Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath

Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath
Violet 2


__ADS_3

"Pintar sekali tebakanmu." Jawab Hendrik dengan nada santai sambil mengedipkan matanya ke arah Maria.


Maria hanya tersenyum melihat tingkah Hendrik yang sangat menggemaskan membuat Maria menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Cih sudah Aku tebak, untung saja dulu Aku menolak pacaran denganmu." Hina Violet kembali.


"Kamu juga, jadi perempuan tidak punya malu. Mau saja bertunangan dengan germo." Ucap Violet sambil menatap Maria dengan tatapan menghina.


Kenapa malu? Karena bagiku yang paling penting calon tunanganku duitnya sangat banyak dan tidak pelit padaku." Jawab Maria dengan nada santai sambil meletakkan kepalanya bersandar di bahu Hendrik.


"Cih... pasangan yang sangat menjijikkan." Hina Violet lagi.


"Maaf, kalungnya jadi beli tidak?" tanya pelayan toko berusaha untuk bersabar menghadapi Violet yang suka mengurusi pembeli lainnya.


"Jadi donk. Sayang, bayarin donk kalungku." pinta Violet dengan suara manjanya.


Kekasihnya mengambil dompet di saku celana panjangnya kemudian membuka dompetnya.


"Pakai kartu ini ya?" ucap kekasih Violet sambil memberikan kartu kredit.


"Baik tuan." Jawab pelayan toko tersebut.


Pelayan itupun menggesek kartu milik pria itu dan tidak berapa lama kartunya diberikan ke pria itu.


"Maaf Tuan, adakah kartu yang lainnya?" tanya pelayan itu dengan nada sopan karena pembeli adalah raja.


"Memangnya kenapa dengan kartuku?" tanya pria itu dengan wajah terkejut begitupula dengan Violet.


"Maaf tuan kartunya di tolak." Jawab pelayan tersebut.


"Apa? Bagaimana bisa? Coba pakai kartu ini." ucap pria itu sambil memberikan kartu yang lainnya.


Hendrik dan Maria menahan senyum melihat wajah panik mereka sedangkan wanita yang bernama Violet yang tadi menghina Hendrik wajahnya mulai memerah menahan malu.


"Maaf Tuan, ini beberapa satu set perhiasan limited edition." Ucap pegawai itu sambil memberikan empat set perhiasan.


"Yank, suka perhiasan yang mana?" tanya Hendrik dengan nada lembut.


"Tidak usah sayang, cukup cincin ini saja." Tolak Maria dengan halus.


"Yank, ayolah hari inikan aku akan melamarmu. Aku mohon pilih salah satu." Mohon Hendrik.


Maria menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian melihat empat set perhiasan. Maria melihat perhiasan tersebut hingga akhirnya Maria memilih berlian yang berbentuk hati.


"Aku memilih ini." Ucap Maria.


"Kenapa Yank?" tanya Hendrik penasaran.


"Karena bentuknya hati di mana hati melambangkan cinta dan aku berharap cinta kita tidak akan pernah hilang tetapi cinta kita selalu bertumbuh dari hari ke hari." Ucap Maria dengan wajah bersemu merah.


"Sayangku bisa puitis juga." ucap Hendrik kemudia mengecup sekilas bibir Maria.

__ADS_1


"Bungkus cincin pertunangan kami dan satu set perhiasan yang di pilih calon istriku." ucap Hendrik sambil mengeluarkan kartu kredit tanpa batas ke pelayan toko.


"Baik Tuan." Jawab pelayan toko menerima kartu kredit tanpa batas.


"Tuan Hendrik apa kabar." Sapa seorang pria berpakaian rapi.


"Hallo Tuan Arnold, kabarku baik. Bagaimana dengan kabar Tuan Arnorld? Tambah sukses saja tokonya." Ucap Hendrik sambil tersenyum sekilas.


"Akh ... Tuan Hendrik bisa saja. Ada apa datang ke tokoku yang kecil ini?" tanya Tuan Arnold dengan nada merendah.


"Ck.. toko besar seperti ini di bilang kecil." Ucap tuan Hendrik sambil menggelengkan kepalanya.


"Pffftttt hahahaha." tawa Tuan Arnold mendengar ucapan Hendrik.


"Oh iya kenalkan ini calon istriku, Aku ingin membeli cincin dan satu sett perhiasan untuk acara pertunangan kami." Ucap Hendrik memperkenalkan Maria ke rekan bisnisnya.


"Cantik sekali istrimu, pintar sekali kamu mendapat istri cantik. Oh iya kamu belum membayar kan?" Tanya tuan Arnold sekaligus memuji kecantikan Maria.


Maria yang mendapatkan pujian hanya tersenyum mendengar pujian Arnold.


"Terima kasih atas pujiannya. Sudah ini lagi menunggu pelayan tokomu menggesek kartu kreditku." Ucap Hendrik menunjuk ke arah pelayan toko.


"Celine belum di gesek kan?" Tanya Tuan Arnold dengan nada dingin.


"Maaf Tuan semua mesin kartu di pakai semua." Jawab pelayan toko sambil menundukkan kepalanya dengan wajah takut.


"Kalau begitu bawa sini kartunya." pinta tuan Arnold.


"Tuan Hendrik, semua perhiasan yang di pilih tidak usah di bayar anggap saja ini kado acara pertunangan kalian berdua." ucap tuan Arnold.


"Akh tidak, kadonya nanti saja kalau kami akan menikah, sekarang aku ingin membayarnya." tolak Hendrik dengan nada secara halus.


"Hmm... baiklah." Jawab tuan Arnold karena dirinya tahu sifat Hendrik jika tidak maka seterusnya akan di jawab dengan kata tidak.


"Serena, apakah masih lama karena dari tadi aku melihat kamu gesek kartu terus kenapa?" tanya tuan Arnold penasaran.


"Maaf Tuan, ini sudah lima kartu di tolak dan ini Saya lagi mencoba kartu yang ke enam." Ucap Serena menjelaskan.


"Sudah abaikan gesek kartu ini." Perintah tuan Arnold sambil memberikan kartu kredit milik Hendrik.


"Baik tuan." Jawab Serena sambil menerima kartu kredit tersebut.


"Eh tidak bisa begitu donk? Jadi orang harus antri." protes pria itu.


"Tuan, kartu milik Tuan sudah lima kali di tolak. Apakah ada jaminan kartu yang ke enam tidak di tolak?" tanya tuan Arnold dengan nada dingin sambil menatap tajam ke arah pria itu.


Pria itu hanya menghembuskan dengan kasar dan ingin protes lagi tapi tidak jadi karena pelayan toko mengatakan sesuatu.


"Tuan, ini kartunya dan tanda tangani struk ini." ucap Serena sambil memberikan kartu dan struk ke Hendrik.


"Ok." Jawab Hendrik dengan singkat sambil membubuhkan tanda tangannya.

__ADS_1


Setelah selesai Hendrik menyimpan kembali kartu kredit tanpa batas ke dalam dompetnya.


"Tuan Arnold kami pergi dulu." Pamit Hendrik.


Tangan kiri Hendrik memegang paper bag berisi perhiasan dan tangan kanannya memeluk Maria dari arah samping sedangkan kepala Maria bersandar di dada bidang Hendrik sambil membalas pelukan Hendrik.


"Ok, jangan lupa undangan pernikahan kalian." Jawab tuan Arnold.


"Ok." Jawab Hendrik dengan singkat.


"Mari tuan Arnold." Pamit Maria ramah sambil tersenyum.


"Silahkan nona, kalau Tuan Hendrik masih suka marah dan bersikap dingin tinggalkan saja, tenang masih ada aku." Goda tuan Arnold usil.


Hendrik menatap tajam ke arah Arnold sedangkan Maria menatap wajah tampan Hendrik sambil tersenyum.


"Calon suamiku sangat baik dan tidak pernah marah padaku karena itulah aku sangat mencintai calon suamiku." ucap Maria sambil tersenyum ke arah Hendrik.


Hendrik menatap mata Maria dan tidak ada kebohongan di matanya membuatnya semakin yakin untuk mempertahankan hubungannya, hatinya sangat terharu mendengar ucapan Maria.


"Tuan Hendrik sangat beruntung baru kali ini Aku melihat seorang wanita menatap Tuan Hendrik dengan penuh cinta semoga saja Aku mendapatkan wanita seperti itu." Ucap tuan Arnold.


"Semoga saja tapi yang pasti jangan kamu rebut calon istriku karena aku akan mempertahankannya." Ucap Hendrik dengan nada dingin sambil memeluk Maria dengan posesif.


Maria tersenyum mendengar ucapan kekasihnya terlebih Maria bisa merasakan kalau Hendrik adalah pria setia dan tidak akan menyakiti hatinya.


"Tenang saja, Aku bukan tipe orang yang suka merebut kekasih orang lain. Nona bersyukurlah karena baru kali ini tuan Hendrik mencintai seorang wanita sangat dalam." Ucap tuan Arnold.


"Sejak kami menjadi pasangan kekasih Aku selalu bersyukur mendapatkan calon suami yang sangat mencintaiku." ucap Maria sambil tersenyum menatap Hendrik.


"Terima kasih yank, sudah dulu ya. Bye." pamit Hendrik.


Maria hanya menundukkan kepalanya tanda dirinya juga berpamitan.


"Ok, bye hati - hati." ucap tuan Arnold.


"Ok." Jawab Hendrik sambil membalikkan badannya begitu pula dengan Maria dan merekapun melanjutkan perjalanannya.


"Maaf tuan kartu ini di tolak lagi." Ucap pelayan toko sambil memberikan kartu kreditnya.


"Apa di tolak lagi? Coba yang ini." ucap pria itu sambil mengusap wajahnya yang sudah keluar keringat dingin.


Sejak kartu ke dua di tolak lagi Violet mengalihkan pandangannya ke arah lain namun ketika Hendrik bicara dengan pemilik toko perhiasan arah pandangannya langsung ke Hendrik.


Dirinya sangat terkejut karena pemilik toko memberinya dengan gratis pasalnya perhiasan yang di pilih Hendrik adalah perhiasan yang paling mahal. Violet langsung berpikiran negatif kemungkinan pemilik toko dan Hendrik sama - sama germo karena itulah memberinya secara gratis.


"Serena dan juga yang lainnya, jika lain kali ada kejadian seperti ini dahulukan orang lain jangan menunggu lebih lama." ucap Tuan Arnold dengan nada menyindir ke arah pria itu yang wajahnya pucat pasi.


"Baik Tuan." Jawab pegawainya dengan serempak.


Pria itu membalikkan badannya dan berjalan ke ruang kerjanya namun dihentikan oleh Violet.

__ADS_1


"Tuan tunggu." Panggil Violet sambil berjalan ke pria tampan tersebut.


__ADS_2