Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath

Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath
Acara Lamarannya Batal


__ADS_3

"Anak buahnya Hendrik." Jawab Daddy Aberto yang mengenal penembak jitu tersebut.


"Anak buahnya Hendrik? Berarti anak buahmu juga?" Tanya Edward sambil menatap ke arah kakak iparnya.


"Betul sekali. Sepertinya Hendrik sangat membenci wanita itu karena itulah menembaknya agar tidak menjadi boomerang suatu saat nanti." Jawab Daddy Aberto menjelaskan kenapa Hendrik melakukan hal itu.


'Biasanya Aku dan Hendrik menyiksa dulu hingga akhirnya orang itu mati secara perlahan karena tidak kuatnya siksaan yang Aku terima.' Sambung Daddy Aberto dalam hati.


"Sudahlah lupakan saja apalagi wanita itu pada akhirnya akan mati juga." Ucap Edward yang tidak perduli dengan nyawa manusia.


"Kak Edward." Panggil Mommy Davina dan Alona bersamaan.


Edward yang ingin menjawab mendapatkan kode dari istrinya di mana Alona melirik ke tiga ponakannya membuat Edward mengerti. Ketika Edward ingin menanyakan sesuatu tiba - tiba ponsel milik Daddy Aberto berdering membuat Edward tidak jadi bicara.


Daddy Aberto mengambil ponselnya dari saku jasnya kemudian mengangkat ponselnya. Daddy Aberto mengobrol sebentar setelah dua menit Daddy Aberto sudah selesai telepon.


"Kamar tamu di lantai satu untuk dijadikan ruang perawatan sudah selesai di renovasi jadi Mommy bisa menempatinya." Ucap Daddy Aberto.


"Apakah alat - alat yang dibutuhkan Davina tersedia?" Tanya Edward.


"Tentu saja termasuk perawat dan dokter dua puluh empat jam di mana mereka tinggal sementara di mansion untuk berjaga - jaga." Jawab Daddy Aberto.


"Sekarang Daddy akan hubungi dokter untuk memindahkan Mommy ke mansion." Ucap Daddy Aberto.


Mommy Davina tersenyum bahagia membuat Daddy Aberto membalas senyuman Mommy Davina. Daddy Aberto menghubungi dokter untuk memindahkan Mommy Davina ke mansion. Setelah selesai Daddy Aberto sambil menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.


Singkat cerita kini Mommy Davina sudah di rawat di mansion milik Daddy Aberto dimana ruangan tersebut sangat mirip dengan ruang perawatan. Sedangkan di tempat yang berbeda lebih tepatnya di mansion milik orang tua Maria, Hendrik dan Maria masuk ke dalam mansion namun wajah mereka kecewa.


Pasalnya orangtuanya tidak bisa pulang dikarenakan adik dari Ayahnya Maria sakit keras membuat orang tuanya pergi keluar negri untuk menengok keadaannya.


"Kalau begitu Kakak akan hubungi Tuan Muda Aberto agar tidak datang ke mansion." Ucap Hendrik sambil mengeluarkan ponselnya.


Maria hanya menganggukkan kepalanya sedangkan Hendrik menghubungi Daddy Aberto kalau acara lamarannya batal. Setelah lima menit kemudian Hendrik menyimpan ponselnya di saku jasnya.


"Kalau begitu Kakak pulang dulu ya." Pamit Hendrik yang ingin istirahat di apartemen.


"Aku bosan tidak ngapa - ngapain, bagaimana kalau Aku ikut?" Tanya Maria yang masih kangen dengan Hendrik.


"Boleh." Jawab Hendrik dengan singkat.

__ADS_1


Akhirnya Hendrik pulang ke apartemen dengan ditemani Maria dan sepanjang jalan mereka mengobrol dan sesekali mereka tertawa bersama. Hingga tidak terasa sudah lima belas menit di mana mereka sudah sampai di apartemen milik Hendrik.


"Apartemennya agak kecil tidak seluas mansion milik orangtuamu." ucap Hendrik sambil menekan pin apartemen.


"Asalkan nyaman tidak masalah." Ucap Maria sambil masuk ke dalam apartemen ketika Hendrik mendorong pintu dengan lebar.


Hendrik ikut masuk ke dalam apartemen dan tiba - tiba Hendrik memeluk Maria dari arah belakang membuat Maria terkejut dengan apa yang dilakukan Hendrik.


"Apa yang Kak Hendrik lakukan?" Tanya Maria.


"Sebentar saja, Aku kangen banget sama kamu." jawab Hendrik sambil mencium leher Maria.


"Darling ... Ahhhhhh ... Nanti kebablasan." Ucap Maria sambil mengeluarkan suara merdu.


"Kakak akan menahannya." Jawab Hendrik.


Maria memejamkan matanya menikmati sentuhan Hendrik hingga Hendrik melepaskan pelukannya kemudian membalikkan tubuh Maria agar menghadap dirinya.


"I Love You." Ucap Hendrik sambil memajukan wajahnya ke wajah Maria.


"I Love You Too." Jawab Maria sambil memejamkan matanya.


"Takut kebablasan jadi Kakak mandi dulu." Ucap Hendrik sambil berjalan ke arah tangga menuju ke kamarnya.


"Anggap saja rumah sendiri." Sambung Hendrik sambil menaiki satu persatu anak tangga.


"Oke." Jawab Maria dengan singkat.


Bagaimanapun Hendrik pria normal karena itulah ketika memeluk dan mencium Maria membuat wortel importnya perlahan berdiri hingga tegak sempurna. Hendrik berjalan menuju ke kamar mandi untuk menidurkan wortel importnya sedangkan Maria berjalan mengelilingi ruangan milik Hendrik.


"Aku sangat bersyukur Kak Hendrik bisa menahannya." Ucap Maria sambil berjalan mengelilingi ruangan tersebut.


Maria berjalan dengan santai hingga Maria menghentikan langkahnya ketika dirinya berada di ruangan dapur. Maria iseng membuka kulkas bagian atas dan bagian bawah di mana semuanya serba lengkap.


"Aku masak saja karena kebetulan Aku sangat lapar dan pasti Kak Hendrik juga lapar." Ucap Maria.


Maria mulai meracik bumbu masakan hingga bau harum masakan memenuhi ruangan tersebut. Hendrik yang sudah selesai mandi dan memakai pakaian santai keluar dari kamarnya hingga dirinya mencium aroma masakan yang membuatnya lapar.


"Apakah calon istriku masak? Bikin Aku lapar." Ucap Hendrik sambil menuruni anak tangga satu demi satu.

__ADS_1


Hendrik menghentikan langkahnya dan melihat Maria menggulung rambutnya hingga memperlihatkan leher mulusnya. Hendrik menelan salivanya dengan kasar membuat Hendrik memalingkan wajahnya ke arah samping.


'Masa Aku mandi lagi? Lama - lama masuk angin.' Ucap Hendrik dalam hati.


"Masak apa darling?" Tanya Hendrik sambil berusaha menghilangkan pikiran mesumnya.


"Seperti darling lihat." Jawab Maria.


"Jadi tidak sabar mau makan karena Kakak sudah lapar." Ucap Hendrik sambil duduk di kursi makan.


"Sebentar lagi selesai Kak." Ucap Maria sambil meletakkan makanan yang sudah selesai di masak.


Maria mengambil dua gelas kemudian mengisinya dengan air mineral sedangkan Hendrik tersenyum bahagia karena baru kali ini dirinya diperlakukan seperti ini.


Mereka berdoa terlebih dahulu kemudian mereka makan bersama tanpa mengeluarkan suara sedikitpun hingga lima belas menit kemudian mereka sudah selesai makan dan minum.


"Biar Kakak yang mencuci piring dan gelas." Ucap Hendrik yang melihat Maria menumpuk piring dan gelas.


"Tapi ...." Ucapan Maria terpotong oleh Hendrik.


"Kamu yang masak dan Aku yang mencuci piring dan gelas yang kotor." Ucap Hendrik.


"Kalau begitu Aku bersihkan meja makan saja." Ucap Maria.


"Oke." Jawab Hendrik dengan singkat.


Hendrik kemudian mencuci piring sedangkan Maria membersihkan meja makan hingga lima menit kemudian pekerjaan sudah selesai. Hendrik mengajak Maria ke ruang keluarga untuk menonton televisi sambil menurunkan makanan yang baru saja dimakannya.


"Darling, bolehkah Aku bertanya sesuatu?" tanya Maria sambil menekan - nekan tombol remote untuk mencari berita gosip atau drama Korea kesukaannya.


"Silahkan, Darling." Jawab Hendrik.


"Maaf Darling, bukannya Aku curiga tapi jujur jika Aku tidak bertanya membuatku penasaran." Ucap Maria.


Hendrik hanya diam menunggu ucapan Maria selanjutnya sambil meletakkan kepalanya di ke dua paha Maria.


"Aku ingin ..." Ucap Maria ragu dan menggantungkan kalimatnya sambil membelai rambut Hendrik dengan lembut.


"Aku ingin ... Apa?" Tanya Hendrik sambil memejamkan matanya menikmati belaian lembut Maria.

__ADS_1


__ADS_2