
Ceklek
"Lho Rom, ngga jadi pulang?" Tanya Manda melihat Romi yang kembali masuk
"Ada yang ketinggalan?" Kali ini Iqbal yang bertanya
"Terjadi sesuatu?" Nanda menaikkan sebelah alisnya
"Barusan ayahku menelponku, dia melarangku pulang" jelas Romi
"Karena?" Entah kenapa perasaan Manda mendadak tidak enak
"Ada mafia besar dari pihak lawan yang sedang berpatroli diKanada" jawab Romi
"M-mafia?" Beo Iqbal tak percaya
"Iya, bukan berpatroli, lebih tepatnya pemimpin mereka sedang berlibur sekaligus mencari buronan mereka diKanada" jelas Romi
"Kau buronannya?" Tanya Nanda
"Bukan" jawab Romi
"Kalau begitu kau aman, kenapa takut?" Iqbal menyahut dengan nada tengilnya
"Walaupun bukan aku yang mereka cari, kalau mereka tau aku tinggal di sana, tidak mungkin mereka tidak menyerangku" ucap Romi kesal
"Oh kau benar juga" ucap Iqbal lesu
"Lalu bagaimana?" Tanya Nanda
"Aku mungkin akan menetap disini dulu, masalah izin, aku sudah beritahu Amee" ucap Romi
"Baiklah" jawab Nanda
Akhirnya Romi batal balik gara-gara ada Mafia musuh yang berkeliaran diKanada. Romi dan Manda gantian menginap di rumah sakit untuk menjaga Nanda dan Iqbal yang masih belum boleh pulang. Awalnya Nanda melarang keras Manda yang bersikeras ingin menginap dan menjaganya karena tau kalau ibu hamil tidak disarankan untuk menjaga pasien. Tapi bukan Manda namanya kalau tidak memaksa, akhirnya dengan berat hati, Nanda mengizinkannya. Tak terasa hari ini sudah hari ke 3 mereka dirumah sakit. Iqbal mulai bosan jadinya.
"Kapan pulang dok?" Setiap dokter memeriksa, Iqbal selalu menanyakan hal yang sama
"Sebentar lagi" dan dokter pun juga memberikan jawaban yang sama setiap kali ditanya Iqbal
"Dari dulu sebentar lagi terus, sebentar lagi itu kapan Dok?" Iqbal mulai jengkel dengan jawaban yang sama sekali tidak menjawab itu
"Iya kamu sabar dulu, baru juga tiga hari" ucap dokter itu sepertinya juga mulai jengkel dengan sikap tengil Iqbal
"Tiga hari saja rasanya saya sudah mau mati dok" ucap Iqbal ketus
"Mau saya suntik mati sekarang?" Ancam sang dokter itu
"Eh, ya jangan dok, saya masih muda" ucap Iqbal
Sementara Iqbal dan dokter itu saling melemparkan kalimat ketus, Nanda dan Manda malah malu sendiri dengan sikap Iqbal. Sementara Romi? Dia tidak mengerti apa yang Iqbal dan dokter itu bicarakan, jadi dia fine-fine saja.
"Bagaimana bisa kalian punya teman seperti dia" pertanyaan yang sama dari sang dokter setiap kali habis berdebat dengan Iqbal
"Ngga tau dok, dia demit, datang tak diundang, pulang tak diantar" jawab Manda asal
"HEH GUE DENGER!" pekik Iqbal
"Diem gak lo, gue sama anak gue kaget nih" Manda mengelus dadanya yang berdetak kencang karena kaget, bukan hanya Manda saja, semua penghuni ruangan juga ikut tersentak kaget
"Dih" Iqbal mendengus kesal lalu membaringkan tubuhnya memunggungi teman-temannya
__ADS_1
"Sabar, dia emang gitu" Nanda menghela nafas pelan
Emang prik teman mereka yang satu ini. Setelah diperiksa, dokter memprediksikan kalau Nanda bisa pulang besok. Iqbal tentu saja senang dengan hal itu.
"Berarti saya pulang juga dok?" Iqbal membalikkan tubuhnya jadi menghadap lagi ke teman-temannya
"Untuk kamu, masih tiga bulan lagi" dokter malah menggoda Iqbal
"Ayolah dok, tiga hari saja saya sudah stress gini apalagi tiga bulan? Udah kelewat gila saya mah" ucap Iqbal mengeluh
"Biar lo sehat Bal" ucap Manda
"Iya Bal, sekalian ntar gue minta dokter buat bedah otak lo yang ajaib itu" ucap Nanda ikut menggoda
"Jahat kalian" ucap Iqbal
"Kalau begitu saya permisi dulu" ucap dokter
"Ye, pokoknya besok gue harus pulang, kalau gue ga pulang, gue bakar nih rumah sakit" ucap Iqbal
Dokter itu geleng-geleng kepala lalu keluar dari ruangan VVIP yang selalu membuatnya mengupgrade tingkat kesabaran itu.
"Gabut" ucap Iqbal
"Sama" balas Manda
"Ngapain nih?" Tanya Nanda
"Main truth or dare?" Saran Romi
"Boleh" ucap mereka bertiga menyetujui ide Romi
Manda mengambil botol kosong lalu mengisinya dengan air. Mereka berkumpul duduk disofa diruang rawat itu. Romi yang pertama memutar botolnya. Botol berhenti berputar tepat ke arah Nanda, Nanda? Panik tapi berusaha menetralkan wajahnya.
"Truth" jawab Nanda
"Biar gue yang tanya" Iqbal bersemangat
"No! Aku yang bertanya" sela Romi
"Sure" jawab Nanda berusaha santai padahal aslinya dag-dig-dug serr
"Apa kau mencintai wanita?" Tanya Romi
"Huh?" Jelas saja Nanda bingung
"Maksudku, apa kau pernah atau saat ini sedang menyukai seseorang?" Tanya Romi menjelaskan pertanyaannya
"Kalau tidak, fiks Nanda gay" Iqbal menyela
"Iya, aku sedang tertarik dengan satu wanita" jawab Nanda yang membuat semua orang melotot tak percaya
"Really? Siapa Nan?" Tanya Manda
"Gue gak tau dia dimana sekarang, intinya gue suka sama tuh cewek sejak pertama bertemu, dan kita baru ketemu sekali" jawab Nanda
"What?" Nanda melupakan Romi yang tidak mengerti dengan bahasanya
"Nanda likes a woman he doesn't recognize at first glance, but now Nanda doesn't know where that woman is." Manda mentranslate kan apa yang Nanda ucapkan tadi
"Oh, aku mengerti" ucap Romi
__ADS_1
Mereka lanjut bermain, hingga Manda tertunjuk lagi untuk ke sekian kalinya. Sekitar 2 jam mereka bermain, Manda yang lebih sering kena hingga hampir semua rahasia Manda terbongkar.
"Kok gue lagi sih" ucap Manda melipat kedua tangannya didepan dada
"Hal apa yang menurut lo paling memalukan?" Tanya Iqbal Antusias
"Lo nanyainnya aib mulu, dahlah gue cape" beranjak dari sofa dan membaringkan tubuhnya
"Gitar lo Bal" Nanda meminta gitar yang tadi dibawakan oleh ART rumah Iqbal untuk menghilangkan rasa bosan
"Nih" Iqbal menyerahkan gitarnya
Nanda berjalan dan duduk dipinggir ranjang yang Manda tiduri, Manda tidak tidur, hanya menutup mata saja. Itulah kenapa Nanda dengan teganya memaksa Manda duduk.
"Ck" Manda berdecak kesal dan kembali melipat tangannya didepan dada- kembali ngambek
Ting ting ting ting ting ting
Jreng jreng jreng
"Yanggg
Alololo lolo sayanggg
Tinting tanting tanting sayangg
Aku rindu sifat manjamu yang dahulu" Nanda bernyanyi dengan suara selembut mungkin
"Sayangg" Iqbal ikut bernyanyi
"Alololo lolo sayang
Simpanlah dulu rajukmu
Segala salah ku akur
'I am sorry'"
Mau denger suara Nanda dan Iqbal? Cek akun ig @mt4md_
Romi tidak tau apa arti lagunya, tapi lagunya asik. Sepertinya lagu ini akan ditambahkan dalam playlist favorit Romi. Keesokan harinya, Nanda sudah dibolehkan pulang. Iqbal? Ya pulang juga lah, yakali Iqbal mau menetap dirumah sakit.
"Pelan-pelan Rom, aku baru keluar dari rumah sakit" ucap Iqbal memperingati Romi
"Ck,, tenanglah" ucap Romi jengkel, sudah berapa kali Iqbal mengingatkan kalimat hal yang sama
"Awas tersesat lagi, gue masih trauma" ucap Iqbal merinding bukan main
"Yakin ada Allah Bal" ucap Manda
"Ya Allah, lindungilah kami" ucap Iqbal memohon
"Segitu doang doanya?" Tanya Nanda
"Iyalah, gimana lagi" ucap Iqbal
"Mana dikabulin kalau lo doanya singkat gitu" ucap Nanda
"Gue jarang berdoa sama Allah, jadi stok permintaan gue masih banyak, jadi cukup doa sekali aja" ucap Iqbal kelewat polos
"Astaghfirullah" Manda mengelus dadanya yang lagi-lagi dibuat takut dengan pemikiran Iqbal yang kelewat polos itu
__ADS_1
"Bisa gitu, serah lo dah" Nanda hanya bisa menggelengkan kepalanya
Setelah mengantarkan Iqbal ke rumahnya, Nanda, Manda, dan Romi pulang ke mansion. Seperti biasa, mereka selalu disambut oleh para pelayan.