
"Maaf Nyonya Besar, maksud Nyonya Besar lupa apa ya?" Tanya Hendrik dengan wajah bingung.
"Ketika putriku menikah dengan Aberto, Kami meminta jangan memanggil kami Tuan Besar dan Nyonya Besar tapi panggil kami dengan sebutan ...." Ucap Mommy Angelica menggantungkan kalimatnya sambil menatap kearah Hendrik.
"Mommy dan Daddy. Maaf, Hendrik belum terbiasa." Jawab Hendrik.
"Tidak apa - apa nanti juga terbiasa sama seperti Maria memanggil kami dengan sebutan Mommy dan Daddy." Ucap Mommy Angelica.
Hendrik dan Maria hanya menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum dan dalam hatinya sangat berrsyukur karena orang tua Davina yang terkenal kaya raya tapi tidak sombong.
Malah orang tua Davina menganggap Maria dan Hendrik sebagai anak angkat Mommy Angelica. Mereka berjalan ke arah ruang ICU di mana Mommy Davina masih berbaring di ranjang dengan kondisi masih koma.
Mereka masuk ke dalam ruangan ICU dan melihat Daddy William dan Tuan Abertos sedang menatap ke arah Mommy Monica yang masih setia memejamkan matanya dan tubuhnya dipenuhi selang.
"Daddy." Panggil Mommy Angelica sambil berjalan ke arah suaminya.
Daddy William memeluk tubuh mungil istrinya dari arah samping membuat Mommy William membalas pelukan suaminya dan meletakkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Walau usia mereka berbeda jauh yaitu dua puluh tahun tapi perasaan cinta mereka sangat kuat dikarenakan mereka saling tulus mencintainya dan masing - masing mau menerima kelebihan maupun kekurangan.
"Putri kita Mom." ucap Daddy William dengan wajah sendu.
"Mommy tahu perasaan Daddy karena Mommy pun merasakan hal yang sama. Semoga saja putri kita cepat sadar." Ucap Mommy Angelica.
"Uhuk ... Uhuk .... Uhuk ..."
Daddy William tiba - tiba batuk sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri dan tubuhnya mulai melemas seperti tidak bertulang membuat Mommy Angelica panik karena tubuh suaminya terasa berat.
"Hendrik dan Kak Abertos, tolong angkat suamiku." Pinta Mommy Angelica dengan perasaan kuatir.
Tanpa menjawab Daddy Abertos dan Hendrik menggotong tubuh Daddy William kemudian membawanya keluar dari ruangan icu menuju ke ruangan ugd diikuti Mommy Angelica dan Maria.
"Mommy, Daddy kenapa?" Tanya Edward dan David bersamaan.
Edward yang mendapatkan kabar kalau adik tirinya mengalami kecelakaan langsung datang ke rumah sakit dengan menggunakan helikopter.
Kebetulan rumah sakit tersebut adalah milik keluarga besarnya dan kebetulan ada rooftop khusus helikopter karena saat ini Edward bersama keluarganya tinggal di negara berbeda.
"Tidak tahu tiba - tiba Daddy memegangi dadanya sambil terbatuk - batuk." jawab Mommy Angelica sambil melihat Tuan Abertos dan Hendrik masuk ke dalam ruang UGD.
"Daddy pasti memikirkan Davina." Ucap David.
"Sepertinya begitu." Jawab Mommy Angelica.
"Apakah sudah tahu siapa pelakunya?" Tanya David sambil menahan amarahnya begitu pula dengan Edward.
"Mommy tidak tahu, coba Mommy akan tanyakan sama Hendrik atau mertuanya Davina." Jawab Mommy Davina.
Edward dan David hanya menganggukkan kepalanya kemudian mereka bertiga menunggu di luar pintu ugd dan tidak berapa lama pintu ruangan ugd terbuka.
"Bagaimana keadaan suamiku?" Tanya Mommy Davina sambil menatap ke arah Tuan Abertos dan Hendrik secara bergantian.
"Lagi diperiksa sama dokter." Jawab Tuan Abertos.
"Oh ya siapa pelakunya Dad?" Tanya Edward.
Semenjak Mommy Davina menikah dengan Daddy Aberto, ke tiga kakaknya memanggil Tuan Abertos dan Nyonya Abertos dengan sebutan Mommy Abertos dan Daddy Abertos.
"Valentina Microwife adalah adik dari Ririn, orang yang telah menjebak Davina." Jawab Tuan Abertos.
"Kenapa Valentina Microwife sangat jahat pada putriku? Kami saja belum menghukum Ririn." Ucap Mommy Angelica sambil menahan amarahnya begitu pula dengan Edward dan David.
Tuan Abertos menceritakan apa yang terjadi dengan Ririn dan kenapa Valentina Microwife ingin membalaskan dendam. Mommy Angelica, Edward dan David hanya diam mendengarkan cerita Tuan Abertos.
"Pantas saja kami mencari keberadaan Ririn sangat sulit ternyata sudah di hukum. Oh ya apakah sudah diketahui di mana Valentina Microwife berada?" Tanya Edward.
"Sudah." Jawab Tuan Abertos.
Tuan Abertos menceritakan posisi di mana Valentina Microwife berada sedangkan Edward dan David yang mengetahui keberadaan Valentina Microwife langsung menghubungi anak buah buahnya untuk menangkapnya.
"Lebih baik Aku dan David pergi ke tempat Valentina Microwife bersama anak buah kami karena Aku melihat Daddy Abertos lelah jadi lebih baik Daddy Abertos istirahat saja." Ucap Edward.
__ADS_1
"Tapi ..." Ucapan Tuan Abertos terpotong oleh Mommy Angelica.
"Apa yang dikatakan putraku benar, kak Abertos sepertinya lelah jadi lebih baik istirahat sekalian menemani Aberto." Ucap Mommy Angelica.
Tuan Abertos menghembuskan nafasnya dengan perlahan, apa yang dikatakan mereka memang benar kalau dirinya agak lelah.
Tiba - tiba ponsel milik Hendrik berdering dan Hendrik pun langsung mengambil ponselnya di saku jasnya dan melihat siapa yang menghubungi dirinya.
"Siapa Hen?" tanya Tuan Abertos.
"Dari perusahaan cabang Tuan besar." Jawab Hendrik.
"Angkatlah." Jawab Tuan Abertos.
Hendrik pun menggeser tombol berwarna hijau kemudian mulai bercakap-cakap setelah agak lama sambungan komunikasi pun terputus dan paman Hendrik menyimpan kembali ponselnya ke dalam sakunya.
"Ada apa Hen?" tanya Tuan Abertos.
"Perusahaan cabang mengalami masalah Tuan besar." Jawab paman Hendrik.
"Aku lelah kalau harus keluar kota sedangkan putraku Aberto sedang berbaring di ranjang sedangkan putra bungsuku berada di luar negri." Keluh Tuan Abertos.
"Biar Aku saja pergi keluar kota." Usul paman Hendrik.
"Tapi bagaimana dengan Valentina Microwife?" Tanya Tuan Abertos.
"Seperti yang tadi kami katakan, lebih baik Aku dan David pergi ke tempat Valentina Microwife bersama anak buah kami karena Aku melihat Daddy Abertos lelah jadi lebih baik Daddy Abertos istirahat saja." Ucap Edward mengulangi perkataanya.
"Baiklah. Kalau begitu Hendrik yang memimpin untuk mengurus cabang perusahaan." Ucap Tuan Abertos.
"Baik Tuan Besar kalau begitu saya pamit dulu." Ucap Hendrik dengan patuh.
"Tunggu, bolehkah Aku ikut menemani ke perusahaan cabang? Kebetulan Aku mengerti tentang bisnis." Ucap Maria yang sejak tadi terdiam.
"Bolehkah Tuan Besar?" Tanya Hendrik penuh harap.
"Tentu saja boleh, tapi bukankah kamu terluka?" Tanya Tuan Abertos.
Tuan Abertos hanya menganggukkan kepalanya kemudian Hendrik dan Maria pergi meninggalkan rumah sakit menuju ke luar kota dengan menggunakan mobil. Sedangkan Edward dan David pergi menuju ke tempat di mana Valentina Microwife berada.
"Aku akan menunggu suamiku di ruangan UGD dan Kak Abertos lebih baik istirahat saja." Ucap Mommy Angelica.
"Kamu tidak apa - apa Aku tinggal?" Tanya Tuan Abertos pada besannya yang sudah di anggap sebagai adiknya mengingat Tuan Abertos merupakan anak tunggal.
"Tidak apa - apa." Jawab Mommy Angelica.
Tuan Abertos kemudian pergi ke arah ruang perawatan di mana Daddy Aberto di rawat sedangkan Mommy Angelica menunggu di ruangan UGD.
xxxxxxxxxxxxxxxxx
Di tempat yang berbeda Valentina Microwife berada di sebuah rumah minimalis bersama seorang pria paruh baya yang sudah selesai melakukan kegiatan panasnya di sore hari.
"Terima kasih sayang, kamu sudah memberikan pelayanan yang sangat memuaskan." ucap pria paruh baya sambil mengecup kening Valentina Microwife dengan lembut.
"Sesuai janjiku Tuan, jika Aku memberikan tubuhku maka Tuan akan membantuku untuk mencelakai Davina dan juga suaminya maka aku akan memberikan pelayanan yang sangat memuaskan pada Tuan." Ucap Valentina Microwife.
"Akhhhhh si*l terpaksa aku harus melayani pria tua ini yang mempunyai hasrat sangat tinggi agar aku bisa membalaskan dendamku." umpat Valentina Microwife dalam hati.
"Kenapa kamu dendam pada mereka?" tanya pria paruh baya penasaran.
"Karena ulah mereka membuat kakakku dijual di pelacuran padahal Kakak kesayanganku tidak pernah melakukan kesalahan apapun terhadap mereka malah Davina merebut kekasih kakakku dengan cara menjebaknya dan akhirnya mereka menikah." ucap Valentina Microwife bohong sambil mengeluarkan air mata buayanya.
"Aku marah ketika Davina menikah dengan calon kakak iparku tapi Davina tidak puas dan menyuruh anak buahnya untuk menjual kakakku." Sambung Valentina Microwife.
'Huek ... Demi membalaskan dendamku terpaksa Aku berbohong agar Mereka mati dengan cara mengenaskan.' Ucap Valentina Microwife dalam hati.
"Sudah... sudah.. Mereka pantas mati dan jangan di ingat - ingat lagi." Ucap pria paruh baya itu sambil mengecup ke dua pipi Valentina Microwife secara bergantian.
"Aku masih dendam pada mereka berdua karena ulah mereka Kakakku masuk rumah sakit jiwa akibat kecapaian dan mengalami penyiksaan karena melayani tamu yang mempunyai kelainan se*s." ucap Valentina Microwife sambil menangis karena kakak satu - satunya yang sangat dicintainya masuk ke rumah sakit jiwa.
"Sudah lupakan saja." ucap pria paruh baya itu sambil memeluk Valentina Microwife.
__ADS_1
Valentina Microwife membalas pelukan pria paruh baya itu sambil menahan amarah dan jijik secara bersamaan. Hal itu membuat Valentina Microwife menahan amarah dan dendam terhadap Mommy Davina dan Daddy Aberto.
Selain itu dirinya sangat jijik karena harus melayani pria paruh baya itu yang sudah bau tanah. Tapi demi membalaskan dendam secara instan tanpa mengeluarkan uang membuat Valentina Microwife terpaksa melakukannya.
Valentina Microwife tidak tahu bahwa sebenarnya itu ide dari Daddy Aberto sebelum bertemu dengan Mommy Davina. Daddy Aberto sangat marah ketika mengetahui bahwa mereka telah berani mengusik wanita yang dicintainya dengan menjual Mommy Davina ke bandot tua karena itulah Daddy Aberto membalasnya dengan cara menjualnya sama seperti yang dia lakukan.
Untung saja Mommy Davina melakukannya bersama Daddy Aberto jika tidak bisa dipastikan betapa menderitanya Mommy Davina. Hanya saja Daddy Aberto tidak tahu kalau adik kandungnya yang bernama Valentina Microwife membalaskan dendam atas apa yang dilakukan oleh Daddy Aberto.
"Lagi ya." pinta pria paruh baya itu sambil memainkan salah satu pucuk gunung kembar himalaya milik Valentina Microwife.
Valentina Microwife hanya menganggukkan kepalanya tanda dirinya pasrah demi membalaskan dendamnya. Tanpa sepengetahuan pria paruh baaya tersebut kalau Valentina Microwife mempunyai rencana untuk membunuh pria paruh baya di saat pria itu lengah.
Pria paruh baya itu pun dengan semangat melakukan kegiatan suami istri pada siang hari namun tiba - tiba pintu kamarnya di dobrak paksa oleh beberapa orang bertubuh kekar dan tegap membuat Valentina Microwife dan pria paruh baya itu sangat terkejut karena sedang melakukan kegiatan yang enak - enak tiba - tiba ada yang mendobrak pintunya.
Pria paruh baya yang berada di atas tubuh Valentina Microwife langsung menarik adik kecilnya dan langsung menyelimuti tubuh polos mereka berdua.
"Siapa kalian mengganggu kesenangan kami?" tanya pria paruh baya dengan nada satu oktaf dan wajahnya menahan amarah yang teramat sangat.
"Cih sudah bau tanah masih berbuat dosa." umpat Edward tanpa menjawab pertanyaan pria paruh baya tersebut.
Edward dan David bersama anak buahnya datang ke tempat Valentina Microwife untuk memberikan perhitungan karena telah membuat adik kesayangannya dan adik iparnya masuk ke rumah sakit.
Pria paruh baya itu sangat kesal dan diam - diam mengambil pistol di balik bantal dan menodongkan pistolnya ke arah Edward. Sedangkan Valentina Microwife tubuhnya gemetaran karena dirinya tidak mau mati membuat Valentina Microwife ingin melarikan diri.
Tanpa mengetahui kalau kematian Valentina Microwife sebentar lagi terlebih gerakan Valentina Microwife di lihat oleh David. David bertugas melihat gerak gerik Valentina Microwife sedangkan Edward bertugas melihat apa yang akan dilakukan pria paruh baya itu.
"Kalian berdua harus mati." Ucap Edward dan David dengan serempak sambil mengarahkan pistolnya ke arah mereka berdua.
"Akhhhhh ...." Teriak pria paruh baya dan Valentina Microwife bersamaan.
Edward dan David langsung menembak ke keningn pria paruh baya dan Valentina Microwife membuatnya mati di tempat. Mereka mati mengenaskan dengan mata melotot dan keningnya mengeluarkan darah segar.
"Sampah tetaplah sampah." hina Edward.
"Apa yang dikatakan Kak Edward memang benar, mereka berdua adalah sampah." Ucap David.
"Buang ke dua mayat sampah ini ke jurang!" Perintah Edward dengan nada dingin.
"Baik Tuan Muda." Jawab mereka dengan serempak.
Edward dan David langsung meninggalkan lokasi kejadian dan mengendarai mobil menuju ke rumah sakit dengan kecepatan sedang.
"Akhhhhh... lelahnya." ucap Edward sambil meretangkan ke dua tangannya.
"Itu karena Kak Edward jarang olahraga." Celetuk David.
"Sepertinya begitu, besok pagi temani Kakak olahraga." Ucap Edward.
"Ok." Jawab David dengan singkat.
Walau mereka saudara tiri namun mereka sangat akur melebihi saudara kandung yang terkadang suka bertengkar. Hal itu dikarenakan Mommy Angelica tidak pernah membedakan mana anak kandung dan mana anak tiri.
Tidak membutuhkan waktu lama Edward dan David sudah sampai di rumah sakit dan langsung berjalan ke ruangan UGD namun kata dokter kalau Daddy William sudah berada di ruang perawatan membuat mereka berjalan ke arah ruang perawatan.
David membuka pintu dengan lebar dan melihat Mommy Angelica sedang menyuapi Daddy William. Edward masuk ke dalam ruangan dan diikuti oleh David.
"Bagaimana?" tanya Daddy William setelah dirinya sudah selesai makan bubur dan meminum air mineral.
"Sudah mati Dad." Jawab Edward.
"Baguslah." Jawab Daddy William.
"Aku ingin melihat keadaan Davina." Ucap Edward.
"Ok." Jawab ke dua orang tuanya dengan serempak.
"Aku ikut Kak." Ucap David.
Edward hanya menganggukkan kepalanya kemudian mereka berdua berjalan keluar dari ruang perwatan menuju ke ruang ICU.
"Semoga saja putri kita segera sadar." Ucap Daddy William dengan nada lirih.
__ADS_1
"Semoga saja Dad. Sekarang Daddy tidur dan jangan banyak pikiran nanti Daddy sakit." Ucap Mommy Angelica sambil menyelimuti tubuh suaminya.