Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath

Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath
Apakah orangnya sama?


__ADS_3

Edward yang tidak bisa membohongi istrinya mulai menceritakan dari awal bagaimana Dave meretas cctv hingga akhirnya menggagalkan rencana jahat orang tersebut dan menangkap orang - orang yang ingin menyakiti Hendrik dan Maria.


"Itulah kenapa kami tersenyum karena sudah berhasil menggagalkan rencana jahat orang itu." Jawab Edward mengakhiri ceritanya.


"Apakah orangnya sama?" Tanya Alona penasaran.


"Sama Mom." Jawab Edward.


"Kenapa orang itu sangat jahat sekali?" Tanya Alona sambil memijat keningnya yang tidak pusing.


Ketika Edward bertanya tiba - tiba terdengar suara Daven berbicara membuat Edward tidak jadi berbicara.


("Pelakunya Paman Vincent, Paman." Jawab Daven yang sejak tadi memakai headset bluetooth).


("Satu lagi Paman Vincent sudah di tangkah sama anak buah Paman Edward." Sambung Daven).


("Bagaimana dengan Tante Violet?" Tanya Hendrik).


("Anak buah Daddy dan Paman Edward lagi menuju ke arah bar untuk menangkap Tante Violet." Jawab Daven).


("Terima kasih banyak Tuan Muda Kecil." Ucap Hendrik).


("Sama - sama Paman. Kami akan pantau perjalanan Paman dan Tante sampai Paman dan Tante selamat sampai di tempat tujuan. Semoga acara pertunangan Paman dan Tante berjalan dengan lancar." Ucap Daven).


("Sekali lagi terima kasih Tuan Muda Kecil." Ucap Hendrik).


("Sama - sama Paman. Oh ya satu lagi jangan panggil kami Tuan Muda Kecil cukup panggil nama kami saja Dave atau Daven atau David jangan memakai embel Tuan Muda Kecil." Ucap Daven).


("Tapi ...." Ucapan Hendrik terpotong oleh Daven).


("Paman Hendrik sebentar lagi akan menikah dengan Tante Maria di mana Tante Maria menganggap kami sebagai ponakannya jadi secara tidak langsung Paman menganggap kami sebagai ponakannya juga. Atau jangan - jangan Paman tidak mengganggap kami sebagai ponakan?" Tanya Daven dengan wajah pura - pura sedih).


("Bukan begitu ... ( terdengar suara helaan nafas ) baik Daven." Ucap Hendrik yang sudah hapal dengan suara ketiga anak kembar).


("Kalau begitu bye." Pamit Daven).


("Bye." Jawab Hendrik dengan singkat).

__ADS_1


Sambungan komunikasi langsung terputus sedangkan Edward dan Alona saling menatap mendengar ucapan Daven seperti orang dewasa padahal usia mereka masih lima tahun.


"Ayo kita kembali ke ruang perawatan." Ajak Dave sambil mematikan laptopnya kemudian menutup layar laptopnya.


"Oke." Jawab mereka dengan serempak.


Mereka kembali ke ruang perawatan di mana Daddy Aberto dan Mommy Davina sedang mengobrol.


"Daddy, Mommy bosan di rawat di rumah sakit, bagaimana kalau kita pulang?" Tanya Mommy Davina.


"Tidak bisa, tubuh Mommy masih di balut perban dan masih sakit. Nanti kalau sudah benar - benar sembuh baru boleh pulang." Jawab Daddy Aberto.


"Bagaimana kalau salah satu kamar yang di mansion dijadikan ruang perawatan jadi Mommy bisa di ruangan itu dan Daddy serta ketiga anak kita bisa melihat Mommy setiap saat. Terlebih Mommy tidak tega melihat ke tiga anak kita kurang istirahat yang cukup." Ucap Mommy Davina mencoba bernegoisasi.


"Belum lagi kondisi Daddy kita yang kurang sehat membuat Daddy kita memaksakan datang untuk melihat kondisiku." Sambung Mommy Davina.


Daddy Aberto terdiam beberapa saat kemudian menganggukkan kepalanya tanda setuju membuat Mommy Davina tersenyum bahagia. Terlebih apa yang dikatakan Mommy Davina benar adanya hal itulah yang membuat Daddy Aberto setuju dengan usulan Mommy Davina.


Daddy Aberto menghubungi orang kepercayaannya untuk melakukan apa yang dikatakan Mommy Davina hingga lima menit kemudian Daddy Aberto sudah selesai menghubungi orang kepercayaannya.


"Terima kasih Daddy." Jawab Mommy Davina sambil tersenyum bahagia.


"Tapi tidak gratis." Ucap Daddy Aberto.


"Tapi sayangnya tidak bisa membayarnya." Jawab Mommy Davina yang mengerti arah pembicaraan suaminya.


"Kenapa tidak bisa?" Tanya Daddy Aberto yang lupa dengan kondisi tubuh istrinya.


"Daddy tidak lihat kalau Mommy di perban kayak mumi?" Tanya Mommy Davina.


"Hehehehe... Lupa." Jawab Daddy Aberto sambil tertawa.


Tidak berapa pintu ruang perawatan terbuka membuat Daddy Aberto dan Mommy Davina melihat ketiga anak kembarnya berjalan ke arah mereka kemudian diikuti oleh Edward dan Alona.


"Anak - anak Daddy dan Mommy." Panggil Daddy Aberto sambil berjalan ke arah mereka bertiga.


"Daddy ada kabar buat kalian." Sambung Daddy Aberto sambil menggendong Daven dan David.

__ADS_1


"Kabar apa, Dad?" tanya ketiga anak kembarnya dengan serempak.


Daddy Aberto menceritakan tentang rencana Mommy Davina akan dipindahkan sekaligus akan di rawat di mansion. Hal itu membuat ketiga anak kembarnya sangat bahagia mendengarnya. Merekapun mengobrol bersama dan terkadang mereka serius dan terkadang mereka tertawa bersama.


Di tempat yang berbeda di mana pria tua dan seorang wanita cantik tidur dengan pulas setelah hampir satu jam lebih melakukan kegiatan panas mereka. Namun ada satu wanita yang sejak tadi menahan amarahnya dan menunggu waktu yang tepat.


Di mana wanita itu yang awalnya melakukan hubungan suami istri dengan pria paruh baya tersebut tiba - tiba digagalkan oleh kedatangan wanita membuat dirinya tidak diperdulikan. Wanita tersebut berusaha merayu pria paruh baya tersebut namun dirinya tidalk diperdulikan.


Wanita tersebut akhirnya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket. Selesai mandi wanita tersebut mengganti pakaian yang baru di mana di dalam lemari tersedia beberapa pakaian wanita dan pria.


Wanita tersebut mengetik sesuatu di ponselnya sambil berusaha menulikan telingannya ketika mendengar suara - suara merdu dari mulut mereka berdua. Setelah selesai wanita tersebut mengirim pesan tersebut ke seseorang sambil tersenyum menyeringai.


'Mereka sudah tidur dengan pulas semoga saja pesananku datang.' Ucap wanita tersebut dalam hati sambil membuka pintu kamar tersebut.


Tidak berapa lama menunggu datang seorang pria dan memberikan botol kecil tersebut ke wanita yang sejak tadi menunggu pria tersebut. Wanita tersebut kemudian membayarnya lalu menutup pintu tersebut lalu berjalan ke arah sepasang suami istri yang belum ada ikatan pernikahan.


'Rasakan wanita mu x ra x han dan pria tua.' Ucap wanita tersebut sambil membuka tutup botol kemudian menyiram wajah wanita tersebut dan mengenai pria paruh baya yang ada disampingnya.


"Akhhhhhhhhhh .... Panas!" Teriak wanita dan pria itu dengan serempak.


Wajah wanita yang sangat cantik dan selalu dibangga - banggakan kini berubah menjadi cacat sedangkan pria paruh baya yang wajahnya keriput tapi masih terlihat tampan kini wajahnya cacat sama seperti wanita yang ada disebelahnya.


Keduanya berteriak kesakitan sedangkan pelakunya tersenyum bahagia kemudian berjalan meninggalkan mereka berdua tanpa memperdulikan teriakan kesakitan.


"Dasar wanita si x alan.!" teriak wanita itu sambil masih berteriak kesakitan karena wajahnya seperti terbakar.


"Kamu itu yang si x alan karena telah mengganggu kesenanganku." Ucap wanita tersebut sambil masih berjalan ke arah pintu.


"Dasar wanita jahat, jangan pergi kamu!" teriak pria paruh baya sambil berjalan ke arah wanita itu.


"Lepas." Ucap pria tersebut ketika pria paruh baya menahan tangannya.


"Tidak akan Aku lepas." Ucap pria paruh baya tersebut.


Ketika wanita tersebut ingin berbicara bersamaan pintu kamar tersebut di dobrak paksa membuat ketiganya menatap ke arah pintu dan melihat empat pria berseragam hitam - hitam berjalan ke arah mereka.


"Siapa kalian?" Tanya mereka bertiga dengan serempak.

__ADS_1


__ADS_2