
Hari ini sudah H - 4 mereka diIndonesia dan tinggal 2 hari lagi mereka pulang ke Kanada. Romi keluar dari Mansion pagi-pagi buta, entah kemana perginya. Yang diharapkan ya,, semoga Romi tidak tersesat. Setelah sarapan, Nanda dan Manda duduk diruang tamu.
"Nih si Romi kemana ya? Tumben pergi kagak izin" ucap Nanda
"Dikira lo orang tuanya apa, pake izin segala" ketus Manda
"Ya biar gue tau dia kemana" ucap Nanda tak kalah ketus
"Dih emang kalau lo tau, lo bakal nyamperin dia?" Tanya Manda sewot
"Ya ga lah, tapi kalau dia nyasar kan enak nyarinya" jawab Nanda
"Udahlah palingan bentar lagi juga balik" ucap Manda
"Kalo ngga balik-balik?" Nanda bertanya dengan iseng
"Ya lo jangan ngomong gitu,, ketek onta" ucap Manda
"Emang unta punya ketek?" Goda Nanda
"Tau ah" ucap Manda
"Siah ngambek" Nanda semakin gempar menggoda
"Kagak" elak Manda
"Ngaku aja napa,, Tau ah" ejek Nanda menirukan gaya bicara Nanda
Manda yang kesal pun langsung saja menendang kaki Nanda.
"Awhh,, sakit bangs4t" maki Nanda mengelus kakinya yang terkena tendangan Manda, biarpun Manda perempuan,, tapi tendangannya ngga main-main
Kalau diingat-ingat, kejadian ini sama seperti kejadian dimall beberapa tahun yang lalu.
Flashback on
2 tahun yang lalu, tepatnya saat usia mereka 16 tahun. Nanda dan Manda sedang berjalan-jalan dimall. Tidak ada angin dan tidak ada hujan,, Nanda tiba-tiba menendang kakinya Manda.
"Awhh" Manda meringis saat Nanda menendang kakinya
"Hahaha" Nanda tertawa lepas karena berhasil mengerjai adiknya, tapi itu tidak bertahan lama
Bugh
"Awh" ringis Nanda
"Impas haha" Manda tertawa setelah berhasil membalas perbuatan Nanda berkali-kali lipat
Ya,, Manda balas menendang kaki Nanda, tapi dengan tendangannya yang super kuat itu. Alhasil Nanda tersungkur dilantai. Mana banyak orang lagi, bayangkan betapa malunya Nanda saat itu. Beruntunglah dia memakai masker.
Mau lihat visualnya Nanda jatoh gegara ditendang Manda? Cek akun Instagram @mt4.md_ ya
Flashback off
"Rasain tuh" Manda baruuu saja akan pergi tapi dihentikan dengan suara,,,
"Halo guys, aku kembali" pekik Romi
"Eh lo dari mana pe'a'?" Tanya Nanda, sementara Romi hanya planga-plong tak mengerti
"Woi Nan, dia mana paham bahasa lo Ta1k" maki Manda
"Ekhemm kau dari mana?" Ulang Nanda tapi kali ini memakai bahasa inggris
"Dari supermarket" jawab Romi
"Kau tau jalan?" Nanda mengangkat sebelah alisnya
"Yup,, aku mampir dulu ke taman" ucap Romi kelewat santai
"Kau tau Rom, Nanda seperti orang gila karena kau tidak ada dirumah" ucap Manda yang diakhiri dengan tawanya
"Hahaha ada-ada saja, oh iya Nda, ini untukmu" Romi menyerahkan paper bag yang ia bawa
"Apa ini?" Meski bingung, Manda tetap menerimanya
"Selamat hari valentine" ucap Romi
"Makasih, tapi kami umat Islam tidak boleh merayakan hari valentine" ucap Manda agak canggung jadinya
"Aku tau, tapi kau boleh menerima hadiah dari temanmu kan?" Ucap Romi
"Iya boleh,, terimakasih sekali lagi" Manda sedikit menundukkan kepalanya sebagai tanda terimakasih
"Sama-sama,, kalau begitu aku mau sarapan dulu" ucap Romi
"Baiklah" balas Manda lalu Romi pergi dari sana
"Enak tuh dikasih hadiah" Sindir Nanda setelah Romi pergi
"Iri? Bilang bos" ucap Manda tak terima
__ADS_1
"Ga iri, makasih bos" balas Nanda
Hening
"Nan,," Manda mulai buka suara dengan nada manjanya
"Apa?" Nanda menjawab tapi pandangan fokus pada game online di ponselnya
"Mau buket bunga" rengek Manda
"Hah? Random amat" ucap Nanda
"Ayolah Nan beliin" Manda terus merengek sambil menggoyangkan lengan kekar Nanda
"Assalamualaikum"
"Waalaikum'salam" jawab mereka berdua
"Lagi ngapain?" Iqbal lah orang yang masuk tanpa izin dan hanya mengucapkan salam itu saja
"Kamu nanya" balas Nanda jengkel
"Kebetulan ada Iqbal" Manda menatap Iqbal dan Nanda bersamaan
"Kenapa?" Tanya Iqbal bingung
"Beliin buket" ucap Manda
"Siang-siang gini ngga ada yang jual Nda,, adanya nanti malem, nanti aku beliin ya" Iqbal membuat suaranya selembut mungkin dan itu membuat Nanda muak
"Hmm yaudah deh" Manda menjawab dengan lesu sambil memainkan ujung kaos yang Nanda kenakan
"Hai,, ada tamu" Romi datang dari arah meja makan dan menyapa mereka
"Hai,, saya Iqbal, temannya Nanda dan Manda" Iqbal berucap menggunakan bahasa inggris karena tau kalau orang didepannya ini adalah bule dan dia mengulurkan tangannya pada Romi
"Romi, suaminya Manda" Romi membalas uluran tangan Iqbal
"Oh jadi ini suami lo Nda" Iqbal berucap lesu setelah tautan tangannya dan Romi terlepas
"Ee iya Bal" ucap Manda
Mereka mengobrol kecil sampai lupa waktu. Malam pun menyapa, Manda menagih janjinya pada Iqbal dan Nanda.
"Ngga mau, gue capek" ucap Nanda
"Ayolah Nan" Manda terus merengek sambil menggoyang-goyangkan lengan Nanda
"Ayo dah Nan" Iqbal tidak tahan melihat Manda yang terus merengek seperti itu- terlalu menggemaskan untuk Iqbal
"Tidak, aku mau buket dari Nanda langsung" Manda tetap saja keras kepala biar bagaimanapun mereka membujuknya, tidak tau apa kalau ada 2 manusia yang menahan diri agar tidak mengarunginya dan dibawa pulang
"Nih gue kasih uangnya, lo pergi sendiri" Nanda menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu ke Iqbal
"Ihh ngga mau Nanda, Manda maunya Nanda yang pergi" Manda terus merengek agar Nanda luluh dan mau pergi beli buket itu untuknya
"Udahlah Nan, lo ga kasian sama gue?" Iqbal berucap sedramatis mungkin
"Ayolah Nan, beliin" Manda bagian merengeknya
"Ya udah gue sama Iqbal yang pergi" ucap Nanda akhirnya mengalah
"Yey, makasih Nanda" Manda menjinjit untuk mencium pipi kanan Nanda
Tak butuh waktu lama, Nanda sudah siap dengan jaket kulit hitamnya. Iqbal juga sudah siap dengan hodie putihnya. Temanya yaitu,, Nanda serba hitam,, dan Iqbal serba putih. Mereka siap pergi dengan motor merah mereka. Kalau Iqbal yang pergi sendiri, sudah dipastikan seperti bendera Indonesia berkendara.
"Iqbal, cepetan" pekik Nanda karena Iqbal tidak naik-naik
"Oke" Iqbal naik dengan brutal- lewat belakang, penasaran? Aku post visualnya diig @mt4md_
"Ck, lama lo" ucap Nanda
"Lo ngerti sabar ga?" Iqbal menjawab dengan pertanyaan
"Mana helm lo?" Tanya Nanda
"Ga usah lah" ucap Iqbal santai, sampai Nanda ngegas mau pada motornya "Allahuakbar" Iqbal reflek memeluk Nanda
"Pake, atau lo mau mati?" Tanya Nanda
"Iya gue pake" ucap Iqbal akhirnya mengalah, daripada mati ditangan Nanda
Akhirnya Nanda dan Iqbal sampai ditoko buket. Mereka memilih buket jumbo untuk Manda. Saat dalam perjalanan pulang, serasa ada yang mengganjal dipikirkan mereka.
"Kok kita lewat sini ya? Emang ada jalan ini?" Tanya Iqbal
"Gue juga ga tau, perasaan jalannya udah bener" jawab Nanda
"Iya, gue juga ngerasa gitu, tapi kok bisa sampe sini ya" Iqbal heran sendiri jadinya
"Coba cek Google maps" Nanda menepikan motornya terlebih dahulu
__ADS_1
"Ngga ada sinyal Nan" Iqbal mengangkat ponselnya untuk mencari sinyal
"Perasaan gue ga enak" ucap Nanda dalam hati sambil melihat-lihat sekeliling, hutan? Bagaimana mereka sampai ke sini?
"Ngga bisa Nan" Iqbal mulai panik
"Tuh ada warung, kita ke sana dulu, istirahat sambil tanya-tanya" ucap Nanda menenangkan saat melihat ada cahaya dari dalam warung kecil
"Oh oke" Iqbal menyahut
Pelan-pelan Nanda membawa laju motornya ke arah warung itu. Nanda dan Iqbal turun dari motor dan duduk dikursi yang disediakan diwarung itu.
"Mau pesan apa dek?" Tanya seorang nenek tua yang sepertinya penjaga warungnya
"Mau kopi 2, sama makanan apa saja bu" jawab Iqbal
Mereka kelaparan disini, karena apa? Karena sebelum mereka pergi, mereka tidak sempat makan malam. Mereka berangkat pas Maghrib.
"Ini, silahkan" nenek itu menghidangkan pesanan mereka
Suasana warung itu sangat sepi, hanya mereka berdua yang menjadi pelanggannya. Tidak ada obrolan membuat suasana semakin canggung dan menyeramkan.
"Sudah lama berjualan disini nek?" Tanya Iqbal karena dia takut kalau sepi begini
"Iya,, dari semenjak nenek masih muda" jawab sang nenek
"Biasanya rame disini nek?" Tanya Iqbal lagi
"Iya,, Tidak juga, tapi dagangan nenek selalu habis" jawab sang nenek itu lagi
"Kok bisa nek?" Semakin kesini, Iqbal semakin penasaran
"Ya karena pelanggannya datang satu-satu seperti kalian, jadi dikatakan rame ya tidak, tapi tidak sepi juga" ucap sang nenek
"Oh begitu nek" sebenarnya Iqbal tidak paham sama sekali, tapi mau bagaimana lagi
"Oh iya nek, boleh kita bertanya?" Kali ini Nanda membuka suara
"Boleh" ucap nenek itu
"Sebenarnya kami tersesat, nenek tau jalan ke arah Jaktim?" Tanya Nanda sesopan mungkin
"Kalian lurus aja, kalau ada jembatan tua dan jembatan yang lebih modern dan bagus, kalian harus memilih jembatan tua itu, ingat, kalau ada yang menyapa atau suara-suara kebisingan, biarkan saja, dan satu lagi,, kalian jangan menoleh ke belakang" jelas sang nenek yang tentu saja membuat keduanya merinding
"Oh baiklah nek, terimakasih" ucap Nanda
"Kalau kalian mau pergi, kalian bisa pergi sekarang, sebelum semakin larut dan kalian bisa semakin terjebak disini" ucap nenek itu lagi
"Kita pergi sekarang Nan" ucap Iqbal menoleh ke arah temannya itu
"Ya udah, kalau begitu, kami pamit ya nek, terimakasih" ucap Nanda
"Sama-sama, ingat pesan nenek ya" ucap nenek itu mengingatkan
"Pastinya nek, permisi" Nanda melajukan kembali motornya setelah mendapatkan anggukan dari nenek itu
"Kok gue merinding ya Nan" ucap Iqbal
"Karena lo panakut" jawab Nanda
Iqbal tidak menjawabnya karena kesal dikatai penakut. Entah kenapa dia punya firasat harus menoleh ke belakang, padahal itu sudah dilarang oleh nenek itu. Akhirnya dengan keberanian, Iqbal menoleh ke belakang dan langsung melotot.
"NAN, WARUNGNYA ILANG" pekik Iqbal
"Huh?" Nanda menoleh ke arah spion dan benar saja, warungnya lenyap begitu saja.
Karena mata batin Nanda terbuka, jadilah sekarang Nanda bisa melihat berbagai mahluk menyeramkan sedang mengejar mereka.
"Bal, pegangan yang kenceng" ucap Nanda
"Oke" karena takut, Iqbal langsung saja memeluk Nanda dengan satu tangannya karena tangannya yang satu sedang memegang buket pesanan Manda
Mereka tiba dijembatan yang dimaksud nenek itu. Ada dua jembatan, yang satu jembatan kayu yang sudah tua, sedangkan jembatan satunya itu jembatan aspal yang modern. Nanda akan pengambil jalur jembatan tua itu sesuai dengan arahan nenek tadi.
"Woi Nan, LO GILA? NAPA LEWAT SINI? KITA BISA MATI BEGO" pekik Iqbal saat Nanda mulai melajukan motornya lewat jembatan kayu tua yang sangat panjang itu
"Ini jebakan, kalau kita lewat jembatan bagus tadi, belum tentu kita bakal sampe" ucap Nanda
Akhirnya Iqbal terdiam. Dalam hati, mereka selalu memanjatkan doa untuk keselamatan mereka kali ini. Setelah lama perjalanan yang menyeramkan, akhirnya mereka sampai pada terowongan gelap.
"Lo yakin Nan?" Tanya Iqbal karena terowongan itu tidak ada penerangan sama sekali
"Yakin, ini jalan terakhir kita" ucap Nanda
Setelah masuk ke dalam terowongan itu, rupanya tidak segelap saat dilihat dari luar, justru dalam terowongan itu sangat terang seperti terowongan pada umumnya. Tapi tetap saja, Nanda tidak boleh lengah, dia tetap melajukan motornya dengan kecepatan diatas rata-rata.
"Nan, pelan-pelan Nan" Iqbal berucap dengan suara teredam "aduh,, gue mo jatoh" lanjutnya "Nan" panggilnya lagi karena Nanda tidak menyahut
"Lo pegangan yang kenceng" jawab Nanda
"Gue belum mau mati" ucap Iqbal
__ADS_1
"Ya makanya lo pegangan yang kenceng biar ga jatoh" ucap Nanda jengkel
"Ya lo jangan ugal-ugalan juga kampret"