
"Tolong hubungi manager hotel untuk membawa pisau dapur, lilin, korek api, air hangat, handuk kecil dan baskom ukuran sedang." Ucap Hendrik.
"OK." Jawab Maria dengan singkat.
"Sama minta kotak P3K." ucap Hendrik.
Maria hanya menganggukkan kepalanya kemudian turun dari ranjang lalu berjalan ke arah meja lalu melihat beberapa catatan kecil di samping telepon. Maria menekan tombol kemudian Maria memesan apa yang tadi diminta oleh Hendrik setelah selesai Maria kembali berjalan ke arah Hendrik.
"Kenapa tidak memanggil dokter saja?" Tanya Maria yang tidak tega melihat Hendrik terluka.
"Tidak perlu, Aku sudah terbiasa mengambil peluru sendiri ketika Aku terkena luka tembak." Jawab Hendrik keceplosan.
"Sudah terbiasa? Memang Kak Hendrik melakukan pekerjaan apa sampai Kak Hendrik beberpa kali di tembak?" Tanya Maria dengan wajah terkejut.
'Waduh keceplosan, Aku tidak mungkin mengatakan kalau Tuan Aberto adalah mafia dan psychophat begitupula dengan diriku.' Ucap Hendrik dalam hati.
Tidak semua orang tahu kalau Daddy Aberto, Hendrik dan para anak buahnya adalah anggota mafia. Di mana mereka menjual pistol dan membunuh orang - orang tanpa ampun bagi orang yang melakukan traksaksi penjualan organ tubuh dan penyeludupan para gadis untuk dijual ke negara lain.
Hal itu dikarenakan salah satu sahabatnya Daddy Aberto di culik dan ditemukan meninggal dunia akibat organ tubuhnya di ambil. Daddy Aberto yang mengetahui hal itu sangat marah dan dendam terhadap orang - orang yang melakukan transaksi penjualan organ tubuh.
Sejak saat itu Daddy Aberto selalu meretas data orang - orang yang melakukan traksasi penjualan tubuh dan terkadang mendapatkan informasi dari berbagai sumber. Setelah mengetahui Daddy Aberto membunuh orang - orang yang sedang melakukan persiapan oprasi untuk di ambil organ tubuhnya. Kemudian menyelamatkan para korban untuk dikembalikan kekeluarganya.
Tentang penyeludupan para gadis untuk di jual ke luar negri karena lima tahun yang lalu adik sepupunya di culik membuat Daddy Aberto bersama anggota mafianya mencari keberadaan adik sepupunya.
Di mana adik sepupunya sudah meninggal dunia akibat melakukan hubungan suami istri secara paksa oleh pria yang membelinya. Daddy Aberto sangat marah dan membunuh pria tersebut tanpa ampun.
Sebelum pria itu mati, pria itu mengatakan ke Daddy Aberto kalau dirinya membeli adik sepupunya dari lelang penjualan di mana mereka menjual para gadis dan para wanita untuk pemuas para pria hidung belang.
Daddy Aberto mulai menyelidiki hingga akhirnya Daddy Aberto menemukan lokasi di mana ketua mafia yang suka menculik para gadis dan para wanita berada.
Daddy Aberto, Hendrik dan para anak buah mafia menyerang mereka hingga akhirnya para penjahat meninggal dunia. Sejak saat itu Daddy Aberto, Hendrik dan para anak buah mafia akan membunuh siapa saja orang yang berani menculik atau menjual organ tubuh.
__ADS_1
Apa yang dilakukan Daddy Aberto dan Hendrik tentu saja para ketua mafia yang sebagian berhasil melarikan diri sangat marah karena usahanya dihancurkan.
Hingga mereka bekerja sama menjebak Daddy Aberto dan Hendrik tetapi mereka selalu kalah namun terkadang Daddy Aberto dan Hendrik bersama anggota mafianya terluka terkena tembakan dari para musuhnya.
Seringnya terkena luka tembak tidak membuat mereka berhenti untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Karena itulah Daddy Aberto dan Hendrik sudah terbiasa terkena luka tembak dan mengambil peluru dari dalam tubuhnya tanpa perlu pergi ke rumah sakit.
"Kak Hendrik kok diam saja?" Tanya Maria yang menatap Hendrik seperti orang sedang memikirkan sesuatu.
"Sstttt ... Tangan Kakak sakit sekali." Ucap Hendrik pura - pura merintih kesakitan tanpa menjawab pertanyaan Maria.
"Ke dokter saja ya Kak." ucap Maria dengan nada kuatir.
Ketika Hendrik ingin menjawab bersamaan pintu kamar hotel di ketuk oleh seseorang membuat Hendrik tidak jadi berbicara. Maria turun dari ranjang kemudian berjalan ke arah pintu kemudian membuka pintu hotel.
Maria melihat pelayan hotel membawa nampan yang berisi permintaan Hendrik. Maria menerima nampan tersebut kemudian memesan dua bubur untuk dirinya dan juga untuk Hendrik. Setelah selesai Maria menutup pintu kemudian berjalan ke arah Hendrik di mana Hendrik turun dari ranjang untuk duduk di lantai.
"Apa yang Kak Hendrik lakukan?" Tanya Maria sambil masih berjalan.
"Oke." Jawab Maria dengan singkat.
"Ada yang bisa Aku bantu?" Tanya Maria.
"Nyalakan lilin lalu panaskan pisaunya dengan menggunakan handuk kecil agar kamu tidak kepanasan." ucap Hendrik.
"Oke." Jawab Maria dengan singkat.
Maria menyalakan lilin setelah lilin menyala Maria mengambil handuk untuk dililitkan ke pisau lalu mulai memanaskannya. Semua tidak luput dari perhatian Hendrik membuat Hendrik tersenyum namun nyaris tidak terlihat.
'Seperti ini rasanya diperhatikan dan dikuatirkan oleh seorang gadis karena selama ini Aku melakukan sendri.' ucap Hendrik dalam hati.
Hendrik sambil tersenyum mengingat wajah cemas Maria melihat lengan Hendrik tertembak.
__ADS_1
"Pisaunya sudah panas, apa adalagi Kak?" tanya Maria.
"Berikan pisau itu sama Kakak." Ucap Hendrik.
"Baik kak." Jawab Maria dengan singkat.
Maria dengan hati - hati memberikan pisau yang sudah panas ke Hendrik dan Hendrik pun menerima pisau tersebut kemudian Hendrik mengarahkan pisau tersebut ke lilin agar pisau tersebut lebih panas.
"Akhhhhhhhhhhhh!" Teriak Hendrik ketika pisau tersebut sudah panas kemudian diarahkan ke lengan Hendrik.
"Kak Hendrik lebih baik kita ke dokter untuk mengambil peluru di dalam lengan kak Hendrik." pinta Maria dengan nada kuatir karena mendengar teriakan kesakitan dari mulut Hendrik.
"Aku tidak suka kalau pergi ke dokter." jawab Hendrik kemudian berteriak lagi.
"Kak Hendrik, Aku nunggu di depan pintu sambil menunggu pelayan yang membawa makanan." ucap Maria karena dirinya sungguh tidak tega melihat pisau itu mengorek peluru di lengan Hendrik terlebih mendengar teriakan kesakitan.
"Ok." Jawab Hendrik dengan singkat.
Maria langsung buru - buru keluar dari kamar hotel karena dirinya tidak sanggup untuk melihat dan mendengar suara teriakan Hendrik membuat dirinya menangis karena tidak bisa melakukan apa - apa.
Maria menatap ke arah lift menunggu pelayan datang sambil membawakan dua mangkok bubur. Maria mendengar kembali teriakan Hendrik membuat dirinya menangis kembali entah kenapa hatinya sangat sakit mendengar teriakan kesakitan Hendrik.
Hingga beberapa saat tidak terdengar lagi suara teriakan Hendrik bersamaan kedatangan pelayan yang keluar dari kotak persegi empat sambil membawa dua mangkok bubur dengan menggunakan nampan.
Setelah menerima nampan yang berisi dua mangkok bubur, Maria menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian masuk ke dalam kamar hotel dan melihat Hendrik menyandarkan tubuhnya di ranjang sambil memejamkan matanya.
"Kak Hendrik." Panggil Maria sambil berjalan ke arah Hendrik.
Hendrik tidak menjawab dan membuka matanya membuat Maria sangat panik dan berjalan ke arah Hendrik. Maria meletakkan nampan di meja dekat ranjang kemudian duduk di samping Hendrik.
"Kak Hendrik, baik baik saja?" Tanya Maria dengan wajah panik.
__ADS_1