
"Tentu saja tahu paman aku membaca data - data perusahaan ada yang korupsi, ada yang malas - malasan kerja dan masih banyak lagi. Jadi Kita harus mengganti orang - orang yang tidak bisa dan malas untuk bekerja." Jawab Daven.
Lagi - lagi Hendrik hanya terdiam karena ucapan Daven seperti orang dewasa dan mengerti tentang bisnis.
"Paman, kita pergi sekarang. Nanti kalau Oma dan opa bertanya bilang saja mau mengajak kami jalan - jalan keliling kota." ucap David karena melihat pamannya diam saja.
"Baik Tuan Muda Kecil." Jawab Hendrik.
'Seumur hidup aku bekerja dengan Tuan Aberto tidak pernah sedikitpun berbohong tapi ini kedatangan ketiga anak kembar, aku di paksa harus berbohong. Aduh ayah ibu haruskah aku menuruti keinginan mereka bertiga untuk berbohong karena sungguh aku tidak sanggup jika aku mesti berbohong.' Ucap Hendrik dalam hati.
Mereka berempat keluar dari kamar ke tiga anak kembar dan berjalan menuruni anak tangga satu demi satu. Hingga Mereka sudah sampai di ruang tamu dan mereka melihat Nyonya Abertos dan Tuan Abertos sedang duduk sambil menikmati teh.
"Opa.. Oma.." panggil ke tiga anak kembar genius sambil berlari ke arah Nyonya Abertos dan Tuan Abertos.
hap
hap
"Hallo cucu - cucu opa dan oma yang sangat tampan." ucap Tuan Abertos sambil menangkap David dan Dave kemudian menggendongnya.
"Cucu - cucu opa dan oma mau kemana?" Tanya Nyonya Abertos sambil menangkap dan menggendong Daven.
"Kami mau jalan - jalan sama paman Hendrik oma, opa." Jawab David sambil tersenyum manis.
"Di temani sama oma dan opa saja ya, sayang." pinta Nyonya Abertos penuh harap.
__ADS_1
"Maaf Oma dan opa, kami bertiga ingin keliling kota jadi kami tidak ingin nanti Oma dan opa kecapaian." ucap Daven memberikan alasan agar Tuan Abertos dan Nyonya Abertos tidak ikut.
"Bagaimana kalau besok kita pergi bersama." sambung David sambil menampilkan puppy eyes yang menjadi andalan karena melihat wajah mereka sangat sedih.
"Benarkah sayang?" tanya Nyonya Abertos dengan mata berbinar.
"Benar Oma, hari ini kita pergi keliling kota sama paman dan besok terserah Oma dan opa mengajak kami pergi kemana." ucap Daven sambil mengecup pipi Nyonya Abertos membuat Nyonya Abertos tersenyum bahagia.
"Terima kasih sayang." Jawab Nyonya Abertos.
Ke tiga anak kembar hanya tersenyum kemudian mengecup tangan Nyonya Abertos dan Tuan Abertos secara bergantian sedangkan Hendrik hanya membungkukkan badannya tanda menghormati Nyonya Abertos dan Tuan Abertos.
Mereka berempat pergi meninggalkan Nyonya Abertos dan Tuan Abertos menuju ke garasi mobil. Hendrik mengendarai mobil dengan kecepatan sedang namun di tengah jalan ponsel milik Hendrik tiba - tiba berdering membuat Hendrik menepikan mobilnya untuk mengangkat ponselnya.
("Selamat pagi Tuan Muda." Sapa Hendrik).
("Maaf Tuan Muda, Saya lagi dalam perjalanan menuju ke perusahaan tuan." Jawab Hendrik terpaksa berbohong untuk pertama kalinya).
("Bagaimana tugas yang aku berikan?" tanya Daddy Aberto yang percaya dengan apa yang dikatakan asisten setianya).
("Sudah beres tuan perusahaan mereka bangkrut dan semua orang menjual saham dengan harga murah." jawab Hendrik sambil melirik ke arah ke tiga anak kembar secara bergantian).
("Bagus, kamu beli saja semua perusahaan dan juga beli semua aset berharga mereka." ucap Daddy Aberto dengan nada dingin).
("Sudah tuan." Jawab Hendrik).
__ADS_1
'Asal Tuan Muda tahu kalau yang membelinya adalah ke tiga anak Tuan.' Sambung Hendrik dalam hati.
("What, kenapa kamu langsung mengambil tindakan tanpa memberitahukan padaku?" tanya Daddy Aberto dengan nada naik satu oktaf).
Biasanya Hendrik atau Daddy Aberto memberikan saran namun keputusan ada di tangan Daddy Aberto, apapun itu bentuknya karena itulah dirinya sangat kesal dengan Hendrik karena telah mengambil keputusan secara sepihak.
("Maaf tuan karena..." ucapan Hendrik terpotong oleh David).
("Paman apakah itu Daddy?" tanya David).
("Hendrik apakah itu putraku?" tanya Daddy Aberto).
("Benar Tuan Muda dan Tuan Muda Kecil." Jawab Hendrik).
("Aku ingin bicara dengan ke tiga anakku." ucap Daddy Aberto).
("Paman aku ingin bicara dengan Daddy sebentar." ucap Daven secara bersamaan namun ada sedikit perbedaan).
("Baik." Jawab Hendrik sambil memberikan ponselnya ke Daven).
'Aduh hampir saja aku keceplosan, aduh ketiga anak kembar bikin jantungku terasa mau copot. Lihatlah keringatku tidak berhenti keluar.' ucap Hendrik dalam hati sambil mengusap keringatnya dengan menggunakan tissue yang berada di dalam mobil.
("Daddy dan Mommy, apa kabar?" tanya Daven basa basi).
("Kabar Daddu dan Mommy baik - baik saja, bagaimana dengan kalian?" Tanya Daddy Aberto dengan suara selembut sutra berbeda ketika dirinya berbicara dengan Hendrik).
__ADS_1
("Kabar kami baik Daddy. Daddy, Mommy lagi apa?" tanya David yang berada di sebelah kakaknya).
("Mommy kalian lagi mandi. Kalian kenapa ikut paman Hendrik?" tanya Daddy Aberto penasaran).