
Perhatian, bab ini horor tapi ngga horor-horor banget, ini kejadian nyata yang pernah dialami aku sama temenku.
Lama ugal-ugalan dalam terowongan yang membuat senam jantung, akhirnya kini Nanda dan Iqbal sampai diujung terowongan itu. Eits tapi jangan santai dulu. Saat sudah keluar dari terowongan, Nanda dan Iqbal dihadang oleh mahluk raksasa tanpa kepala dengan celurit dikedua tangannya. Nanda reflek menghentikan motornya dan Iqbal yang melihat itu tercengang kaget. Iqbal yang tidak punya kelebihan seperti Nanda saja bisa melihatnya dengan jelas, apalagi Nanda.
"Nan,, ini malaikat maut kah?" Tanya Iqbal dengan suara bergetar
"G-gue gak tau Bal,, semoga jangan" jawab Nanda tak kalah gemetar, bukannya takut mati, Nanda hanya takut tidak ada yang menjaga Manda saat dirinya tiada nanti
"Coba jalan terus aja Nan" pinta Iqbal sudah mau ngompol rasanya karena ketakutan
"Gak bisa Bal, motonya gak mau nyala" berulang kali Nanda mencoba menghidupkan motornya tapi tidak bisa
"Allahuakbar" Iqbal tak tau lagi harus bicara apa
Sementara makhluk raksasa itu hanya diam menghadap mereka.
"Kok nih makhluk gak nyerang kita ya?" Tanya Iqbal
"Ya lo jangan berharap dia nyerang b3go" Nanda menjitak pelan kepala Iqbal
"Kagak berharap gue, cuma dia kayak gak liat kita" ucap Iqbal memperhatikan mahluk didepannya ini
"Lo buta apa gimana? Tuh kep4lanya buntung gitu" Nanda mulai jengkel dengan Iqbal, mana motornya ga nyala-nyala lagi
"Bensinnya coba Nan" ucap Iqbal
"Masih penuh" Nanda membuka tangki bensin didepannya dan beneran masih penuh
"Ya Allah,, tolong kami" pinta Iqbal dengan sungguh-sungguh
Dan ajaibnya,,, motor langsung nyala, seampuh itukah doa seorang Iqbal? Nanda mulai melajukan motornya kembali menambr4k makhluk itu, bukan nabrak tapi mereka nembus mahluk itu.
"Nanda,,, Iqbal,,," terdengar suara misterius dari arah belakang
"Nan, itu kek suara Manda" Iqbal mendengar suara Manda yang memanggil mereka
"Nyebut Bal, itu bukan Manda" Nanda tentu saja mendengarnya juga, tapi dia tidak mau ambil resiko
"Astaghfirullahalazim" Iqbal beristighfar lalu menoleh ke belakang
Betapa terkejutnya Iqbal melihat kunt1lanak terbang dengan wajah yang sudah hancur dan gaun putihnya yang sudah berlumuran d4rah tengah mengejar mereka. Terungkap lah yang memanggil mereka dengan suara Manda itu adalah Kunt1lanak itu. Iqbal semakin mengeratkan pelukannya pada Nanda sehingga tanpa sadar meremas kuat perut Nanda yang membuat Nanda meringis, apalagi kuku Iqbal panjang jadi serasa menusuk diperut Nanda.
"Bal,, lo nggapapa?" Lama terdiam, Nanda menepuk tangan Iqbal diperutnya
Iqbal kemudia menggeram tertahan dan mulai memberontak- Iqbal kesurupan. Nanda menghentikan motornya lalu membawa Iqbal yang terus memberontak untuk dibaringkan dipinggir jalan.
"Bal,, sadar Bal" Nanda menepuk pipi Iqbal bahkan sesekali menampar Iqbal agar Iqbal sadar
Karena belum sadar juga, akhirnya Nanda mengeluarkan ilmunya yang sudah lama dia pendam- menyembuhkan orang kesurupan dengan khodam yang ia miliki. Nanda punya khodam? Jadi begini ceritanya
Flashback on
Tepat disaat kelas 2 SMA, Nanda terpilih ikut kegiatan pramuka yang kebetulan diselenggarakan di kota kelahiran mamanya -Banyuwangi. Hanya Nanda saja anak kelas 11 yang ikut, sisanya yang ikut kelas 12. Kemah itu diselenggarakan di pantai Watu Dodol.
"Maaf bu, ini ngga salah kita kemahnya dipantai? Kalau ada tsunami gimana bu?" Tanya salah satu siswi pada wali kelasnya
"Tidak akan terjadi apa-apa, disini semuanya aman, pihak sekolah sudah memeriksa jauh-jauh hari, jadi sudah dipastikan akan aman" jawab guru itu
"Gimana Nan? Pemandangannya bagus, kita bisa liat Bali dari sini" Dito- kakel Nanda yang memaksanya ikut dalam kegiatan ini
"Hmm,, bagus" jawab Nanda
__ADS_1
"Gue dengar gadis sini cantik-cantik" Dito berujar seperti tidak pernah melihat gadis cantik saja
"Kayak lo ngga pernah liat cewek cantik aja bang" Nanda mewakilkan aku yang emang mau tanya sama si Dito
"Beda Nan, cewek Jakarta udah kecampur skincare semua" ucap Dito terkekeh
"Serah lo dah bang" Nanda pasrah
"Lo setuju kan kalo orang suku sini pada cakep?" Tanya Dito
"Iyaa, mama gue juga dari suku itu" ucap Nanda
"Serius?" Mata Dito membola saking kagetnya
"Iya, suku Osing" ucap Nanda
"Hemm, tapi serius, orang-orang suku itu katanya udah bening dari lahir, ga ada yang namanya produk gagal" ucap Dito
"Dikira barang, produk gagal" Nanda jengkel tapi bisa-bisanya sambil bercanda
"Haha eh, itu patung penari apa Nan?" Dito menunjuk patung penari yang menjadi ciri khas Banyuwangi
"Patung Gandrung, mama gue dulu waktu muda jadi penari disini, termasuk penari Gandrung juga" Nanda berucap dengan bangganya pada mendiang sang mama
"Wih keren" Dito terkagum-kagum mendengarnya
"Lebih keren lagi kalau lo foto tuh Gandrung" ucap Nanda
"Yaelah foto doang" ucap Dito
"Ini malem Jum'at, ada kejutan kalau lo foto Gandrungnya" ucap Nanda sedikit memaksa
"Oke gue foto" Dito mengeluarkan ponselnya lalu mulai memfoto patung Gandrung itu sekali
"Beda gimana?" Dito malah kebingungan
"Posisi Gandrungnya berubah" ucap Nanda
"Kagaklah, mana bisa" ucap Dito tak percaya
"Kalau gitu, coba liat sendiri" ucap Nanda yang langsung dituruti oleh Dito
"BANGS4T" Dito berteriak memaki ponselnya
"Dito! Jaga bicaramu" tegur pak Arif selaku kepsek
"Pak, liat ini pak" Dito menunjukkan hasil fotonya dengan tangan gemetar
"Astaghfirullah" pak Arif melihat foto dan patungnya secara bergantian dengan ekspresi panik dan takut bercampur jadi satu
Bagaimana tidak, patung yang memunggungi mereka saat difoto malah jadi menghadap ke arah mereka dengan tatapan melotot yang super menyeramkan.
"Dito, jangan foto patung itu lagi" perintah pak Arif
"Iya pak, saya juga trauma mau ngefoto lagi" ucap Dito
"Pak Ahmad, tolong peringatkan pada anak-anak agar tidak mencoba untuk mengfoto patung penari itu" pinta pak Arif pada pak Ahmad yang masih melongo tak percaya dengan apa yang dia lihat
"Baik pak, kalau begitu saya permisi" ucap pak Ahmad selaku kepala panitia kegiatan itu
"Kalian berdua, kembali ke tenda" ucap pak Arif
__ADS_1
"Baik pak" ucap Nanda dan Dito serempak
Sebelum pergi, Nanda menoleh ke arah patung Gandrung itu yang bisa dilihat dengan jelas oleh Nanda kalau patung itu sedang menatap ke arahnya sambil tersenyum manis namun sedetik kemudian, wajahnya kembali datar.
Malam harinya, semua sudah tidur di tenda masing-masing. Nanda keluar dari tenda dan berdiri mematung menatap laut lepas.
"Nanda" entah dari mana asalnya, tapi Andera sudah berdiri didepan Nanda dengan menggunakan pakaian lengkap penari Gandrung
"Mama" Nanda hanya diam mematung mengamati sang mama
ARGHH
tiba-tiba terdengar suara teriakan dari tenda putri. Nanda menatap Andera yang tersenyum kemudian menghilang dari pandangannya. Nanda dengan cepat berlari ke arah keributan yang ternyata sudah banyak siswa siswi yang terjaga akibatnya.
"Ada apa?" Tanya Nanda pada Dito
"Ada yang kesurupan"
Deg
"Apa lagi ini, ya Allah" Nanda mendesah kasar kemudian menerobos masuk ke dalam tenda itu
Dan didapati seorang siswi dari sekolah lain yang tidak Nanda kenali terus berteriak dan memberontak. Ada 5 siswi lainnya yang memegangi dan 1 guru membaca Al-Qur'an tepat didepan siswi yang kesurupan itu. Bukannya tenang, siswi itu malah semakin memberontak.
Nanda mengambil hpnya dan menyalakan musik iringan penari dengan volume full sehingga semua perhatian tertuju padanya.
"Minggir" itu bukan permintaan tapi perintah dari Nanda
"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya guru yang mengaji tadi
"Bawa dia keluar" bukannya menjawab, suara datar Nanda justru memerintahnya
Mereka hanya mengikuti apa yang dikatakan Nanda karena pikiran mereka benar-benar sudah buntu. Nanda? Entah dapat ide dari mana, intinya dia melakukan semua tanpa sadar. Diluar tenda, Nanda membentuk simbol mahkota Gandrung diatas pasir pantai dan duduk bersila diatasnya. Diluar dugaan semua orang, siswi yang kesurupan itu menari-nari mengelilingi Nanda yang duduk diam dengan pandangan kosong. Orang-orang disana tentu saja heran melihatnya, hingga lama kelamaan Nanda menggeram seperti suara harimau. Semua orang mulai panik karena menggira Nanda juga kesurupan, tapi mereka tidak tau harus berbuat apa selain memandangi apa yang terjadi selanjutnya.
Setelah putaran ke 7, Nanda melompat dan menerkam siswi itu, Mengunci kedua tangan siswi itu sehingga tidak bisa lepas. Semua orang terkejut + panik, tapi seolah menjadi patung -tidak bisa bergerak. Kemudian Nanda menekan dada siswi itu lalu perlahan tangannya menaik berusaha mengeluarkan arwah itu lewat mulut si siswi. Saat arwah itu keluar, siswi itu pingsan. Nanda menekan kening siswi itu lalu membacakan doa yang Nanda sendiri tidak tau doa apa, intinya semua dilakukan diluar kesadaran Nanda.
Uhukk
Siswi itu membuka matanya dan menatap Nanda dalam. Mata Nanda mulai tertutup dan akhirnya Nanda pingsan.
*Dialam bawah sadar Nanda
"Tuanku" 2 suara muncul dari arah belakang Nanda
Nanda menoleh dan mendapati seekor macan kumbang dan seekor barong berada didepannya
"Siapa kau?" Nanda berusaha menetralkan raut wajahnya
"Panggil aku Kusuma, aku diutus ibumu untuk melindungimu, tuanku" ucap si macan kumbang
"Dan aku adalah Sunarudara, barong yang memberimu kekuatan untuk melawan makhluk halus yang jahat padamu tuanku" kali ini Barong yang berucap
"Kalian akan melindungi ku?" Beo Nanda
"Benar tuanku" ucap Kusuma
"Kami adalah khodam dalam dirimu" ucap Sunarudara
Semenjak saat itulah, Nanda memiliki khodam pengikut. So jangan heran kalau Nanda bisa menyembuhkan orang kesurupan, karena itu sangat mudah bagi Nanda dengan bantuan kedua khodam nya ini. Dan saat itu juga, kota Banyuwangi mereka sebut dengan kota Penari karena roh disana kebanyakan adalah roh leluhur penari.
Bahkan kedua khodam Nanda juga penari, jadi kalau Nanda kesurupan dan mendengar suara kendang gamelan, Nanda bisa menari juga, dan Nanda tidak bisa disadarkan hanya dengan bacaan Al-Qur'an semata, Karena roh penari jauh lebih taat agama daripada manusia, jadi otomatis lebih kuat.
__ADS_1
Flashback off