatha duduk ditengah-tengah mereka. Arkan menatap Manda lekat-lekat dan itu membuat jantung Manda seperti lari maraton.
"Manda,,, aku tidak mau menundanya lagi" ucap Arkan
"Ada apa Arkan?" Tanya Manda
"Aku mencintaimu" jawab Arkan
Manda tidak menjawab, dia hanya diam mencerna apa yang Arkan ucapkan "Aku juga" ucap Manda setelah terdiam beberapa menit
"Melihat banyak yang akan mendekatimu, bahkan melamarmu, aku tidak mau menundanya lagi" ucap Arkan, dapat Manda lihat dari Mata Arkan kalau Arkan saat ini sedang serius
"Kamu mau apa?" Tanya Manda
Arkan tersenyum lalu mengambil sesuatu disaku jasnya. Arkan mengeluarkan kotak berundrune berwarna merah dan membukanya didepan Manda. Didalam kotak itu ada sepasang cincin yang dihiasi batu berlian kecil yang tentunya asli.
"Aku mencintaimu dan ingin memilikimu sepenuhnya, didepan Arga, aku melamarmu Nda, kamu mau, jadi istriku?" Tanya Arkan
Arkan memberanikan diri menatap Manda walaupun dalam hatinya rasa takut dan gugup bercampur menjadi satu. Jantungnya jangan ditanya lagi, berdetak cukup kencang seolah ingin keluar dari tempatnya. Manda juga tak kalah grogi. Sedangkan Argatha hanya tersenyum memperhatikan orang tuanya, Sebentar lagi impiannya untuk memiliki keluarga yang lengkap akan tercapai.
"B-bukankah agama kita beda Ar?" Tanya Manda
"Beda?" Beo Arkan, dia tidak salah masuk agama kan?
"Kamu bukannya kristen?" Tanya Manda lagi
"Oh, haha aku udah jadi mualaf semenjak awal kita ketemu" jawab Arkan terkekeh pelan
"Serius?" Tanya Manda tak percaya
"Iya,,, bahkan untuk ini aku minta jalur langit sama Allah" Arkan mengakui usahanya
"Aku ngga percaya, coba baca syahadat lagi" ucap Manda
"Ashaduanla ilaha illallah, wa'asyhaduanna muhammadar Rasulullah" Arkan membaca dua kalimat syahadat
"Alhamdulillah" Manda terharu bahkan dia sampai menangis dibuatnya, tidak sia-sia dia selalu meminta jalur langit untuk cintanya ini
__ADS_1
"Jadi,,, gimana? Kamu mau jadi istriku?" Tanya Arkan lagi
Manda mengangguk "iya Ar, aku mau" jawab Manda
Jawaban Manda membuat air mata Arkan kembali tumpah, dia sangat terharu. Ternyata jalur langit itu benar-benar ada dan Allah sudah menunjukkannya padanya. Dengan tangan gemetar, Arkan menyematkan cincin pada jari manis Manda. Manda pun melakukan hal yang sama pada Arkan. Tangan Manda terulur untuk menghapus air mata yang membasahi pipi mulus Arkan.
"Jangan menangis, harusnya kita bahagia" ucap Manda
"Aku terharu aja, makasih ya" Arkan menggapai tangan Manda lalu mengecupnya
"Berarti sekarang Arga punya keluarga yang lengkap?" Tanya Argatha
"Iya sayang" jawab Manda
"Arga punya mommy dan daddy sekarang" ucap Arkan
Manda dan Arkan kompak menunduk dan mencium pipi Argatha. Argatha membalas dengan mencium bibir orang tuanya. Mereka sama-sama saling tersenyum manis dan saling berpelukan, hari ini adalah hari tak terlupakan untuk mereka bertiga. Malam harinya dimansion. Nanda baru pulang setelah seharian jalan-jalan sama Bulan.
"NANDA!!!!" Pekik Manda berlari dan lompat ke pelukan Nanda
Nanda membiarkan saja apa yang dilakukan adiknya ini. Nanda menggendong Manda ala-ala koala dan membawanya ke dapur. Nanda mengambil minum.
"Nan, gue bahagiaaaaa banget hari ini" ucap Manda dengan wajah full senyumnya
"Bahagia kenapa?" Tanya Nanda kembali menenguk isi dalam gelasnya
"Gue dilamar"
Brusss
"Ihhh Nanda,,, jorok lu" ucap Manda kesal, langsung turun dari gendongan Nanda. bagaimana tidak kesal? Nanda menyemburkan air dari mulutnya tepat diwajah Manda yang tertutup cadar
"Sama siapa?" Tanya Nanda kembali meminum air dari gelasnya
Manda menyingkir sedikit menjauh, takut Nanda akan menurunkan hujan lagi diwajahnya "Arkan"
Uhukk uhukk uhukk
Nanda tersedak air minumnya dan terduduk lemas dikursi. Sangat mengejutkan bagi Nanda, sudah adiknya tiba-tiba dilamar, dilamar sama orang beda agama pula. Astaga apa adiknya tidak laku lagi?
"Lo beneran?" Tanya Nanda
"Iyalah, nih buktinya" Manda menunjukkan cincin yang tersemat dijari manisnya
"Dia beda agama sama kita Nda" ucap Nanda
"Dia udah mualaf" jawab Manda
"Beneran?" Tanya Nanda tidak yakin
"Iya,, tanya aja sama Romi, dia sepupunya Romi" jawab Manda
"Berarti setiap Romi kesini dan bilang mau ke rumah sepupunya itu maksudnya ke rumah Arkan?" Tanya Nanda
"Yup, Arkan sendiri yang cerita tadi,, sumpah gue seneng banget" ucap Manda, hatinya kembali berbunga-bunga, melupakan hijabnya yang basah akibat serangan Nanda tadi
"Haloo, kami kembali" itu suara Romi dari arah pintu utama
"Manda, kenapa hijabmu basah?" Tanya Krys
"Ada hujan tadi" jawab Manda
"Hujan apa yang ada didalam rumah?" Tanya Krys
"Hujan meteor" jawab Manda ketus
"Lalu meteornya mana sekarang? Aku mau lihat" ucap Krys antusias
"Astaga,,, kenapa kau polos sekali sekarang?" Ucap Manda lemas
"Hah?" Krys malah kebingungan
"Ini liurnya Nanda" jawab Manda
"Bukan liur anjir, cuma air" ucap Nanda mengelak
"Sama saja, air yang sudah tercampur dengan ludahmu" ucap Manda
__ADS_1
"Terserah kau saja" ucap Nanda beranjak keluar
"Mau kemana?" Tanya Manda
"Cari angin" jawab Nanda keluar dari Mansion
"Angin disini juga ada, kenapa harus dicari?" Tanya Krys
Manda dan Romi hanya menepuk jidat dengan kepolosan yang menyerang Krys. Nanda berjalan kaki menelusuri kompleks, sesekali Nanda bersenandung kecil menikmati sejuknya angin malam. Dalam kesunyian malam, Nanda mendengar suara orang menangis.
Warning: tidak ada yang horor dibab ini, jadi lanjut baca.
Nanda mengedarkan pandangannya mencari sosok yang menangis malam ini. Tidak mungkin itu hantu karena ini hampir memasuki waktu isya'. Nanda berjalan semakin pelan lalu melihat sosok yang terduduk dengan hijab hitam yang menutupi wajahnya. Nanda mendekati sosok itu untuk bertanya atau sekedar melihatnya.
"Amee" panggil Nanda saat mengetahui sosok yang menangis malam ini adalah Amee
"Nanda" Amee mendongak dan tangisnya mulai menjadi
"Apa yang terjadi?" Nanda berjongkok dan menatap mata sembab Amee lekat-lekat
"Nanda" Amee langsung berhambur ke pelukan Nanda
"Amee,,, lepas, bagaimana kalau ada orang yang memergoki kita?" Tanya Nanda berusaha melepaskan pelukan Amee yang semakin erat
"Aku mohon,, biarkan aku memelukmu sebentar saja" pinta Amee disela-sela tangisnya
Nanda mengalah dan membiarkan Amee menangis dalam pelukannya. Nanda sesekali mengusap-usap punggung Amee agar Amee merasa tenang. Setelah dirasa Amee, sudah tenang, Nanda melerai pelukan mereka.
"Ada apa?" Tanya Nanda lagi
"Tidak ada" Amee memaksakan diri untuk tersenyum manis pada Nanda
"Kita pulang?" Tanya Nanda
"Ayo" jawab Amee
Nanda berdiri terlebih dahulu dan disusul oleh Amee. Baru saja berdiri, Amee sudah terjatuh.
"Kau kenapa?" Tanya Nanda
"Kakiku sakit" jawab Amee
Nanda berjongkok didepan Amee "naiklah" ucap Nanda. Amee pun perlahan naik ke punggung Nanda. Nanda bangkit dan berjalan membawa Amee pulang.
"Aku tau kau sedang bersedih Amee, kau tidak bisa terus menutupinya, itu tidak akan membuatmu baik-baik saja. Ceritalah padaku, ada apa?" Tanya Nanda
"Iqbal,,, dia, dia meninggalkanku Nan" jawab Amee kembali menangis dan mengeratkan pelukannya pada leher Nanda
"Bagaimana bisa? Apa kau menyakitinya? Dia oranh setia, aku tidak percaya kalau dia meninggalkanmu seperti mantanmu itu" ucap Nanda
"semua karena orang tuaku menelponnya
dan bilang kalau aku sudah dijodohkan,
dan memintanya untuk
menjauhiku" jawab Amee menangis
"Kapan orang tuamu menelpon Iqbal?" Tanya Nanda
"Tadi,, saat aku dan Iqbal sedang makan siang, Iqbal mendapatkan panggilan dari nomor asing, awalnya Iqbal mau mengabaikannya tapi aku malah memintanya untuk mengangkat panggilan yang ternyata dari orangtuaku, aku menyesal" ucap Amee
"Kenapa orang tuamu sangat tega padamu? Bukankah jodoh itu pilihanmu?" Tanya Nanda
"Tidak,, aku hanya boneka untuk mereka" jawab Amee
"Boneka?" Beo Nanda
"Aku harus menjadi seperti apa yang mereka mau. Mereka yang memaksaku untuk kuliah diKanada karena ada tetangga kami yang lulusan dari sana, orang tuaku selalu mencampuri urusanku dan selalu mengengkangku, aku bisa saja pergi dan meninggalkan mereka tapi aku terlalu menyayangi mereka. Sejak kecil, mentalku sudah dirusak oleh mereka, saat aku menangis, aku dipukul dan dipaksa untuk tersenyum, tanpa mereka ketahui, aku menangis diam-diam setiap malam, aku selalu takut menunggu hari esok, aku selalu menunggu waktu tidur karena itulah yang membuatku tenang, aku sakit tapi aku harus menyembuhkan diriku sendiri, tidak ada yang peduli padaku, tidak ada yang menyayangiku, aku sudah merendahkan harga diriku pada laki-laki karena aku mengharapkan cinta mereka, aku tidak pernah mendapatkan cinta dari ayah yang katanya adalah cinta pertama untuk anaknya itu bullsh1t, yang aku dapatkan hanya pukulan darinya, aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu yang katanya peran terpenting untuk anaknya tapi aku tidak pernah mendapatkannya, aku bahkan iri pada Gatha yang selalu mendapatkan kasih sayang dari Manda, ibunya, mana ibuku? Mana ayahku? Mana keluargaku Nan? Mereka mencaciku, mereka tidak menginginkanku karena aku bukan anak laki-laki yang mereka harapkan, bahkan sekarang aku dijual, aku bukan dijodohkan tapi aku dijual pada seorang pria kaya yang sudah beristri, awalnya aku berharap Iqbal akan membantuku keluar dari masalah ini, tapi ternyata Iqbal langsung pergi saat tau aku sudah dijodohkan, bahkan dimalam ini aku menangis dipinggir jalan sendirian dan tidak ada yang peduli, disaat ini aki membutuhkan sosok orangtua untuk menenangkanku tapi mereka tidak ada, justru mereka yang menyebabkanku menangis seperti ini, kenapa dunia begitu kejam padaku Nan?" Ucap Amee menangis terisak-isak dalam gendongan Nanda
Nanda tidak menjawabnya, mata Nanda terasa ikut memanas mendengarkan cerita Amee. Dia pikir Amee beruntung karena masih memiliki orang tua yang lengkap, tapi ternyata dia salah. Amee bahkan lebih menderita darinya, Amee memiliki orang tua tapi Amee kehilangan peran keduanya.
"katakan Nan, apa aku tidak
berhak bahagia?" Amee mengguncangkan Bahu Nanda meminta jawabannya
Nanda tidak menjawab, dia terus berjalan ke arah mansionnya. Besok, Nanda berniat akan membawa Amee ke psikolog karena Nanda yakin kalau Amee menderita Eccedentesiast, yaitu sebuah penyakit mental dimana penderitanya cenderung menyembunyikan kesedihan dibalik senyuman.
__ADS_1