Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath

Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath
Lari


__ADS_3

"Bagaimana dengan kehidupan keluarga mu?" tanya Hendrik yang ingin tahu kehidupan Maria.


"Seperti pada umumnya orang tuaku memberikan kasih sayang penuh padaku dan memberi kebebasan berteman dengan siapa saja asalkan jangan sampai salah melangkah." Jawab Maria menjelaskan.


"Bagaimana dengan kekasih?" Tanya Hendrik.


"Orang tuaku memberikan kebebasan padaku asalkan setia, tidak ringan tangan, sayang dan tanggung jawab." Jawab Maria.


Hendrik menganggukkan kepalanya tanda mengerti hingga ketika mereka hampir melewati di bawah jembatan tiba - tiba Maria mengatakan sesuatu.


"Kak Hendrik bisa berhenti di depan dekat jembatan." Pinta Maria.


"Mau apa?" Tanya Hendrik dengan wajah bingung.


"Nanti kak Hendrik akan tahu." Ucap Maria sambil tersenyum.


"Kamu ya sukanya bikin orang penasaran." Ucap Hendrik sambil mengurangi kecepatan mobilnya dan mengambil arah sebelah kiri.


"Hehehehe ..." Tawa Maria.


Hendrik menghentikan mobilnya dan berhenti pas di depan dekat jembatan. Maria membuka pintu mobil kemudian menutup pintu mobil diikuti oleh Hendrik.


Maria berjalan ke arah belakang mobil kemudian membuka pintu mobil bagian belakang pengemudi atau di sebut bagasi kemudian mengambil beberapa kantong plastik di tangan kanan dan tangan kirinya.


"Darling tolong bantu membawakan kantong - kantong ini." pinta Maria.


Sambil berbicara Maria membawa beberapa bungkusan plastik dan berjalan mundur agar Hendrik bisa mengambil beberapa kantong plastik yang tersisa.


"Ok." Jawab Hendrik singkat walau hatinya bingung untuk apa semua roti itu dikeluarkan.


Setelah selesai Hendrik mengambil beberapa kantong plastik yang ada di tangan Maria agar Maria tidak keberatan membawanya. Kemudian Hendrik mengunci pintu mobil dan berjalan berdampingan dengan Maria.


"Darling di ujung dekat jembatan banyak pengemis dan gelandangan kita akan ke sana." Ucap Maria.


"Ok." Jawab Hendrik dengan singkat.


Hendrik mulai bisa menebak apa yang akan dilakukan Maria yaitu membagi - bagikan kantong plastik ke pengemis dan gelandangan membuat Hendrik sangat terharu dengan apa yang dilakukan oleh Maria.


Hendrik memeluk Maria dari arah samping untuk menyebrang jalan kemudian mereka berjalan sesuai arah yang ditunjuk oleh Maria.


"Hallo kakak cantik, hallo kakak tampan." Sapa para pengemis dan para gelandangan dengan serempak.

__ADS_1


"Hallo adik - adik semuanya, ini kakak bawakan roti buat kalian." Ucap Maria sambil tersenyum kemudian mulai membagi - bagikan roti.


Hendrik yang melihat Maria membagi - bagikan roti ikut juga membagi - bagikan roti ke mereka. Roti tadi awalnya berat ketika di bawa kini bertambah ringan karena hanya tertinggal beberapa kantong plastik.


Para pengemis dan para gelandangan setelah menerima roti mengucapkan terima kasih ke Hendrik dan Maria kemudian pergi meninggalkan mereka.


"Darling kita ke sana dan tolong pegang kantong plastikku." Ucap Maria sambil memberikan beberapa kantong plastik ke arah Hendrik.


"Ok. Sejak kapan darling melakukan ini?" tanya Hendrik penasaran sambil menerima beberapa kantong plastik pemberian Maria.


"Aku dan Davina sebulan sekali selalu membagi - bagikan makanan dan uang untuk para pengemis dan gelandangan. Kami melakukan itu karena pernah melihat di dalam mobil mereka meminta - minta sambil memegangi perutnya yang lapar." Ucap Maria menjelaskan.


"Pantas saja, kamu memang sungguh wanita yang sangat berbeda." Puji Hendrik sambil tersenyum bahagia.


"Terima kasih atas pujiannya." Ucap Maria sambil tersenyum.


Maria menghentikan langkahnya dan berdiri di sebuah gubuk tua kemudian mengetuk pintu tersebut dan tidak berapa lama pintu langsung terbuka.


ceklek


Seorang wanita paruh baya membuka pintu sambil menatpnya dengan bingung. Maria menjelaskan maksud kedatangannya kemudian memberikan kantong plastik ke wanita paruh baya tersebut. Begitu seterusnya hingga roti yang berada di kantong plastik habis tidak bersisa.


"Ok." Jawab Hendrik dengan singkat sambil membalas genggaman tangan Maria.


Mereka berjalan dengan santai sambil mengobrol namun ketika baru beberapa langkah untuk menyebrang jalan raya, mata elang Hendrik melihat ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi mengarah ke mereka berdua.


"Lari, ada mobil ingin menabrak kita!!" teriak Hendrik sambil menggendong Maria kemudian berlari dengan langkah cepat.


Maria sangat terkejut dan langsung mengalungkan ke dua tangannya ke leher Hendrik agar dirinya tidak terjatuh. Hingga akhirnya Hendrik dan Maria jatuh terguling - guling membuat ke dua tangan dan ke dua kakinya lecet.


Mobil itupun langsung mengemudi dengan kecepatan tinggi seperti sebelumnya karena bagaimanapun dirinya ingin selamat dari amukan para warga dan membiarkan Maria dan Hendrik terluka karena ulah dirinya.


"Darling tidak apa?" tanya Hendrik dengan wajah kuatir sambil membantu Maria berdiri.


"Tidak hanya tangan dan kakiku terasa perih. Darling bagaimana ada yang terluka?" Tanya Maria dengan wajah ikut kuatir sambil berusaha berdiri dengan bantuan Hendrik karena ke dua tangan dan ke dua kakinya tergores badan aspal.


Beberapa warga yang berada di daerah itu mendatangi Maria dan Hendrik dengan terburu - buru namun tidak melupakan keselamatan mereka agar kejadian tersebut tidak terjadi dengan mereka.


"Tuan dan nona tidak apa - apa?" tanya salah satu warga.


"Tidak apa - apa, terima kasih." Jawab Maria.

__ADS_1


Hendrik membantu Maria berjalan ke arah mobil untuk di bawa ke rumah sakit. Hendrik menahan rasa perih pada ke dua sikut tangan dan ke dua lututnya sambil mengendarai mobil hingga lima belas menit kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit.


"Suster tolong cek calon istriku." pinta Hendrik di ruang UGD.


"Baik Tuan Muda." Jawab perawat itu.


Perawat itupun membersihkan luka Maria setelah bersih barulah Maria di obati kemudian ke dua lutut kaki dan ke dua sikut tangan Maria di perban.


"Suster tolong kekasihku juga di obati." Pinta Maria yang sangat mengkuatirkan keadaan Hendrik.


"Tidak usah darling aku tidak apa-apa." Ucap Hendrik yang tidak suka diobati di rumah sakit.


"Tidak ada tapi - tapian. Suster tolong periksa kekasihku." Ucap Maria sambil menatap tajam ke arah Hendrik tanpa ada rasa takut sedikitpun.


Hendrik yang mendapatkan tatapan tajam kekasihnya hanya bisa pasrah karena bagi Hendrik luka lecet adalah luka yang sangat kecil karena ada yang lebih parah dari luka kecil ini.


Hendrik berbaring di ranjang satunya bersebelahan dengan ranjang Maria untuk diobati, setelah beberapa lama akhirnya selesai sudah. Hendrik turun dari ranjang dan berjalan mendekati ranjang kekasihnya. Maria berusaha turun tapi ke dua lututnya masih terasa perih membuat Maria menarik kembali ke dua kakinya.


"Suster rawat kekasihku di ruang perawatan!" Perintah Hendrik.


"Darling ini hanya luka kecil." ucap Maria yang tidak suka di rawat di rumah sakit.


"Sebentar lagi juga bisa jalan dengan normal, benarkan suster?" Tanya Maria sambil menatap ke arah perawat untuk meminta bantuan.


"Benar Tuan, sebentar lagi juga bisa berjalan dengan normal." ucap perawat tersebut membenarkan apa yang dikatakan oleh Maria.


Hendrik menatap tajam ke arah perawat tersebut membuat perawat itu menelan salivanya dengan kasar.


"Maaf Nona, Nona harus di rawat di ruang perawatan." ucap perawat tersebut yang sangat takut dengan tatapan tajam Hendrik yang sangat mengerikan.


'Sangat menakutkan.' sambung perawat tersebut dalam hati.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Ayo dong Vote, like, kopi, bunga, komentar, rate bintang lima dan tip agar author semangat menulisnya. 😚😚😍😍😘😘


Terima kasih yang sudah memberikan Vote, like, kopi, bunga, komentar, rate bintang lima dan tip nya serta terima kasih juga buat para pembaca yang masih setia membaca novelku.😁😚😚😍😍😘😘


Salam Author,


Yakasa

__ADS_1


__ADS_2