SKY PATH

SKY PATH
diluar jangkauan


__ADS_3

Hari berganti Minggu dan berganti bulan. Tak terasa sudah satu tahun Arkan dan Manda menjalani pernikahan. Romi dan Krys sudah menikah setelah 6 bulan pernikahan Manda dan Arkan. Angkasa dan Angel juga sudah memiliki anak laki-laki yang diberi nama Arrayan Syaputra. Krys tengah hamil 3 bulan. Nanda sudah berhasil mendirikan perusahaan yang bekerja di bidang pariwisata, perusahaan itu berkembang dengan pesat walaupun baru berdiri. Bahkan sekarang Nanda menduduki peringkat nomor 1 pengusaha muda paling sukses tapi juga paling dingin diKanada, semua mungkin juga karena darah Alvaro-si CEO dingin mengalir dengan kental dalam tubuhnya. 


Saat ini, mereka tengah berkumpul diapartemen Nanda. Argatha dan Krys tengah asik bermain dengan Rayan, sementara para orang dewasa lainnya sedang berbincang diruang tamu.


"Abang,,, Ulan mau nikah juga" rengek Bulan pada Angkasa 


"Yaudah nikah aja" ucap Angkasa 


"Tuh, ayo kak Nanda,,, kita kapan nikahnya?" Tanya Bulan pada Nanda


"Kata abangmu kan kita menikah kalau usiamu sudah masuk 20 tahun, Ulan" jawab Nanda


"Ih,,, bang Angkasa aja nikahnya umur 19" ucap Bulan 


"Beda, kalau abang udah punya pemikiran dewasa, kalau kamu gimana?" Tanya Angkasa


"Ulan udah dewasa kok" jawab Bulan cepat


"Yakin udah dewasa? Udah bisa cari kerja belom?" Tanya Angkasa


"Udahlah, Ulan udah punya KTP" jawab Bulan


"Coba besok cari kerja, selain model" tantang Angkasa


"Kalau berhasil, Ulan boleh nikah ya?" Tanya Bulan menerima tantangan itu


"Iya boleh" jawab Angkasa karena tidak yakin kalau bulan akan dapat pekerjaan dalam waktu 1 hari


"Yes!! Kak Nanda, nanti nikahnya Ulan mau kayak kak Manda sama kak Arkan ya?" Ucap Bulan dengan manja pada Nanda 


"Iya Ulan" jawab Nanda gemas mengacak-acak rambut Bulan


"Ih kak Nanda,,, rusak kan rambut Ulan" ucap Bulan kesal


Mereka yang ada disana hanya bisa tertawa dan ikut gemas. Bulan sudah seperti adik kecil mereka. Bulan pintar tapi dia polos. ngomongnya selalu jujur, dan itulah yang membuat mereka gemas dengan Bulan. Keesokan harinya, Bulan benar-benar mencari pekerjaan. Bulan masuk ke salah satu rumah makan.


"Permisi bu, saya mau melamar pekerjaan" ucap Bulan saat tiba diruang manager 


"Berapa usiamu?" Tanya manager wanita itu 


"19" jawab Bulan


"Apa keahlianmu?" Tanya Manager itu lagi


"Tidak ada" jawab Bulan jujur


"Astaga,, lalu kau mau apa disini?" Manager itu geram 


"Cari kerja" jawab Bulan polos


"Baiklah ikuti aku" ucap Manager itu


"Baik" Bulan mengikuti jejak manager itu


Manager membawa Bulan ke dapur. Bulan tidak bisa membuat makanan lain selain kue. 


"Lihat, ini namanya pemanggang, kau bisa memanggang daging dengan ini. Kau bisa belajar dari orang-orang disini" ucap manager mulai menjelaskan setiap benda yang ada didapur "dan ini, kau bisa mencuci piring disini, ingat, ini mesin cuci otomatis, jadi kau harus menekan tombol ini dan ini untuk menyalakan, lalu tombol ini untuk memberhentikan, tombol ini untuk mengeringkan, dan terakhir, tombol ini untuk membuka dan menutup" ucap manager memberitahu tentang tombol-tombol yang ada di mesin itu


Bulan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia bingung, tidak mengerti.


"Apa kau mengerti?" Tanya Manager itu


"Tidak" jawab Bulan kelewat jujur

__ADS_1


"Puji tuhan,,, baiklah kau tidak dipekerjakan didapur" ucap manager itu kembali pergi


Bulan hanya mengikuti manager itu dari belakang. Manager itu membawa Bulan ke tempat para pelanggan menikmati pesanan mereka.


"Tugas kamu paling gampang ini, kamu tinggal mengelap meja sampai bersih. Kamu mengerti kan? Kalau tidak, kamu tidak diterima disini" ucap Manager itu


"Baik, saya mengerti bu" ucap Bulan


"Baiklah, mulai besok kamu bisa bekerja disini" ucap manager itu


"Baik, terimakasih bu" ucap Bulan


Manager itu hanya mengangguk. Bulan pun dengan hati gembira keluar dari restoran itu dan pergi ke kantor Angkasa.


"ABANG!!"


"Allahuakbar"


Angkasa terperanjat kaget saat Bulan tiba-tiba datang dan mengejutkannya. Angkasa hanya bisa geleng-geleng kepala sambil mengelus dadanya yang berdetak sangat kencang.


"Kenapa?" Tanya Angkasa ketus


"Ketus banget sama adek sendiri" ucap Bulan mengerucutkan bibirnya


"Kenapa, hmm?" Tanya Angkasa lebih lembut tapi dengan kekesalan tertahan


"Aku diterima kerja" ucap Bulan antusias


"Kok bisa?" Tanya Angkasa tak percaya


"Ya bisalah" jawab Bulan


"Dimana?" Tanya Angkasa lagi


"Kerjanya" jawab Angkasa


"Kenapa kerjanya?" Bulan bertanya dengan polosnya yang kelewatan tak tertolong


"Astaghfirullah!!" Angkasa mengusap wajahnya frustasi


Punya adik yang polos tak tertolong seperti Bulan memang harus memiliki tingkat kesabaran setebal lapisan bumi. Tidak cocok untuk Angkasa yang kesabarannya setipis tisu dibagi dua dan terkena air.


"Bulan,, adikku yang paling polos dan menguji kesabaran,, dengerin abang ya,,, Ulan kerjanya dimana?" Tanya Angkasa berusaha tidak emosi


"Oh jadi abang mau nanyain Ulan kerja dimana? Bilang dong dari tadi" ucap Bulan


"Kan udah Ulan,, sayangku, Cintaku, obat darah rendahku" ucap Angkasa berusaha melawan kefrustasiannya agar tetap waras saat ada Bulan disampingnya


"Oke oke,, Ulan kerja direstoran deket kantornya kak Nanda. Besok Ulan udah mulai kerja" jawab Bulan


"Oh bagus, lanjutkan" ucap Angkasa 


Keesokan harinya, Bulan sudah mulai bekerja direstoran itu. Biarpun bukan restoran yang besar tapi tidak apa, Bulan tetap semangat bekerja. Bulan pergi bekerja dengan diantar sopir pribadinya. Satu hari kerja Bulan lalui dengan santai, tapi dia sempat dibully oleh beberapa pekerja disana. Saat jam pulang sudah tiba, manager menghampiri bulan yang sudah dijemput sopirnya.


"Bulan,,, daripada kamu makai jaga Driver, mending bareng saya saja" ucap manager itu


"Tidak perlu bu manager, ini bukan driver tapi sopir pribadi saya" jawab Bulan


"Sopir?" Beo manager itu 


"Iya bu, saya permisi ya" ucap Bulan ingin masuk ke dalam mobilnya 


"Tunggu, ini mobil kamu?" Tanya Manager, dia pikir Bulan anak rantauan yang butuh pekerjaan untuk bertahan hidup, tapi mobil Bulan tidak meyakinkan

__ADS_1


"Iya bu" jawab Bulan


"Lalu kalau kamu punya mobil bagus, untuk apa kamu bekerja disini?" Tanya manager itu


"Untuk meyakinkan abang saya, kalau saya bisa kerja, biar saya diizinkan menikah" jawab Bulan 


"Menikah? Kerja? Oh, calon suami kamu orang sederhana?" Tebak manager itu


"Bukan bu, calon suami saya itu sukses kok, ini orangnya" Bulan menunjukkan fotonya bersama Nanda 


"I-ini kan tuan Nanda" guman manager itu, tentu saja dia tau siapa Nanda


"Iya, itu calon suami saya"


Bulan kembali ke rumahnya dengan keadaan bibir yang ditekuk ke bawah. Kebetulan dirumah juga ada Nanda yang sedang berbincang dengan Angkasa.


"Kenapa?" Tanya Angkasa 


"Aku dipecat" rengek Bulan duduk dan memeluk Nanda dari samping 


"Udah ku duga" ucap Angkasa


"Masa baru sehari kerja udah dipecat" ucap Bulan


"Kenapa bisa dipecat?" Tanya Nanda


"Gatau, managernya tadi langsung pecat aku gara-gara dia tau kalau Ulan calon istrinya kak Nanda, kak Nanda Jahat" ucap Ulan kesal sendiri pada Nanda


"Ya lo bego, ngapa dikasih tau?" Tanya Angkasa 


"Ihh kak Nanda,, Ulan dikatain bego sama bang Angkasa" adu Bulan pada Nanda


"Gitu doang ngadu" cibir Angkasa


"Kak, tadi Ulan dibully sama temen-temen" adu Bulan lagi pada Nanda 


"Siapa yang berani bully Ulan? Biar nanti abang yang urus" tanya Angkasa, biarpun dia kesal dengan Bulan, tapi Angkasa tidak akan terima kalau Bulan dibully


"Temen-temen pas kerja" jawab Bulan


"Gimana mereka ngebully Bulan?" Tanya Nanda


"Mereka bilangnya Ulan kayak princess manja" jawab Bulan, matanya mulai berkaca-kaca sekarang 


"Kok bisa?" Tanya Angkasa dan Nanda bersamaan 


"Gara-gara Ulan berangkat dianter sopir" jawab Bulan


"Bentar-bentar, kamu kerja direstoran kecil, tapi diantar sama sopir?" Tanya Nanda 


"Iya,, terus tadi karena Ulan juga pas istirahat itu duduk kan disalah satu kursinya,," cerita Bulan


"Iya terus?" Tanya Angkasa


"Terus Ulan pesen makan,,," 


"BEGO!!" Pekik Angkasa 


"Ihh Ulan gak bego!" Sentak Bulan


"Lo pesen makan ditempat lo kerja? Dan lo berangkat kerja direstoran kecil tapi lo dianter sama sopir?" Tanya Angkasa geram


"Iya, yakan wajar, Ulan gak bisa bawa mobil" ucap Bulan

__ADS_1


"Wajar lo bilang?!! Wahh, diluar jangkauan otak gue" ucap Angkasa frustasi 


__ADS_2