
("Tapi tuan..." Ucapan Paman Hendrik terpotong oleh Daddy Aberto).
("Hendrik sejak kapan kamu membantah keputusanku?" Tanya Daddy Aberto dengan nada mulai naik satu oktaf).
Paman Hendrik menatap ke tiga anak kembar majikannya untuk meminta bantuan. David yang mengerti langsung meminta ponselnya dan dengan patuh paman Hendrik memberikan ponselnya ke Tuan Muda Kecil David. Sedangkan Dave dan Daven hanya tersenyum karena ke dua kakak kembarnya tahu kalau sebentar lagi akan ada drama kecil dari adik kembarnya.
("Hendrik jawab pertanyaan ku sejak kapan kamu membantah keputusanku?" Tanya Daddy Aberto sambil mengulangi pertanyaannya dengan suara menggelegar).
("Huaaaaaaaaaaa ..... Daddy.... hiks...hiks... Kenapa Daddy membentakku?" Tanya David sambil pura - pura menangis kejer).
David memberikan isyarat Paman Hendrik untuk tidak bicara dengan cara mengangkat jari telunjuknya ke mulutnya membuat Paman Hendrik tersenyum terlebih melihat Dave dan Daven yang menggeleng - gelengkan kepalanya.
'Tuan Muda David ternyata sangat pintar dalam hal bersandiwara.' Ucap Paman Hendrik dalam hati.
("Maafkan Daddy sayang. Daddy tidak tahu kalau ini.." ucap Daddy Aberto menggantungkan kalimatnya karena suara ke tiga anak kembarnya hampir sama dan saat ini dirinya bingung bicara dengan siapa).
Suara yang awalnya menggelegar kini mendadak berubah ketika salah satu anak kembarnya menerima teleponnya membuat Daddy Aberto menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
("Huwaaa... Daddy sama nama anaknya sendiri lupa." ucap David bertambah kencang nangisnya).
Ke dua kakaknya hanya menahan tawa karena mereka tahu adik bungsunya selain jago bela diri juga jago acting sedangkan paman Hendrik hanya menggeleng - gelengkan kepalanya melihat Tuan Muda Kecil David yang pura - pura menangis.
("Maaf.. Maaf... Daddy lupa habis suara kalian sama." ucap Daddy Aberto meminta maaf untuk pertama kalinya karena selama ini dirinya paling anti meminta maaf).
("Ini siapa sayang? Dave? Daven atau David?" Tanya Daddy Aberto dengan suara sangat lembut selembut sutra).
("Daddy, Hiks .... Hiks ... Hiks ... Ini David." Jawab David yang masih terdengar suara isak tangis).
("David sayang, mana Paman Hendrik?" tanya Daddy Aberto dengan nada masih lembut).
("Daddy, datang ke perusahaan PT Abales Bravo Co-op." ucap Daven mengambil ponsel yang di pegang oleh adiknya tanpa menjawab permintaan daddynya).
("Memangnya ada apa David?" tanya Daddy Aberto yang tidak tahu kalau yang berbicara bukan David).
("Daddy, aku Daven." ucap Daven).
Daddy Aberto hanya bisa memijat kepalanya karena dirinya benar - benar tidak bisa membedakan suara ke tiga anak kembarnya.
(" Memangnya kenapa Daddy harus datang ke perusahaan PT Abales Bravo Co-op?" tanya Daddy Aberto).
("Nanti Daddy akan tahu, Daddy datang ya dan langsung masuk ke ruang meating." Jawab Daven yang tidak ingin menjawab pertanyaan Daddy Aberto).
("Aish... itukan perusahaan milik orang lain sayang. Kalau ke sana harus buat janji dulu." ucap Daddy Aberto menjelaskan).
("Daddy, masa ke perusahaan milik Paman Hendrik harus minta ijin?" tanya Daven).
("What??? Milik Paman Hendrik? Maksudnya?" tanya Daddy Aberto dengan nada terkejut).
("Nanti Daddy akan tahu, sekarang datang ya dad." Pinta Daven).
("Baiklah." Jawab Daddy Aberto pasrah yang tidak bisa menolak permintaan anak kembarnya).
("Ok bye Daddy." ucap Daven).
__ADS_1
("Bye." Jawab Daddy Aberto dengan nada masih bingung).
Tut Tut Tut Tut Tut
Sambungan komunikasi pun langsung terputus secara sepihak oleh Daddy Aberto karena Daddy Aberto bersiap - siap untuk pergi ke perusahaan PT Abales Bravo Co-op.
"Paman ini ponselnya." ucap Daven sambil memberikan ponselnya.
Paman Hendrik menerima ponselnya dan menyimpannya kembali ke dalam saku jasnya.
"Paman, maaf terpaksa aku jujur kalau perusahaan ini milik Paman." ucap Daven.
"Tidak apa-apa Tuan Muda Kecil lebih baik seperti itu karena kalau kita berbohong lama - lama Daddy kalian akan curiga." ucap paman Hendrik.
"Karena Daddy kalian sudah tahu nanti nama kepemilikan langsung di ganti dengan nama Daddy kalian." Sambung Paman Hendrik.
Paman Hendrik bukanlah tipe orang yang haus akan kekuasaan atau memiliki sesuatu yang bukan miliknya karena itulah Paman Hendrik mengembalikan perusahaan yang bukan miliknya.
Dave, Daven dan David saling menatap seakan memberikan kode kemudian ke tiga anak kembar tersebut menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Tidak Paman, perusahaan ini Kami hadiahkan untuk Paman karena itulah Kami sengaja perusahaan ini atas nama Paman." Ucap Dave menjelaskan.
"Kenapa perusahaan ini diberikan sama Paman?" Tanya Paman Hendrik dengan wajah terkejut.
"Karena Paman selama bekerja dengan Daddy sangat tulus dan jujur." Jawab Daven.
"Sebagai ungkapan terima kasih Kami maka Kami memberikan perusahaan ini untuk Paman." Sambung David.
Paman Hendrik diam membatu mendengar ucapan ke tiga anak kembar yang sangat menyentuh hatinya. Paman Hendrik sangat terharu karena usia Mereka yang masih kecil namun mempunyai hati yang sangat baik dan dirinya sangat bersyukur bisa bekerja dengan orang - orang yang perduli pada dirinya.
"Paman Hendrik pantas mendapatkannya." Ucap ketiga anak kembarnya bersamaan.
"Mengenai jika kami besar nanti Paman tenang saja perusahaan milik Daddy sangat banyak." sambung Dave.
"Betul." Jawab ke dua adik kembarnya dengan serempak.
"Paman, lebih baik kita ke ruang meeting sekarang dan jangan lupa tolong bawakan tiga laptop." Ucap Daven mengalihkan pembicaraan.
"Baik Tuan Muda Kecil." Jawab paman Hendrik dengan patuh.
Mereka pun berjalan ke arah ruangan meeting semua orang menunduk hormat karena mereka tahu kalau kalau paman Hendrik adalah pemilik perusahaan yang baru.
"Perkenalkan nama saya adalah Hendrik William dan ke tiga anak kembar ini adalah ponakanku." Ucap Hendrik memperkenalkan dirinya.
Merekapun berbisik-bisik satu dengan yang lainnya tanpa ada yang berani berkomentar.
"Ehem.. bisa kita mulai acara meetingnya?" tanya Hendrik sambil berdehem.
"Bisa Tuan." Jawab mereka dengan serempak.
"Sekarang laporkan laporan kalian selama tiga bulan terakhir ini!" Perintah paman Hendrik.
Dua orang berdiri mereka membagi - bagikan foto copy laporan mereka sedangkan yang asli diberikan oleh paman Hendrik. Salah satu dari mereka mulai berbicara setelah selesai di lanjutkan dengan divisi lainnya begitu seterusnya hingga selesai.
__ADS_1
Daven yang cepat mengerti tentang bisnis mengambil satu demi satu dokumen yang sudah di baca oleh paman Hendrik kemudian menyerahkannya kembali dokumen yang sudah ditandai dengan cara di tulis catatan kecil.
Daven memberikan dokumen tersebut ke Paman Hendrik dan Paman Hendrik menerima kemudian membaca dokumen yang sudah di tandai dan di tulis catatan kecil oleh Daven kemudian berdiri.
"Untuk Divisi keuangan laporan kalian masih salah jadi aku minta perbaiki lagi!" Perintah paman Hendrik sambil mengangkat satu dokumen yang berisi laporan keuangan.
Divisi keuangan langsung berdiri dan mengambil dokumen tersebut sambil tangan kirinya menggenggam erat menahan amarah dan itu tidak luput dari pengelihatan ke tiga anak kembar yang sejak tadi memperhatikan semua orang - orang yang mengikuti meeting.
Daven kemudian kembali mencorat coret dokumen lainnya lalu diberikan ke Paman Hendrik dan Paman Hendrik langsung menerima dokumen tersebut. Daven lalu melanjutkan dokumen berikutnya hingga semua dokumen tersebut sudah selesai di cek.
"Untuk Divisi Personalia, kenapa banyak pegawai tidak masuk kerja selama 3 hari berturut-turut tanpa pemberitahuan tanpa dikenakan sanksi?" tanya paman Hendrik sambil menatap ke arah divisi personalia.
"Maaf tuan nanti saya akan memberikan sanksi." Jawab divisi personalia.
"Ini juga ada satu bulan lebih tanpa pemberitahuan apakah orang ini mendapatkan gaji?" tanya paman Hendrik menahan emosi.
"Iya tuan gajinya utuh." Jawab divisi keuangan.
"Kenapa?" tanya paman Hendrik.
"Karena ayahnya wakil CEO." Jawab divisi HRD sambil melirik ke arah wakil CEO yang sedang menahan amarahnya sejak tadi.
Wakil CEO hanya bisa menggenggam ke dua tangannya agar bisa mengontrol emosi nya namun tanpa sepengetahuannya kalau ke tiga anak kembar memperhatikan perubahan wajah dan gerak geriknya.
brak
Paman Hendrik berdiri dan menatap tajam ke arah semua divisi membuat mereka terdiam tanpa ada yang berani berkomentar namun terlihat jelas wajah - wajah mereka seperti menahan amarahnya.
"Pecat orang itu begitu juga dengan semua pegawai yang tanpa ijin tidak masuk kerja karena perusahaan tidak membutuhkan orang pemalas!" Perintah paman Hendrik sambil melirik sekilas ke arah wakil CEO.
"Tapi tuan..." Ucapan Divisi Personalia terpotong oleh paman Hendrik.
"Tidak ada tapi - tapian. PECAT!" Perintah paman Hendrik sambil matanya melotot hendak keluar dengan suara yang menggelegar.
"Ini juga divisi pemasaran kenapa penjualan merosot? Apakah kalian ingin perusahaan ini cepat gulung tikar hah!!" Perintah Paman Hendrik dengan nada satu oktaf.
"Ini juga Divisi Keamanan tapi apa yang diamankan jika ada barang perusahaan yang hilang?" tanya paman Hendrik dengan nada naik satu oktaf.
" Divisi sales.. Apa yang kalian kerjakan? Semua produk yang perusahaan jual selama tiga bulan ini tidak ada peningkatan sama sekali malah semakin cenderung menurun." omel paman Hendrik.
"Aku minta dalam jangka waktu selama seminggu laporan harus berada di tanganku. Untuk orang yang malas bekerja langsung pecat dan laporkan padaku." ucap paman Hendrik dengan nada tegas dan tak terbantahkan.
brak
Wakil CEO menggebrak meja dan menatap tajam ke arah paman Hendrik tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"Aku tidak yakin kalau Tuan itu pemilik perusahaan ini karena Aku sangat yakin kalau Tuan hanya seorang asisten. Seorang asisten saja sombong sekali main pecat - pecat dan meminta kami untuk merubah laporan. Kalau yang meminta pemimpin CEO baru kami lakukan tapi tuan hanya karyawan rendahan malah lebih rendah dari jabatanku." hina wakil CEO.
"Ya benar, lebih baik usir mereka semuanya." ucap divisi hrd yang sejak tadi menahan amarahnya.
"Iya usir saja. Apalagi mana ada tiga anak kembar ikut rapat meeting." ucap divisi keamanan yang juga sejak tadi menahan amarahnya.
"Ya benar, siapa tahu dia itu hanya asisten atau bodyguard yang hanya untuk menjaga ke tiga anak kembar." Ucap Divisi Keuangan dengan nada menghina.
__ADS_1
Mereka saling bersahutan menghina Paman Hendrik dan ke tiga anak kembar sedangkan Paman Hendrik yang bersiap membalas ucapan mereka tiba - tiba terdengar suara pintu meeting di dobrak dengan paksa.
Brak