
Amee, Krys dan Manda bagian memasak. Mereka memasak dengan santai sambil bersenandung ria. Selesai memasak, mereka menyuruh Nanda dan Romi untuk membawa seblak buatan mereka.
"Apa ini enak?" Tanya Romi ragu karena dari penampilan tidak menjamin
"Kau meragukan kami?" Tanya Amee
"Tidak tidak, aku hanya tanya karena aku belum pernah mencobanya" ucap Romi, lebih baik menghindar darpada melawan
"Itu enak, kami sudah mencobanya tadi" ucap Krys
"Emm baiklah" akhirnya Romi mengalah dan menyuap 1 sendok seblak ke dalam mulutnya
"Gimana?" Tanya Amee
"Enak, hanya saja terlalu pedas" ucap Romi
"Seblak memang pedas Rom" ucap Manda
"Iya,, aku baru tau" ucap Romi kikuk
"Sudahlah, mari makan" ucap Amee mengambil bagian miliknya
Selesai makan, mereka membereskan cucian kotor karena ulah mereka. Kalau diKanada malam, berarti diIndonesia siang. Lagi dan lagi, Arkan pulang ke Indonesia karena papanya- Mario sakit dan harus dirawat.
"Bagaimana kondisi papa?" Tanya Arkan
"Seperti yang kau lihat, hanya tinggal menunggu malaikat menjemput" ucap Mario
"Jangan berkata seperti itu, aku masih butuh papa disini" ucap Arkan
"Papa sudah tua Arkan, kau sudah dewasa dan bisa hidup mandiri" ucap Mario
"Tetap saja, aku masih butuh papa sebagai orang tuaku" ucap Arkan, dia memang sensitif kalau ada orang terdekatnya yang membicarakan kematian
"Baiklah Arkan, Lance mana? Biasanya kalian selalu berdua" tanya Mario mencari Lance
"Ibunya juga dirawat disini" jawab Arkan
"Sakit apa?" Tanya Mario
"Kanker rahim" jawab Arkan
__ADS_1
"Astaga,, lalu bagaimana?" Tanya Mario lagi
"Sudah operasi dan masih tahap pemulihan" jawab Arkan
"Puji tuhan" gumam Mario. bagaimanapun, ibunya Lance sudah seperti kakak baginya, bahkan dia pernah memberikan asi secara cuma-cuma pada Arkan kecil dulu. Jadi Arkan dan Lance itu saudara sepersusuan.
Lama menjaga Mario, sampai Mario tertidur. Arkan keluar berniat akan menjenguk ibu susunya, namun dia malah mendapati Lance duduk menunduk di ruang tunggu.
"Ada apa?" Arkan duduk disebelah Lance dan menepuk pundak Lance
"Kita pergi sekarang?" Lance malah bertanya balik
"Ayo" Arkan memilih tidak menanyakan apa-apa dulu, nanti juga Lance akan cerita sendiri
Selama perjalanan, tidak ada percakapan antara mereka. Keadaan mobil sunyi, hanya terdengar suara mesin mobil. Sungguh canggung rasanya.
"Bunda meninggal" kalimat singkat yang berasal dari mulut Lance mampu membuat Arkan tegang sampai menghentikan mobilnya
"Bagaimana bisa?" Tanya Arkan lirih
"Kita bicara disana?" Lance menunjuk restoran didepan mereka
Mereka masuk dan memesan ruang vip agar bisa leluasa bercerita.
"Entahlah, bunda bilang mau tidur, tapi detak jantungnya malah berhenti" ucap Lance mendongak agar air matanya tidak jatuh
"Nangis aja, gue paham gimana rasanya" ucap Arkan
"Sakit hati gue Kan, gue belum bisa bahagiain bunda" Lance akhirnya menyerah dan menangis didepan sahabatnya ini
"Gue paham apa yang lo rasain, nangis aja, dan jangan ragu ungkapin semuanya sama gue" Arkan juga sudah menganggap ibunya Lance sebagai ibunya juga, karena dari kecil mereka diasuh bersama. Itulah sebabnya rasa sakit yang dialami Lance juga dialami oleh Arkan
"Pedih banget rasanya ati gue Kan, kayak ada racun yang berusaha ngebunuh gue secara perlahan" Lance menepuk dadanya guna menghilangkan rasa sesak disana
"Gue ngerti Lance" ucap Arkan, kini air matanya juga sudah tumpah
"LO GAK NGERTI, LO GAK NGERTI RASANYA!" bentak Lance
"Gue juga rasain hal yang sama kayak lo Lance" ucap Arkan tidak mau marah karena tau kalau Lance saat ini sedang butuh pelampiasan, sebagai sahabat yang baik, dia rela jadi bahan pelampiasan amarah Lance
"LO GAK NGERTI GIMANA RASA SAKIT GUE SEKARANG ARKAN!" bentak Lance
__ADS_1
"Iya, gue gak ngerti! Gak ada yang ngerti perasaan lo selain diri lo sendiri" ucap Arkan akhirnya mengalah
"Sakit" gumam Lance
"Lo tenang aja, gue disini nemenin nangis lo, lo nangis aja yang kenceng, gak perlu malu" ucap Arkan
"Gue gak mau keliatan lemah Kan, gue lemah ya?" gumam Lance
"Lo gak lemah Lance, kalau air mata cara lo buat nenangin ati lo, nangis aja, keluarin semua, gue temenin lo terus" ucap Arkan
"Pedih,, perih,, sakit gue, tertusuk ribuan duri yang nusuk gue sampe reluh hati yang paling dalam, ditinggalin sama orang yang gue sayangi berkali-kali dalam waktu yang singkat, lo gak tau rasanya" ucap Lance menepuk dadanya
"Gue emang gak tau, tapi rasanya jelas aja sakit, itu sebabnya gue bakal cabut duri pedih lo itu, tapi secara perlahan" ucap Arkan mengikuti omongan ngelantur Lance
"Hidup gue lucu banget ya Kan, baru aja bulan lalu bapak gue dimakamin, minggu lalu kakek gue nyusul, dan sekarang bunda juga nyusul, kompak banget mereka, sempurna banget sakit gue, dipeluk nestapa, tersapu derita, kek sinetron aja hidup gue" ucap Lance
"Nangis aja nangis, lo mau nangis jangan ditahan, mata lo udah merah gitu" ucap Arkan, bohong kalau Arkan tidak sakit melihat sahabatnya begini
"Gue gak bisa nangis lagi anj1ng, air mata gue dah kering, dari tadi nangis diem-diem, air mata gue udah gak mampu nahan pedih yang gak ada habisnya ini Kan" ucap Lance menatap Arkan dalam
"Gue janji bakal selalu hibur lo biar lo gak ngerasain pedih itu lagi" ucap Arkan
"Apa untungnya buat lo ngelakuin ini buat gue?" Tanya Lance
"Gue biarin lo nangis hari ini, gue biarin lo luapin amarah lo, gue janji bakal cabut duri pedih diati lo, karena gue juga sakit liat lo begini. Gue pengen liat senyuman ditidur lo malam nanti" ucap Arkan sungguh-sungguh
"Makasih makasih, lo emang sahabat gue" ucap Lance mendekat dan memeluk Arkan, tapi pelukan versi laki-laki ya.
"Sabar ya Lance, anggap semua ini sebagai satu langkah lo buat dewasain diri" Arkan menepuk punggung Lance, menyalurkan seluruh sisa energi untuk Lance
Tak mau larut dalam kesedihan, Arkan dan Lance pergi ke taman bermain. Banyak ABG yang bermain disini, tapi rata-rata banyak anak kecil, Arkan dan Lance tidak merasa tua dengan pakaian mereka yang formal, berbeda dengan pengunjung lain yang hanya menggunakan pakaian santai. Biarpun mereka terlihat seperti orang dewasa, umur tidak bisa berbohong kalau mereka masih berusia 18 tahun, masih anak muda yang juga butuh kesenangan. Mereka menghabiskan malam ditaman bermain itu, tentunya mereka memainkan permainan anak seusia mereka seperti melempar bola ke dalam lubang, memanah, menembak, dan masih banyak lagi.
"Liat deh, kebanyakan mereka pada bawa pacar" ucap Lance memperhatikan pasangan ABG
"Biarin aja, sama sahabat lebih asik" ucap Arkan
"Bener sih, tapi gue mau nyari cewek dulu lah, lo gak nyari?" Tanya Lance
"Gak, gue dah punya cewek, hampir punya anak bahkan" ucap Arkan
"Idih, kalo dia mau sama lo" ucap Lance
__ADS_1
"Sirik banget lo, kalau dia gak mau ya gue ambil anaknya dulu baru ambil mamaknya" ucap Arkan mulai halu