SKY PATH

SKY PATH
Taman surga


__ADS_3

Setelah Iqbal sadar, Nanda membantu Iqbal untuk duduk.


"Lo gapapa?" Tanya Nanda


"Pala gue pusing, emang kenapa?" Iqbal bertanya sambil planga-plongo seperti orang b3go


"Lo kesurupan" jawab Nanda


"Serius? Lo punya videonya gak? Gue mau liat, sumpah ini pertama kalinya gue kesurupan" Iqbal malah girang


"Gak" Nanda menjawab ketus, bisa-bisanya orang habis kesurupan malah seneng


"Yah,, gimana si lo Nan" Iqbal malah kesal dengan Nanda, tapi langsung dihadiahi jitakan oleh Nanda


"Taik lo, gue yang susah-susah nyadarin lo bangs4t" maki Nanda


"Hehe sorry" Iqbal menyengir tanpa dosa


"Ayo lanjut pergi, kita masih kejebak disini" ucap Nanda naik ke atas motornya


"Oke" Iqbal memungut buket mawar putih yang sudah tak berbentuk itu


Mereka terus melaju dijalanan hingga menemukan sebuah gerbang yang sangat tinggi. Nanda merasa inilah jalan keluar dari hutan ghaib ini.


BRAKK


BUGH


Saat melewati gerbang, sebuah mobil datang dan langsung menabrak mereka. Nanda dan Iqbal terpental dari motornya dan motor mereka sudah hancur. Nanda memungut buket yang akan dia kasih ke Manda itu, tak peduli kini darahnya sudah mengubah warna dari mawar putih itu menjadi mawar merah atau mawar darah.


"Nda,, maaf" ucap Nanda sebelum akhirnya dia menyusul Iqbal- jatuh pingsan


CTARR


Sementara dikamar Manda, Manda dikejutkan dengan fotonya berdua dengan Nanda tiba-tiba terjatuh.


"Awsh" saat akan membereskannya, Manda malah terkena selepihan kacanya


"Ada apa?" Romi yang mendengar suara benda pecah langsung saja ke kamar Manda yang kebetulan tidak ditutup


"Aku tidak tau,, perasaanku tidak enak" ucap Manda mulai menangis tanpa sebab


"Kau duduklah, biar aku yang membereskannya" membantu Manda untuk duduk dan membereskan pecahan kaca agar tidak melukai Manda


"Apa Nanda sudah bisa dihubungi?" Sejak tadi, mereka selalu menghubungi Nanda dan Iqbal, namun ponsel mereka tidak aktif


"Belum, akan ku coba lagi" Romi mengambil hpnya dan akan menghubungi Nanda


Drett drett drett

__ADS_1


"Nanda telpon" Manda segera mengangkat panggilan dari saudara kembarnya itu


"Aktifkan speakernya" pinta Romi yang langsung dituruti Manda


"Halo Nan" panggil Manda saat panggilan terhubung


"Maaf, pemilik ponsel ini kecelakaan, sekarang saya dalam perjalanan menuju rumah sakit pelita"


Deg


Bagai tersambar petir, Manda terduduk lemas diranjang. Begitupun dengan Romi, hanya berdiri mematung tak percaya. Walaupun tidak mengerti tapi dia tau arti dari 'kecelakaan'.


"Ayo ke rumah sakit sekarang" setelah sadar, Romi segera mengajak Manda ke rumah sakit


Dalam perjalanan, Manda tak henti-henti menangis. Romi melihat itu jadi tidak tega dan mempercepat laju mobilnya hingga sampai dirumah sakit dengan selamat.


"Mohon isi data diri pasien" ucap dokter yang menangani


"Maaf, saya tidak mengenal pasien, keluarga pasien sedang dalam perjalanan" ujar orang yang membawa Nanda dan Iqbal


"Saya, saya adiknya pasien" Manda datang dengan nafas memburu


"Baiklah kalau begitu, silahkan isi data diri pasien" ucap dokter


"Baik" Manda duduk dikursi tunggu dan mulai mengisi data diri Nanda dan Iqbal "sudah" ucapnya setelah mengisi data-datanya


"Terimakasih, kalau begitu saya permisi" ucap dokter itu pamit


"Terima kasih" dengan tangan bergetar Manda menerimanya


"Kalau begitu saya permisi" ucap orang itu yang dibalas anggukan oleh Manda


Manda semakin menangis histeris melihat bunga ditangannya. Dia yakin pasti darah itu adalah darah Nanda. semakin membuat Manda frustasi adalah karena dia yang memaksa Nanda untuk membelikannya buket bunga. Awalnya Manda akan protes karena Manda ingin mawar merah tapi Nanda mengirimkan foto kalau Nanda membeli mawar putih. Tapi sekarang semuanya benar, Nanda memberikannya mawar merah, merah karena darah Nanda sendiri. Teriris hati Manda mengingatkannya. Ada rasa marah, takut, dan kecewa.


"MAWAR S1ALAN, GUE BENCI MAWAR" Manda membanting mawar itu ke lantai, alhasil lantai rumah sakit yang putih juga terkena tetesan darah dari mawar itu.


"Tenangkan dirimu Nda" meskipun tidak tau kalau Manda saat ini sedang memaki, Romi berusaha menenangkannya karena tau kalau Manda sedang emosi


Setelah tenang, Manda berdiri dan melihat dari jendela yang terbuka. Sakit. Sakit hati Manda melihat Nanda yang selalu kuat untuk melindunginya kini malah terbaring lemah diranjang rumah sakit. Ada rasa sesak yang menumpuk dihati Manda, sangat sesak, saking sesaknya Manda sampai lupa cara bernafas. Rasa yang sama saat Manda kehilangan orang tuanya dulu, tapi dulu masih ada Nanda yang menemaninya. Sekarang orang yang menemaninya juga ikut terbaring.


Dialam bawah sadarnya, Nanda berada disebuah taman yang ia sendiri tidak tau ditaman mana. Tamannya sangat indah, seperti memang tidak ada didunia nyata. Sebuah padang rumput yang sangat luas dengan ditumbuhi pepohonan dan bunga dibeberapa sisinya. Disebelah kanan ada sungai yang mengalir jernih dan menjadi rumah bagi para ikan.


"Nanda,," lagi dan lagi Nanda mendengar suara yang sangat ia rindukan


"Mama" dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya, Nanda berlari kearah Andera yang langsung disambut dengan pelukan hangat sang mama


"Nanda udah besar ya sekarang" ucap Andera menatap anak sulungnya


"Iya ma, Nanda pengen cepet besar biar bisa jagain Manda" ucap Nanda

__ADS_1


"Iya Nanda,, dulu kamu tingginya setara dagu mama, tapi sekarang mama yang malah setara dengan dada kamu" ucap Andera lalu terkekeh pelan


"Mama bisa aja" Nanda sedikit menunduk untuk mencium pipi Andera "Nanda kangen mama" ucap Nanda masih menyetarakan tingginya dengan Andera


"Mama juga kangen banget sama Nanda juga Manda" Andera membelai pipi Nanda dengan lembut lalu mencium kening Nanda


"Manda pasti seneng kalau ketemu mama, Manda selalu protes kalau mama sama papa cuma dateng dimimpinya Nanda aja" ucap Nanda terkekeh mengingat tingkah adiknya itu


"Mau jalan-jalan sayang? Kita pulang ya?" Ajak Andera


"Pulang? Ke rumah?" Tanya Nanda, entah kenapa ada sesak menyelimuti hatinya


"Kita ke rumah mama sama papa disini" ucap Andera


"Ada Manda juga?" Tanya Nanda agak ragu


"Manda nanti nyusul, ayo sayang" Andera menarik pelan tangan Nanda menuju rumahnya


Mereka sampai pada rumah berlantai 2 yang terbuat dari kayu, membuat rumah itu kelihatan aesthetic dengan taman kecil didepan rumahnya.


"Papa" begitu sampai, Nanda langsung berlari kecil ke arah Alvaro


"Hai prince" (Hai pangeran) Alvaro langsung membawa Nanda ke dalam dekapannya


"Nanda kangen papa" ucap Nanda


"Selamat datang Nanda" Alvaro mengelus-elus punggung Nanda


"Sementara, kita tinggal bertiga dulu" ucap Andera


"Bertiga?" Beo Nanda


"Iya,, mama, papa, sama Nanda" ucap Alvaro


"Manda gimana?" Tanya Nanda memikirkan adiknya sendiri


"Manda belum waktunya ke sini, nantinya Manda pasti menyusul kita, dan papa sendiri yang akan menjemputnya" ucap Alvaro


"Memangnya sekarang kita dimana?" Tanya Nanda yang mulai sadar dengan semuanya, kalau orang tuanya sudah meninggal, berarti dia,,,


"Taman surga" ucap Andera


"N-nanda sudah meninggal?" Tanya Nanda


"Belum, tapi kalau Nanda mau ikut kami, Nanda masuk ke dalam, nanti Nanda akan selamanya disini" ucap Andera selalu lembut pada keluarganya


"Ayo masuk Nan" Alvaro mengajak Nanda masuk ke dalam rumah itu


Tit tit titttttt

__ADS_1


"Dokter, detak jantung pasien berhenti berdetak"


Deg


__ADS_2