Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath

Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath
Ada yang bisa Aku bantu?


__ADS_3

Daddy William hanya menganggukkan kepalanya kemudian Daddy William memejamkan matanya dan tanpa membutuhkan waktu lama Daddy William tertidur dengan pulasnya.


Mommy Angelica yang melihat suaminya tidur dengan pulas ikut berbaring di ranjang khusus untuk menunggu pasien. Tidak membutuhkan waktu lama Mommy Angelica tertidur dengan pulas menyusul mimpi indah bersama suaminya.


Di tempat yang sama hanya berbeda diruangan di mana Tuan Abertos tidur di sofa panjang sedangkan istrinya tidur di ranjang khusus untuk menunggu pasien bersama ketiga cucu kembarnya. Hingga dua jam kemudian Tuan Abertos perlahan membuka matanya.


'Aku ingin menengok keadaan besanku karena tadi Aku langsung istirahat.' Ucap Tuan Abertos sambil turun dari sofa.


"Opa mau pergi lagi?" tanya Dave, Daven dan David bersamaan sambil duduk di sisi ranjang.


Ketika Tuan Abertos turun dari sofa bersamaan ketiga cucu kembarnya terbangun dan melihat Tuan Abertos berjalan ke arah pintu. Suara ketiga anak kembar membuat Nyonya Abertos dan Daddy Aberto membuka matanya.


"Tidak sayang. Opa mau melihat Opa William dan juga Mommy kalian." Ucap Tuan Abertos sambil berjalan ke arah ke tiga cucu kembarnya kemudian menggendong Daven dan David.


"Opa, kalau Opa membutuhkan sesuatu katakan saja pada kami karena ketiga cucu Opa ini siap sedia membantu opa." Ucap Daven yang bisa melihat Tuan Abertos mempunyai masalah namun dipendamnya.


"Opa sepertinya lelah. Lebih baik Opa jaga kesehatan nanti Opa sakit." Sambung David sambil membelai pipi Tuan Abertos dengan tangan mungilnya.


"Jika ada masalah perusahaan, masalah menemukan orang jahat dan menangkap penjahat maka Opa katakan pada kami karena Kami sanggup melakukannya." Sambung Dave dengan nada dingin.


"Terima kasih cucu - cucu Opa yang sangat tampan karena perhatian sama opa." jawab Tuan Abertos sambil mengecup kening Dave, Daven dan David secara bergantian.


"Opa, kami juga ingin melihat keadaan Opa William." Ucap Dave.


"Kami juga." Sambung Daven dan David dengan serempak.


"Oke tapi Opa tidak gendong ya karena badan Opa lagi tidak enak." Ucap Tuan Abertos.


"Baik Opa." Jawab Daven dan David dengan serempak.


"Aku juga ikut." Sambung Nyonya Abertos dan Daddy Aberto dengan serempak.


"Baik tapi Daddy pergi dulu ambil kursi roda." Ucap Tuan Abertos.


"Biar Mommy saja yang ambil." Ucap Nyonya Abertos yang tidak tega melihat wajah pucat suaminya.


Tuan Abertos hanya menganggukkan kepalanya kemudian Nyonya Abertos keluar dari ruang perwatan untuk mengambil kursi roda. Tidak membutuhkan waktu lama Nyonya Abertos datang sambil membawa kursi roda.


Kini Daddy Aberto duduk di kursi roda kemudian Nyonya Abertos mendorong kursi roda. Awalnya Tuan Abertos melarangnya namun Nyonya Abertos memaksanya membuat Tuan Abertos terpaksa menuruti permintaan istrinya.


Tuan Abertos mengikuti istrinya dari arah samping sedangkan ke tiga anak kembar berjalan ke arah depan. Tuan Abertos bersama istrinya masuk ke dalam dan melihat Mommy Angelica menyuapi Daddy William.


Mereka mengobrol bersama dan terkadang tertawa bersama sedangkan ketiga anak kembar mengutak atik ponselnya. Setelah hampir satu jam lamanya akhirnya Tuan Abertos, Nyonya Abertos, Daddy Aberto dan Dave kembali ke ruang perawatan sedangkan Daven dan David menemani Mommy Angelica dan Daddy William.


Tuan Abertos, Nyonya Abertos, Daddy Aberto dan Dave kini melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang ICU tempat di mana menantu kesayangannya masih berbaring di ranjang dalam keadaan koma.


xxxxxxx


Di tempat yang berbeda di mana Maria duduk di samping pengemudi sedangkan Hendrik duduk di kursi pengemudi. Hendrik mengendarai mobil dengan kecepatan sedang sambil sesekali melirik ke arah Maria.


"Kalau tidak salah namamu Maria ya?" tanya Hendrik basa basi dengan jantung berdebar - debar.


'Kenapa jantungku berdebar - debar? Apa jangan - jangan Aku terkena penyakit jantung? Nanti setelah pekerjaan beres dan pulang dari luar kota, Aku langsung pergi ke dokter untuk mengecek jantungku.' Sambung Hendrik dalam hati.


"Bukankah waktu pertama kali kita bertemu di mansion milik Tuan Aberto kita sudah kenalan?" tanya Maria sambil menatap ke arah Hendrik.

__ADS_1


'Asli ini cowok tampan banget, senang banget kalau Kak Hendrik menembakku.' Sambung Maria dalam hati.


"Hehehehe... masa sih?" tanya paman Hendrik sambil tertawa malu dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Maria hanya tersenyum melihat Hendrik tersenyum malu sedangkan yang di tatap langsung menatap ke arah depan sambil merutuki kebodohannya.


'Aduh kenapa Aku jadi bodoh ya? Padahal jelas - jelas tadi pagi sudah kenalan, kenapa Aku jadi bodoh begini ya? Malu - maluin aja." Ucap paman Hendrik dalam hati.


Mereka berdua langsung terdiam tidak ada satupun yang bicara, tenggelam dalam pikiran masing - masing. Hal itu membuat Maria bosan sedangkan perjalanan menuju keluar kota masih jauh sekitar lima jam.


"Kak Hendrik suka lagu apa?" tanya Maria setelah beberapa saat mereka terdiam.


"Apa saja suka asalkan jangan rock." Jawab Hendrik.


"Lho memangnya kenapa?" tanya Maria penasaran.


"Aku tidak suka suara berisik." Jawab Hendrik dengan jujur.


"Berarti kak Hendrik tidak ingin menikah donk?" Tanya Maria sambil menatap ke arah Hendrik.


"Lho apa hubungan menikah dengan musik rock?" tanya Hendrik penasaran sambil melirik ke arah Maria.


"Bukan musik rocknya tapi kak Hendrik tidak suka suara berisik kan?" tanya Maria memastikan.


"Iya benar, terus?" tanya Hendrik yang masih penasaran.


"Kalau menikah kan nanti istrinya hamil terus melahirkan bayi mungil. Nah pas bayinya menangis otomatis Kak Hendrik pasti tidak suka karena berisik mengganggu ketenangan Kak Hendrik." Jawab Maria menjelaskan.


"Pffftttt... Hahahaha... Kamu ada - ada saja. Kalau Aku menikah dan mempunyai anak tentu saja tidak masalah anakku berisik karena menangis. Justru Aku sangat senang karena Aku tidak kesepian lagi di mana setiap hari Aku selalu pulang malam agar cepat tidur agar tidak merasakan kesepian." Jawab Hendrik dengan jujur dan tertawa lepas.


"Belum, apakah kamu..." ucap Hendrik menggantungkan kalimatnya karena ada mobil berhenti di tengah jalan.


cittttttttttttttt


Hendrik terpaksa mengerem mobilnya secara mendadak membuat kepala Maria nyaris terkena dasboard mobil jika saja Hendrik tidak menahan kepala Maria dengan menggunakan tangan kirinya membuat Hendrik merasakan nyeri di tangannya.


"Kenapa mobilnya yang di depan berhenti di tengah jalan?" tanya Hendrik sambil melepaskan sealbeltnya.


"Tidak tahu kak." Jawab Maria.


"Kamu di sini saja dan jangan keluar." Ucap Hendrik.


"Baik Kak tapi Kakak harus hati - hati." Ucap Maria.


Hendrik tersenyum ke arah Maria kemudian keluar dari mobil untuk berjalan ke arah mobil yang menghalangi mobilnya. Namun baru beberapa langkah empat orang pria berwajah sangar keluar dari mobil tersebut.


"Siapa kalian?" tanya Hendrik dengan nada dingin.


"Kamu tidak perlu tahu siapa kami yang pasti kami menginginkan nyawamu." ucap salah satu pria tersebut.


Mereka berempat langsung menyerang Hendrik, Hendrik berusaha menghindar sambil membalas pukulan mereka. Maria yang melihat itu langsung turun dari mobil untuk membantu terlebih dirinya bisa bela diri.


Hendrik memukul, menendang dan sesekali menghindar dari serangan musuh hingga Maria datang membantunya. Dua orang berhasil dilumpuhkan dan di buat babak belur oleh Hendrik dan Maria. Maria dan Hendrik menyerang ke dua pria yang masih bertahan dan tidak membutuhkan waktu lama mereka berempat sudah babak belur.


"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Hendrik mengulangi perkataannya.

__ADS_1


Mereka hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Hendrik hal itu membuat Hendrik menghembuskan nafasnya dengan kasar kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi anak buahnya setelah selesai menghubungi Hendrik menyimpan kembali ponselnya.


"Kita tunggu di sini sebentar, tidak apa - apakan?" tanya Hendrik.


"Tidak apa - apa santai saja." Jawab Maria sambil tersenyum.


Tanpa sepengetahuan mereka ada seseorang yang bersembunyi di batang pepehonan dan mengarahkan senjatanya ke arah Hendrik.


Dor


'Akhhhhh ....!" Teriak Hendrik kesakitan.


Hendrik terluka di bagian lengannya membuat Hendrik mengambil pistol di balik saku jasnya dan mencari orang yang tadi menembaknya dan dengan tatapan elangnya, Hendrik dapat melihat posisi orang tersebut dan langsung mengarahkan pistolnya ke tangan orang yang tadi menembaknya.


Dor


'Akhhhhh ....!" Teriak pria tersebut kesakitan.


Hendrik yang sudah ahli dalam bidang senjata terutama pistol langsung menembak tepat sasaran dan mengenai tangan kanan orang tersebut membuat senjata yang dipegangnya terjatuh.


Sedangkan Maria menahan tubuh Hendrik agar tidak terjatuh dan tidak berapa lama anak buah Daddy Aberto datang dan langsung membawa ke empat pria sangar yang sudah babak belur dan satu orang lagi yang tangannya terluka terkena luka tembak.


"Pak, tolong kak Hendrik di angkat ke mobil dan baringkan di kursi samping depan pengemudi biar saya yang antar ke rumah sakit." pinta Maria ke salah satu anak buah Daddy Aberto.


"Baik nona." Jawab salah satu dari mereka.


Dua orang langsung membantu Hendrik menuju ke mobil dan di baringkan di samping kursi pengemudi sedangkan Maria duduk di kursi pengemudi.


"Kak Hendrik, aku antar ke rumah sakit ya kak?" tanya Maria dengan nada kuatir.


"Tidak usah, kita istirahat di hotel saja untuk mengambil pelurunya." Jawab Hendrik dengan nada lirih.


"Siapa yang akan mengambil pelurunya? Apakah Kak Hendrik?" Tanya Maria sambil mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.


"Betul sekali Kakak yang akan mengambil pelurunya." Jawab Hendrik sambil memegangi lengannya yang mengeluarkan darah segar.


"Baiklah." ucap Maria sambil mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi agar sampai di hotel secepat mungkin.


Hendrik memejamkan mata menahan rasa sakit di lengannya sedangkan tangan kiri Maria memegang tangan kanan Hendrik.


"Bertahanlah Kak." mohon Maria dengan nada lirih dan matanya berkaca - kaca.


Entah kenapa hati Maria sangat sedih ketika Hendrik terluka terkena luka tembak membuat Maria berkaca - kaca. Sedangkan Hendrik hanya tersenyum karena baru kali ini dirinya diperhatikan oleh seorang wanita.


'Biasanya Aku akan marah jika ada wanita yang berani menyentuhku tapi kenapa ketika Maria memegang tanganku Aku sangat bahagia? Apakah seperti ini rasanya diperhatikan dan diperdulikan oleh seorang wanita." ucap Hendrik dalam hati.


Tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah sampai di hotel terdekat. Maria memeluk Hendrik dari arah samping untuk membantunya berjalan. Sampai di dalam lobby hotel, Maria memesan kamar setelah mendapatkan kunci barulah mereka berjalan ke arah lift.


Kini Mereka berada di kamar hotel, Maria membaringkan Hendrik di ranjang kemudian membantu melepaskan kaos kaki dan sepatu milik Hendrik.


"Maaf aku buka kemejanya." Ucap Maria dengan wajah memerah.


Hendrik menganggukkan kepalanya tanda setuju kemudian Maria mengarahkan ke dua tangannya ke arah kancing membuat tangannya gemetaran di tambah jantungnya yang tidak berhenti berdetak kencang.


Maria mengangkat perlahan tubuh Hendrik membuat Hendrik jantungnya berdetak sangat kencang dan bau parfum milik Maria membuat Hendrik merasakan nyaman. Maria melepaskan kemejanya dan meletakkannya di lantai kemudian membaringkan Hendrik kembali di ranjang.

__ADS_1


"Sudah selesai, ada yang bisa aku bantu?" tanya Maria.


__ADS_2