
sudah 6 bulan aku bekerja sambil kuliah dan akan memasuki ujian semester di akhir tahun ini. aku kerja dengan semangat karena hasil dari gaji yang ku terima aku bisa membeli pakaian kuliah ku yang lebih bagus dan membayar kos ku. jadi aku tidak pernah menanyakan lagi kapan uang bulanan ku dikirim oleh orangtua ku.
aku berjalan kaki kekampus karena jarak dari kos ke kampus sangatlah dekat, di tengah jalan aku melihat Willi dan pandangan kami bertemu sekian detik aku mengalihkan pandangan ku melihat ke arah depan. aku melihat nya dalam keadaan baik baik saja, aku selalu menyuruh juni menjenguk nya selama di rumah sakit. sementara aku hanya menunggu di warung depan rumah sakit, geo menilai ku manusia aneh kalau suka bilang saja itulah yang selalu di ucapkan geo pada ku. tapi aku sudah terlanjur membentengi hati ku dan tidak ingin membuat nya malu karena gosip murahan yang tidak pernah terjadi di hidup ku. melihatnya sekarang hanya sebentar saja sudah membuat ku senang dan bersemangat, senyuman kecil muncul di sudut bibir ku. segitu gila nya kah aku padanya kadang pertanyaan itu terlintas dalam pikiran ku, tapi aku yakini diri ku bahwa dia juga tidak menyukai ku apalagi dengan keadaan kami yang sangat berbeda.
aku mempersiapkan perlengkapan ujian ku sambil membaca buku dan catatan yang akan di ujian kan. aku berdiri di lantai dua berdiri sembari menghafal catatan ku sebelum masuk ujian sambil memandang ke arah gerbang pintu masuk kampus. Aku menghafal dengan serius sampai penglihatan ku mulai kabur, mungkin aku kurang istirahat dan aku menggelengkan kepala ku dan meminum air mineral agar mengurangi rasa sakit kepala ku sampai aku melihat ke arah sisi kiri ku tempat parkiran aku melihat willi disana sedang melihat ke arah ku tanpa ekspresi sama sekali. aku yang gugup karena di perhatikan , aku langsung merapikan buku ku dan memeluknya langsung berlari ke dalam ruang kelas tempat ku ujian nanti.
Entah kenapa setiap melihatnya aku seperti punya utang yang besar, takut gugup cemas semua bercampur aduk aku sendiri tidak tau kapan perasaan ku ini berubah menjadi seperti ini. waktu ujian pun tiba dosen mata kuliah yang sedang di ujian kan sekarang sudah di ruangan. aku menjawab semua soal soal dari dosen tersebut, benar atau tidak nya itu urusan nanti yang penting aku akan berusaha menjawab semuanya itulah yang dibenak ku sekarang sambil menjawab soal soal dari dosen tersebut.
Selesai ujian aku keluar, menuju gedung baru karena aku ingin menghafal materi ujian di kelas berikutnya, saat aku masih di tangga lantai dua hp ku berdering muncul nomor adek junior ku yang satu sekolah dengan ku dan akrab dengan keluarga ku.
"ya dek jawab ku sambil berjalan menapaki tangga menuju lantai 3.
"kakak apa kabar? lagi ngapain? tanya widya"
"kakak baik, kamu baik kan? kakak lagi menghafal karena jam 2 siang nanti ada ujian semester jawab ku" sambil jalan sampai di anak tangga terakhir yang dimana saat itu aku sudah berada dilantai 3 gedung baru.
"aku sehat, kakak gak pulang?
"nanti lah tunggu libur dek, mungkin masih lama jawab ku, kenapa rupanya lanjut ku'?"
__ADS_1
"kakak ga mau lihat bapak kakak masuk rumah sakit, bapak kakak kristis sudah 3 hari ucap nya".
aku menghentikan langka ku yang akan sampai di ujung lantai 3 menghadap ke arah terbenamnya matahari, aku terdiam sekian detik "kamu serius, ucap ku sambil memjjit kepala ku yang tiba tiba terasa sakit. air mata ku lolos begitu saja. aku bersandar di dinding dan aku melihat hp ku yang masih ada widya memanggil ku dan aku langsung mematikan telpon nya secara sepihak, aku mencari nomor abang ku tapi tidak ada jawaban dan aku mencari nomor yang dekat dengan rumah ku.
"tulang dimana ? tanya ku sambil menangis
"dirumah, kenapa kau bere tanya tulang ku"
"apa benar bapak sakit dan sedang koma sekarang tulang tanya ku sambil menahan suara tangisan ku.
"tau dari mana kau bere?
"iya, tapi tenang saja bapak akan baik baik saja jawab nya disebrang sana
aku langsung mematikan hp ku dan menangis sekencang kencangnya. seakan dunia ku hancur berkeping keping. aku tidak tau penyebabnya apa, disaat aku masih menangis hp ku berdering, nama abang ku muncul.
"abang bapak katanya koma dirumah sakit ucap ku sambil menangis sejadi jadinya.
"iya, jawab abang ku dengan suara seraknya" aku tau abang ku pasti baru siap menangis disana. kamu tau kenapa tanya abang ku lagi
__ADS_1
"kenapa bang? tanya ku
"semua karena mu, ada yang kasih tau ke bapak kau jual diri ucap nya"
Jeddddaaarrr
hati ku hancur dan tangisan ku makin menjadi,
"tapi itu ga benar bang bilang ke mama ya bang" ucap ku
"aku percaya sama mu, tapi kenapa kenapa sama bapak nanti ingatlah semua itu karna mu ucap nya lagi pada ku dan itu membuat seluruh badan ku merosot ke lantai seperti tak bertulang.
aku menjerit sejadi jadinya dan memukul dada ku dengan kuat, aku menangisi nasib ku dilantai 3 dan disaat aku masih menangis ada tangan yang sedang memeluk ku dengan erat dan mengelus dada ku, ku melihat kedepan ternyata willi yang memeluk ku yang entah kapan dia datang apa dia tau masalah ku, aku pun tidak tau, aku masih tenggelam dipelukkan saat ini aku butuh sandaran dan penyemangat, dan aku membalas pelukan nya membuat tangisan ku makin kuat. disaat tangisan ku mulai reda dia melonggarkan pelukanya "kamu mau makan disini atau di luar ucapnya" aku memandang wajah nya dengan air mata ku yang masih mengalir di wajah ku . aku benci sekarang ini, aku benci orang lain melihat ku menangis.
'aku tidak lapar ucap ku"
"kamu berutang penjelasan pada ku nie, apa pun masalah mu jangan sampai tidak makan kamu ingat pesan ku ini ucap nya".
"kamu aku tinggal bentar ya, jangan kemana mana jawab nya" aku hanya diam saja tanpa melihat nya , saat ini aku hanya duduk dan termenung sampai willi tiba membawa 1 kantongan yang isi nya nasi padang sama aqua dan cemilan lainnya. aku melihat ke arah nya kenapa dia selalu baik padahal aku tidak pernah menganggapnya ada. dan dia langsung menyuapi ku dengan tangannya aku membuka mulut ku menerima suapan dari tangannya untuk menghargai usahanya.
__ADS_1