
*ditoilet
DOR!
"Astaghfirullah,, suara apa itu?" Gumam Manda, hanya ada dirinya sendiri disini
DOR! DOR! DOR!
*suara t3mbakan saling bersahutan
"Ya Allah, ada apa ini?" Manda mau membuka pintu toilet
ARGH!!
DOR!
LARI!
DOR!
DOR!
BOOM!
Suara-suara jeritan, t3mbakan, dan l3dakan b0om membuat Manda mengurungkan niatnya. Manda mengunci pintu toilet lalu dia mengangkat gamisnya dan berlari masuk ke salah satu bilik dan naik di atas wc, peset4n sepatunya akan bau wc, yang terpenting dia aman bersembunyi. Membiarkan cadar dan hijabnya yang tertinggal, Manda menutup mulutnya dengan tangan bergetar untuk menahan isakan tangisnya yang mau lolos.
"Astaghfirullah, Ya Allah, astaghfirullah, Allahuakbar" Manda terus saja menggumamkan kata-kata dzikir dalam hatinya
*Dikantin
"Aku akan menyusul Manda" ucap Nanda berlari menuju toilet perempuan
"Baiklah, aku akan meminta bantuan" Romi mengotak-atik ponselnya untuk memberitahu Arkan dan pasukannya agar menyusul ke kampus
Nanda berlari menuju toilet yang terletak dibagian paling belakang. Ditengah perjalanan, ada beberapa orang bertubuh kekar sedang menghadangnya. Tak perlu basa-basi, baku hantam tak dapat terelakkan. Nanda berhasil melumpuhkan 10 orang, tapi setelah itu muncul makin banyak lagi. Nanda m3nembak mereka dan menghindari serangan mereka. Ada beberapa bagian tubuhnya yang terkena tembakan, tapi tidak bisa menghentikan aksi Nanda. Menghajar orang-orang yang semakin banyak itu dengan brutal. Tak lama, beberapa anggota Romi datang dan langsung menyerang anggota mafia yang membuat onar dikampus itu. Sementara disalah satu kelas.
"Pak, ini gimana? Kita akan mati disini" ucap salah satu mahasiswa yang pernah menolak ajakan Romi yang mengajaknya belajar bela diri menggunakan senjata, panggil saja Darren.
"Kita harus keluar pak, guys,, siapkan senjata kalian" ucap mahasiswa lainnya bernama Ian
"Senjata apa?!" Tanya Darren
__ADS_1
"Senjata api yang diberikan Romi" jawab Ian
"Ian, kita sudah siap" ucap Theo
"Bagus,, ayo keluar sekarang"
Mereka langsung lari bersamaan menuju pintu.
"Lari! Awas t3mbakan!"
"SERANG MEREKA"
Lisa tertangkap. Alex, pemimpin mafia black Lion's langsung saja mencekik Lisa dengan sangat kencang.
"ARGH!!" Pekik Lisa
"Kau menyebalkan juga ternyata" Alex tersenyum miring, semakin mencekik Lisa
"LEPASKAN AKU" pekik Lisa lagi
"Ya,, aku akan melepaskanmu, saat kau sudah mati" semakin mencekik sampai nafas Lisa berhenti
"Arkan,, tolong,, temanku ada ditoilet sendirian, susul dia" ucap Romi lirih
"Kau bagaimana?" Tanya Arkan, peperangan masih terus terjadi dan mereka berada ditengah-tengah peperangan tersebut
"Lupakan aku,, selamatkan temanku, dia sedang hamil" ucap Romi lalu tak sadarkan diri
Hamil? Apa jangan-jangan orang yang dia cari selama ini? Tanpa pikir panjang, Arkan langsung berlari menembus peperangan guna mencari toilet. Banya p3luru yang melukainya tapi tidak membuat dia terjatuh, Arkan menganggap p3luru itu hanya semut yang menggigitnya. Yang dipikirkan Arkan hanya satu, orang yang ingin dia selamatkan. Arkan dihadang dengan 30 anggota Black Lion's, Arkan melawan orang-orang itu dengan mudah. Berhasil melumpuhkan 30 orang itu, Arkan lanjut berlari mencari toilet. Saat sudah sampai, Arkan menggedor-gedor pintu toilet yang terkunci dari dalam.
"Ya Allah, Allahuakbar, Astaghfirullah, Ya Allah, ya Allah" Manda terus berdzikir dalam hati. Jantungnya berdebar kencang, takut kalau orang yang menggedor-gedor pintu toilet itu adalah orang jahat yang akan membunuhnya.
Karena tidak mendapat respon apa-apa, Arkan mendobrak pintu toilet itu. 1 kali, 2 kali masih tidak berhasil. Pada dorongan yang ke 3, Arkan akhirnya berhasil mendobrak pintu itu.
"Awsh" Manda meringis pelan karena merasa kram yang luar biasa diperutnya. Sadar akan ringisannya barusan, Manda semakin membekap mulutnya dan menggigit tangganya agar isakan dan ringisan itu tidak keluar.
Kepanikan Manda bertambah saat merasakan sesuatu mengalir dari sel4ngkangannya. Dar4h. Jantungnya semakin berdetak kencang saat mendengar suara langkah kaki mendekatinya. Menggigit tangannya yang gemetar dengan kuat dan terus berdzikir dalam hati.
Ceklek
*Pintu terbuka
__ADS_1
"A-Arkan" lega, hati Manda sungguh lega karena yang datang adalah Arkan
Arkan mendekat dan langsung membawa Manda ke dalam dekapannya. Manda membalas pelukan Arkan dengan sangat erat. Arkan bisa merasakan tubuh Manda yang gemetar hebat.
"Aku takut" Manda menyembunyikan kepalanya didada bidang Arkan yang sudah dipenuhi p3luru
"Ada aku disini,, kamu baik-baik aja kan?" Tanya Arkan khawatir melerai pelukan mereka
"Perut aku sakit" satu tangannya memegangi perutnya sedangkan satunya lagi menutupi wajahnya yang tidak memakai cadar
Arkan menatap ke bawah dan melihat darah mengalir disela-sela kaki Manda. Arkan melepas jasnya yang sudah dipenuhi darah itu dan memakaikannya dikepala Manda, sebagai pengganti hijabnya. Manda mulai merapikan rambutnya agar tidak terlihat dan menutupi seluruh wajahnya kecuali mata. Setelah selesai, Arkan menggendong Manda ala-ala bridal style dan akan membawanya ke rumah sakit. Manda menangis dalam gendongan Arkan melihat kampusnya kini berubah jadi lautan mayat. Semakin mengeratkan pelukannya dileher Arkan dan menenggelamkan wajahnya dileher Arkan- tidak mau melihat lautan mayat itu.
"Rupanya masih ada 2 kucing bersembunyi" Alex berdiri sambil tersenyum menghentikan langkah Arkan
"Menyingkirkan" ucap Arkan dingin
"Tentu aku akan menyingkir, setelah aku menyingkirkan kalian, sepertinya akan seru kalau bayi yang belum keluar dari kandungan memakan p3luru" ucap Alex menodongkan pistolnya ke arah perut Manda
DORR!!
"NANDA!" Pekik Manda
Satu tembakan dari Nanda berhasil menembus kepala Alex, menyebabkan Alex berhenti bernafas saat itu juga.
"Bawa dia pergi" Nanda yang sudah lemah menatap Arkan seolah meminta pertolongan
"Gak, Nan, gue mau sama lo" ucap Manda
"Pergi ARKAN! Bawa Manda bareng lo" ucap Nanda sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri
Arkan lanjut berlari masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobil dengan Manda dalam pangkuannya. Sesekali terdengar ringisan dari Manda, tangan arkan terulur dan mengusap perut Manda. Dalam hatinya, Arkan meminta bayi dalam perut Manda untuk bertahan. Sampai dirumah sakit, Arkan berlari masuk sambil menggendong Manda. Dokter yang melihatnya langsung panik dan menyuruh Arkan membaringkan Manda dibed pasien untuk diperiksa.
"Maaf, kami juga harus mengobati anda, tuan" ucap Suster sedikit mendorong Arkan agar keluar dari ruang pemeriksaan
"Jangan pergi" Manda menahan tangan Arkan agar tidak pergi
"Bertahanlah" Arkan tersenyum lalu perlahan melepaskan tangannya lalu keluar dari ruangan itu
Brugh
Diluar ruangan, Arkan jatuh tak sadarkan diri. Tidak heran, melihat berapa p3luru yang bersarang ditubuh Arkan, beruntungnya tidak ada yang bersarang dikepala Arkan jadi Arkan masih bisa selamat.
__ADS_1