Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath

Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath
Markas Kantor Polisi


__ADS_3

Ke empat bodyguard berjalan menuju ke arah para manajer dan Kepala Sekuriti yang sedang terluka kemudian mulai mengecek di balik saku jas milik mereka. Di mana ke empat bodyguard menemukan pistol dan pisau lipat di balik saku jas milik para manajer dan Kepala Sekuriti.


"Tuan, Mereka menyimpan senjatanya di balik saku jasnya." Ucap ke empat bodyguard dengan serempak sambil memperlihatkan pistol dan pisau lipatnya.


"Simpan pistolnya dan pisau lipatnya lalu bawa mereka ke markas kantor polisi." Ucap Daddy Aberto.


Markas kantor polisi dalam arti Daddy Aberto adalah Markas Mafia milik Dadddy Aberto di mana nantinya mereka akan di siksa dan berakhir dengan kematian. Daddy Aberto mengatakan markas kantor polisi karena ada ke tiga anak kembarnya yang melihat dan mendengar apa yang dikatakan dan apa yang dilakukannya.


"Baik tuan." Jawab ke empat bodyguard tersebut dengan serempak sambil menyeret mereka.


Salah satu bodyguard yang di anggap sebagai pemimpin bodyguard menghubungi temannya untuk datang bersama beberapa rekannya untuk membawa semua para manager yang masih ada di ruangan tersebut.


Dor


Dor


Dor


Dor


"Akhhhhhhhhhhhh." Teriak Wakil CEO kesakitan.


Bruk


Ketika Dave ingin bicara bersamaan terdengar suara empat tembakan dari pistol milik Daddy Aberto, Paman Edward, Paman David dan Paman Hendrik. Di mana ke empat pria tampan tersebut menembak Wakil Ceo secara bersamaan membuat Wakil CEO berteriak kesakitan dan langsung ambruk seketika.

__ADS_1


"Kamu pikir kami tidak tahu apa yang kamu lakukan?" Tanya Daddy Aberto, Paman Edward, Paman David dan Paman Hendrik dengan serempak sambil menampilkan wajah sinis.


"Bawa pria itu keluar!" Perintah Daddy Aberto yang melihat beberapa bodyguard yang baru masuk ke dalam ruangannya sedangkan ke empat bodyguard yang tadi berada di luar sambil membawa para penjahat menuju ke arah parkiran mobil.


"Baik Tuan." Jawab salah satu bodyguard.


"Hendrik, kemana ke tiga putraku? Kenapa Mereka bisa tahu apa yang kita lakukan?" tanya Daddy Aberto beruntun dengan wajah penasaran sedangkan Paman Edward dan Paman David diam saja karena mereka sudah tahu.


"Maaf Tuan, Mereka ada di ruangan CEO dan ke tiga Tuan Muda Kecil bisa melihat Kita dengan menggunakan cctv yang ada di ruangan ini." Jawab Hendrik sambil menunjuk ke arah beberapa cctv yang terpasang di sudut ruangan.


Daddy Aberto menatap sekeliling sudut yang di tunjuk oleh Paman Hendrik sedangkan Paman Edward dan Paman David melambaikan tangannya ke arah kamera cctv.


"Hallo daddy." Panggil ke tiga anak kembar dengan serempak.


"Anak - anak Daddy, apakah kalian baik - baik saja?" Tanya Daddy Aberto sambil kepalanya menoleh ke arah kanan dan kiri menatap kamera cctv.


"Daddy, Mereka lebih baik di pecat saja karena Mereka jelas - jelas tidak bisa diajak kerja sama dan bisa membuat perusahaan yang kami beli bangkrut." Ucap David sambil menahan amarahnya.


"David kenapa kamu bilang ke Daddy?" tanya Dave dan Daven dengan serempak sambil menatap tajam ke arah adik bungsunya.


"Maaf Kak, Aku lupa kalau kemarin kita yang telah membuat bangkrut mereka karena telah menghina Mommy dan kita membeli perusahaan mereka dengan uang tabungan kita." ucap David dengan wajah polos yang memang sifat David mirip Mommy Davina yang tidak bisa berbohong.


"David!! Akhhhhhhhh .... Kenapa Kamu bongkar semuanya ke Daddy?" Tanya ke dua kakak kembarnya dengan serempak sambil masih menatap adik bungsunya dengan tatapan tajam.


"Maaf Kak, Aku lupa." Jawab David dengan mata mulai berkaca-kaca dan dua bibirnya mulai keriting tanda David bersiap untuk menangis.

__ADS_1


"Tadi di depan Opa dan Oma, Kamu bisa berbohong dan begitu juga dengan Paman Hendrik tapi kenapa sekarang tidak bisa?" Tanya Dave dengan nada satu oktaf dan menatap adik bungsunya dengan tatapan datar mirip Daddy Aberto.


"Hiks... hiks... Daddy.." ucap David sambil terisak dan mengadu ke Daddy Aberto.


Daddy Aberto yang setia mendengarkan percakapan putranya hingga dirinya terkejut putranya ada yang menangis membuatnya dirinya tidak tega mendengarnya.


"Dave, David jangan marahin adikmu." ucap Daddy Aberto dengan nada tegas.


"Maaf daddy." ucap ke dua putranya dengan serempak.


"Dek, maafkan kakak ya." Ucap ke dua kakak kembarnya.


"Iya kak." Jawab David yang tidak mempunyai dendam atau marah dengan ke dua Kakak kembarnya begitu pula sebaliknya.


"Sekarang kalian berdua berpelukan." Pinta Daddy Aberto.


"Baik Daddy." Jawab Dave dan Daven dengan serempak.


Mereka bertiga pun saling berpelukan dan tidak berapa lama Mereka melepaskan pelukannya. Tanpa sengaja mata elang ke tiga anak kembar melihat empat orang bersembunyi yang tidak jauh dari ruang rapat di mana pintu ruang rapat terbuka dengan lebar sambil Mereka masing - masing mengeluarkan pistolnya.


Di mana pistol tersebut diarahkan ke Daddy Aberto, Paman Edward, Paman David dan Paman Hendrik yang sedang berjalan keluar dari ruangan rapat.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Sambil menunggu Up silahkan mampir ke karya temanku dengan judul :

__ADS_1



__ADS_2