
Nanda pergi keluar apartemennya untuk menyusul Bulan. Sementara Manda hanya bisa menatap punggung Nanda yang perlahan menjauh dan menghilang.
"Nda, kau baik-baik saja?" Tanya Amee
"Aku ke kamar dulu" ucap Manda berdiri dengan Argatha berada dalam gendongannya
"Nda,, maaf" gumam Amee
"Tidak ada yang perlu disesali, semua sudah terjadi" ucap Manda lalu pergi dari sana
"Apa kau tidak malu sudah menfitnah calon istri Nanda itu?" Tanya Della pada Amee
"Aku tidak menfitnahnya, justru dia yang memfitnahku" ucap Amee
"Sudahlah, kalian tidak ada gunanya berdebat seperti ini" ucap Romi
"Romi, kau tidak percaya padaku?" Tanya Amee
"Sayangnya, setelah apa yang terjadi, aku sulit percaya padamu Amee" Romi pun pergi dan menyusul Nanda
"Kenapa tidak ada yang percaya padaku? Padahal aku yang tersiksa jadi korban disini" gumam Amee
"Tidak perlu berpura-pura, tidak ada yang simpati padamu" ucap Della lalu pergi meninggalkan Amee sendirian
Sementara dikamar Argatha, Manda sudah menguncinya dari dalam. Manda dan Argatha sama-sama menangis dalam posisi mereka saling berpelukan.
"Daddy beneran tidak sayang kita lagi mom?" Tanya Argatha
"Mommy tidak tau sayang, tapi daddy lebih memilih wanita itu daripada mommy" ucap Manda
"Mommy jangan khawatir, ada Arga disini sama mommy" Argatha menghapus airmata mommynya dan mengecup singkat bibir mommynya
"Arga tidur aja sekarang, jangan nangis lagi ya nak, matanya Arga udah bengkak" Manda membelai pipi Argatha dengan lembut lalu mencium kedua mata Argatha yang sangat bengkak karena menangis
"Mommy juga" ucap Argatha
Manda mengangguk dan membaringkan Argatha. Mendekap erat tubuh mungil Argatha hingga lama kelamaan Argatha mulai terlelap dan hanyut ke alam mimpi. Manda tidak bisa tidur, dia hanya memperhatikan wajah Argatha yang sudah damai dalam tidurnya. Manda beranjak dari tempat tidur dan mengambil bingkai foto yang ada dirak buku Argatha. Difoto itu ada mereka bertiga. Ada Manda, Argatha, dan Nanda yang saling berpelukan dengan senyuman lebar penuh kebahagiaan menghiasi wajah mereka. Mereka mengambil foto itu diruang keluarga dan hanya dipajang dikamar saja karena difoto itu, Manda tidak menggunakan cadarnya. Tangan Manda terulur untuk mengusap bingkai itu, sebuah senyuman terukir diiringi air matanya kembali jatuh.
"Nan,, ternyata cewek itu lebih penting dari gue" ucap Manda lirih "kenapa semuanya jadi begini Nan? Kenapa semuanya hancur dalam satu hari? Hati gue sakit pas lo lebih milih mengejar cewek itu daripada nemenin gue,, apa sebentar lagi lo akan ninggalin gue demi menikah dengan cewek itu? Lo jahat Nan, jangan lakuin itu, lo bakalan bikin gue kesiksa kalau lo bakal ninggalin gue, lo udah kayak orang tua pengganti buat gue, gue ngga mau kehilangan lo"
"Mommy" gumam Argatha
"Arga,, Arga udah bangun?" Manda mengusap air matanya lalu mendekati Argatha
"Mommy" Argatha mengigau dan dia terlihat gelisah didalam tidurnya
"Arga,, mommy disini sayang" ucap Manda menggambil tisu dan mengusap wajah Argatha yang berkeringat
"Mommy,, daddy,,, jangan tinggal Arga,, Arga takut,, mom,, dad,," lirih Argatha
"Arga mimpiin apa nak? Bangun dulu yuk" ucap Manda berusaha membangunkan Argatha yang masih gelisah dalam tidurnya
"Mommy,, daddy Nanda jahat mom,, Arga mau daddynya Arga" ucap Argatha
__ADS_1
"Arga,, Arga bangun dulu ya" ucap Manda
"Mommy,,, tolongin Arga" Argatha kini sudah mulai menangis dalam tidurnya
"Arga,,, Arga mimpi apa? Ayo bangun nak" Manda ikut menangis melihat anaknya begini
Beralih pada Nanda dan Bulan. Nanda berhasil mencengkram tangan Bulan dan membawanya ke tempat yang sepi.
"Kamu kenapa lari?" Tanya Nanda
"Kak,, mending semuanya kita akhiri sekarang aja,, aku ngga bisa lanjutinya, gini aja aku udah ngga kuat, apalagi nanti" ucap Bulan
"Ulan,, dengerin aku, aku ngga mau kita udahan, aku mau lanjutin ini" ucap Nanda
"Ulan ngga bisa, Ulan ngga kuat kak" gumam Bulan
"Belum dicoba belum tau Ulan" ucap Nanda tetap lembut, bagaimanapun Bulan masih remaja yang ingin dimengerti
"Ngga mau" Bulan masih tetap keras kepala
"Ulan sayang kakak?" Tanya Nanda
"Sayang, Ulan sayang banget sama kakak" jawab Bulan
"Kalau begitu kita harus berjuang bersama Ulan, kakak juga sayang sama Ulan" ucap Nanda
"Tapi kita ngga dapet restunya kak Manda, tanpa restu kita hancur kak" ucap Bulan
"Iya makanya kita harus berjuang bersama" ucap Nanda terus berusaha meyakinkan Bulan
"Pasti mau, kita berjuang sama-sama ya, ini demi kita" ucap Nanda
"Tapi kita udah hancur kak" ucap Bulan
"Kita ngga hancur Bulan, hubungan kita baik-baik aja, yang hancur hanya situasi sekitar kita, itu sebabnya aku mau memperbaiki semuanya, kamu mau kan?" Tanya Nanda
"Iya kak,, aku mau" jawab Bulan
Nanda tersenyum lega, dia menarik Bulan ke dalam dekapannya. Lalu dia membawa Bulan kembali ke apartemen, berharap semua masih berkumpul disana. Sesampainya di apartemen, Manda sudah berada diruang tamu bersama Amee, Della, Romi dan Krys.
"Mau apa lagi kembali?" Tanya Manda
"Nda,, gue,,,"
"Belum puas buat gue kesiksa? Bahkan Argatha sampe sakit, gue ngga nyangka lo bisa begini Nan" lirih Manda di akhir kalimatnya
"Kak,,," Bulan menatap Nanda, hendak pergi lagi tapi tangannya keburu ditahan sama Nanda
Nanda menarik Bulan agar duduk disebelahnya. Kemudian Nanda menatap dingin pada semua orang disana.
"Bulan,, Amee,, apa yang kalian lakukan sebelumnya?" Tanya Nanda
"Aku dan kak Amee hanya duduk diam, setelah itu kak Amee bilang dia mau menemui Gatha" jawab Bulan
__ADS_1
"Sebenarnya aku,,"
"Cukup Amee, setelah Amee pergi,, apa yang terjadi?" Tanya Nanda menatap Bulan
"Lalu kakak itu datang, dan pergi ke arah dimana kak Amee pergi" ucap Bulan menunjuk Della
"Apa kau mau menuduh kedua sahabatku?" Ucap Manda
"Ya,, aku tidak mungkin pelakunya" ucap Della
"Bulan tidak bilang kau pelakunya Della" ucap Nanda
"Nan,,"
"Manda diem" ucap Nanda menatap adiknya serius
"Gak bisa, aku ngga rela sahabatku dituduh" ucap Nanda
"Persetan sahabat, dia mau membunuhmu" ucap Romi
"Apa kau bilang?" Ucap Manda, pandangan reflek ke arah Della
"Aku sudah menyelidikinya, dia sudah mencampur sesuatu pada minumanmu beberapa tahun silam dan ingin menjualmu pada pria tua hidung belang" ucap Romi yang membuat semuanya terkejut bukan main
"Sudah ku duga,, lanjutkanlah Rom" ucap Nanda
"Dan orang yang akan membunuhmu saat kau akan melahirkan, orang itu adalah dia" ucap Romi menunjuk Della
"Apa? Itu tidak mungkin" ucap Manda tak percaya
"Kau bisa bertanya padanya, dia tidak tulus padamu, dia hanya memanfaatkanmu agar dia bisa dekat dengan Nanda" ucap Romi
"Lalu kenapa dia mau membunuhku kalau itu alasannya? Tidak masuk akal" ucap Manda
"Kau bisa bertanya padanya" ucap Romi
"Dell,, bilang kalau semua itu ngga bener" ucap Manda
"Iya itu semua bener" ucap Della
"Kenapa?" Tanya Manda Lirih
"Karena lo udah bikin gue gagal terus buat deketin Nanda, lo selalu muncul saat gue hampir berhasil deketin Nanda" ucap Della mengakui semuanya
"Gue ngga percaya lo sejahat ini Dell" ucap Manda tak percaya
"Lo kagak percaya karena lo terlalu bodoh Nda, lo gak curiga gimana caranya lo mabuk padahal lo kagak minum alkohol" ucap Della
"Jadi kau yang membuat kami jadi saling bermusuhan seperti sekarang?" Tanya Bulan
"Ya,, aku yang berbicara pada Argatha" ucap Della
"Astaghfirullah,, kenapa aku bisa tersiksa hanya karena cinta pada orang-orang terdekat" ucap Manda frustasi
__ADS_1
"Inilah yang dinamakan siksaan cinta, bukan hanya untuk pasangan, tapi juga bisa untuk persahabatan"