
Hendrik yang sangat familiar dengan suara gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara dan melihat gadis tersebut mengarahkan pistolnya ke Maria. Hal itu membuat Hendrik dan Maria terkejut dengan apa yang dilihatnya, Maria yang tidak ingin Hendrik terluka membuat Maria merampas pistol tersebut.
Dor
"Akhhhhhh ...." Teriak Maria ketika pistol tersebut di tarik pelatuknya oleh gadis tersebut.
"Maria!" Teriak Hendrik.
Hendrik menahan tubuh Maria kemudian dibaringkan dengan perlahan ke arah ranjang. Hendrik kemudian menatap tajam ke arah gadis tersebut dan berusaha merebut pistol yang dipegang oleh gadis tersebut.
Mimpi Berakhir
"Kak Hendrik." Panggil Maria sambil menyentuh bahu Hendrik.
Hendrik langsung menarik tubuh Maria ke sisi ranjang kemudian mengarahkan tangannya ke leher Maria membuat Maria sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Hendrik.
"Kenapa kamu menembak kekasihku?" Tanya Hendrik sambil menatap ke arah Maria dengan tatapan tajam.
Deg
Jantung Maria berdetak kencang ketika Hendrik mengatakan kata kekasihku sedangkan Hendrik melihat wajah Maria seperti melihat wajah gadis yang dulu pernah disukainya sekaligus dibencinya.
"Kak Hendrik .... A ... A ... Ku ... Ma ... ria." ucap Maria dengan suara terputus - putus karena kurangnya oksigen yang masuk.
Hendrik yang mendengar suara Maria langsung tersadar dan menarik tangannya bersamaan Maria terbatuk - batuk sambil mengeluarkan udara sebanyak - banyaknya. Hendrik menatap Maria kemudian menatap dirinya sendiri sambil duduk di sisi ranjang.
"Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ..."
"Maaf, Aku tidak sengaja melakukannya." Ucap Hendrik merasa bersalah karena telah menyakiti orang yang dicintainya.
'Kenapa Aku mimpi seperti itu?' Tanya Hendrik dalam hati sambil berpikir.
"Tidak apa - apa Kak, Aku juga salah karena masuk kamar tanpa mengetuk pintu." Ucap Maria sambil tersenyum namun terlihat matanya berkaca - kaca.
"Kenapa Kamu ingin menangis?" Tanya Hendrik dengan wajah bingung.
"Aku tidak ingin menangis, Kak Hendrik salah melihat." Jawab Maria sambil bangun dan bersiap turun dari ranjang.
"Ada apa?" Tanya Hendrik sambil menahan tangan Maria agar tidak pergi.
"Tadi Aku tidak sengaja mendengar Kak Hendrik mengatakan : Kenapa kamu menembak kekasihku? Apakah Kak Hendrik memang sudah punya kekasih? Bukankah waktu itu Aku pernah bertanya apakah Kak Hendrik sudah punya kekasih dan Kak Hendrik menjawab sudah." Jawab Maria sambil berusaha menarik tangannya yang dipegang oleh Hendrik namun Hendrik menahannya.
Hendrik terdiam beberapa saat untuk mencerna apa yang dikatakan oleh Maria hingga akhirnya dirinya mengerti kemudian tersenyum.
"Maaf sebenarnya Kakak sudah mempunyai kekasih. Apakah kamu cemburu?" Tanya Hendrik dengan suara menggoda.
"Aku tidak cemburu. Karena Kak Hendrik sudah mempunyai kekasih maka ini adalah pertemuan terakhir kita." Jawab Maria sambil menarik tangan Hendrik dengan paksa kemudian turun dari ranjang dan berjalan ke arah pintu hotel.
"Apa hubungan Kakak sudah mempunyai kekasih dengan pertemuan terakhir Kita?" Tanya Hendrik sambil ikut turun dari ranjang dan mengikuti langkah Maria.
"Tentu saja ada. Aku tidak ingin merusak hubungan seseorang jadi lebih baik kita menjaga jarak." Jawab Maria sambil masih berjalan dengan suara tercekat.
'Baru saja Aku ingin membuka hatiku untuk Kak Hendrik tapi yang ada rasa kecewa yang teramat sangat.' Sambung Maria dalam hati sambil memegang gagang pintu.
"Apakah kamu cemburu dengan dirimu sendiri?" Tanya Hendrik sambil menghentikan langkahnya tepat di belakang Maria yang ingin membuka pintu.
"Maksud Kak Hendrik?" Tanya Maria sambil membalikkan badannya bersamaan dirinya menabrak dada bidang Hendrik dan nyaris terjatuh jika saja Hendrik tidak mememeluk tubuh Maria dari arah depan.
"Kamulah kekasih yang Kakak maksud, jujur Kakak sangat mencintaimu dan ingin menikah denganmu." Jawab Hendrik.
"Kakak tidak bercandakan?" Tanya Maria sambil menatap sepasang mata Hendrik dan tidak ada kebohongan dimatanya sambil membalas pelukan Hendrik.
"Kakak tidak bercanda, Kakak serius." Jawab Hendrik sambil menatap wajah cantik Maria.
"Kakak tahu ini memang terlalu cepat tapi selama kita bersama Kakak merasa nyaman dan ingin secepatnya menikah denganmu." sambung Hendrik.
"Kapan kakak akan datang menemui ke dua orang tuaku?" tanya Maria sambil tersenyum bahagia karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
"Untuk apa?" Tanya Hendrik dengan wajah bingung.
"Bukankah Kak Hendrik ingin menikah denganku? Masa ingin menikah tidak melamar di depan orang tuaku?" Tanya Maria dengan wajah cemberut.
"Kamu menerimaku dan tidak menolak menikah denganku?" Tanya Hendrik dengan wajah terkejut sekaligus sangat bahagia karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Tentu saja Aku tidak menolaknya karena Akupun juga sama sangat nyaman ketika kita bersama." Jawab Maria.
Walau belum tahu bagaimana perasaannya terhadap Hendrik namun Maria berusaha untuk mencintai dan menyayangi Hendrik. Maria berjanji untuk menjaga perasaannya untuk tidak menyakiti perasaan Hendrik.
"Bagaimana kalau setelah tugas ini selesai kita ke rumahmu? Tapi sebelum ke rumahmu kita pergi ke mall dulu untuk membeli cincin untuk pertunangan kita. Jadi Aku akan melamarmu di depan keluargamu." Ucap Hendrik sambil tersenyum bahagia.
"Tapi pekerjaannya masih banyak belum lagi kalau kita pergi ke mall beli cincin tunangan kemudian pulang naik mobil sampai ke mansion pasti sudah malam." Ucap Maria sambil melepaskan pelukannya begitupula dengan Hendrik.
"Betul juga ya. Kalau begitu setelah kita pulang dari mall kita langsung ke bandara dan mobil di bawa sama anak buahku. Dengan begitu sampai di mansion milik orang tuamu sore hari." Ucap Hendrik menjelaskan.
"Baiklah, kalau begitu aku akan bersiap dulu karena sebentar lagi orangku akan datang membawa pakaian untukmu." Ucap Hendrik tanpa sadar.
"Pakaian untukku? Bukankah pakaianku ada di kamar sebelah?" Tanya Maria dengan wajah bingung.
"Apalagi Aku juga sudah mandi dan bersiap untuk berangkat ke kantor bersama Kak Hendrik." Sambung Maria.
Hendrik terdiam beberapa saat sambil melihat pakaian Maria yang agak lecek akibat ulah dirinya menjatuhnya Maria ke ranjang hingga akhirnya Hendrik menepuk keningnya.
"Hehehe ...." Tawa Hendrik.
Maria hanya menggelengkan kepalanya lalu Maria berjalan ke arah ranjang kemudian duduk di sisi ranjang sedangkan Hendrik berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket.
Lima belas menit kemudian Hendrik sudah selesai mandi dengan memakai handuk yang menutupi sebagian tubuh bawahnya. Maria melihat tubuh kekar Hendrik tanpa berkedip sedangkan Hendrik berjalan ke arah lemari dan mengambil pakaian kerja.
Hendrik dengan santai menarik lilitan handuk kemudin membuangnya secara asal lalu memakai pakaiannya di depan Maria membuat Maria langsung menutup matanya.
"Kak Hendrik kenapa memakainya di depanku?" tanya Maria dengan nada protes.
"Pffftttt hahahaha... Bukannya kamu tadi sudah melihat tubuhku dan aku juga sudah melihat tubuhmu. Apa perlu kusebutkan letak tahi lalat yang berada di tubuhmu?" tanya Hendrik sambil tertawa.
Hendrik tersenyum melihat Maria seperti itu karena membuatnya menjadi gemas. Hendrik dengan santai memakai pakaiannya sedangkan Maria masih menutup matanya
"Kapan tubuh kita polos dan tanpa sehelai benangpun? Jangan - jangan sama mantan Kak Hendrik?" Tanya Maria tanpa membuka matanya dengan nada cemburu.
'Astoge kenapa Aku ingat terus dengan mimpi itu? Tanpa sadar Aku mengatakan hal itu.' Ucap Hendrik dalam hati.
"Dalam mimpi kita melakukan itu." Jawab Hendrik dengan jujur.
"Dalam mimpi? Memang Kak Hendrik mimpi apa?" Tanya Maria mengulangi perkataan Hendrik.
Maria tahu maksud dari perkataan Hendrik yang mengatakan melakukan itu. Karena itulah dirinya bertanya lagi tentang mimpi yang dialami oleh Hendrik.
"Lupakan saja apa yang Kakak katakan. Oh ya Kita kan pasangan kekasih jadi kita rubah panggilan kita. Aku akan memanggilmu dengan sebutan Yank dan aku harap kamu juga mengubah panggilanku." Ucap Hendrik mengalihkan pembicaraan.
Hendrik yang melihat Maria masih menutup ke dua matanya membuat Hendrik hanya tersenyum melihat Maria. Gadis cantik yang kini memenuhi seluruh hatinya yang paling dalam dan dirinya sangat bahagia karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Mau di panggil apa?" tanya Maria.
"Aku sudah selesai memakai pakaian. Mengenai nama panggilan terserah tapi yang romantis ya." pinta Hendrik penuh harap.
"Bagaimana kalau Sayang?" tanya Maria sambil membuka matanya.
"Ok. Kalau begitu Aku panggil kamu dengan sebutan Yank sedangkan dirimu memanggik dengan sebutan Sayang." Ucap Hendrik.
Maria hanya tersenyum dan dalam hatinya yang paling dalam dirinya sangat bahagia mendapatkan perhatian dari Hendrik.
'Semoga saja ke dua orang tuanya setuju menikah denganku.' Ucap Hendrik dalam hati dan penuh harap.
Hendrik berjalan ke arah balkon, sampai di balkon Hendrik menatap pemandangan yang berada di bawah di mana orang dan kendaraan lalu lalang diikuti oleh Maria.
"Sayang." Panggil Maria sambil memeluk Hendrik dari arah belakang.
__ADS_1
"Ada apa Yank?" Tanya Hendrik sambil menggenggam tangan Maria yang memeluk tubuhnya.
"Kita berangkat sekarang ya biar cepat selesai kerjaannya." Ucap Maria.
"Lebih baik Kita beli cincin dulu baru pergi ke kantor." ucap Hendrik.
"Ok." Jawab Maria dengan singkat.
Hendrik menggenggam tangan Maria dan berjalan keluar dari kamar hotel menuju ke parkiran mobil. Hendrik membuka pintu mobil kemudian Maria masuk ke dalam mobil dan duduk di samping pengemudi.
Hendrik memutari mobilnya kemudian membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil lalu menutup mobilnya. Hendrik duduk di kursi pengemudi dan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
Singkat cerita kini mereka sudah sampai di mall, mereka berdua langsung menuju ke toko perhiasan yang terkenal.
"Pilihkan kami cincin untuk acara tunangan kami yang limited edition." pinta Hendrik.
"Baik Tuan Muda." Jawab pelayan toko itu dengan nada sopan.
Tiba - Tiba muncul sepasang kekasih masuk ke dalam toko perhiasan sambil berpelukan dari arah samping.
"Sayang, Aku naksir kalung itu." ucap wanita itu dengan nada manja.
Hendrik terkejut mendengar suara familiar dan melirik sekilas kemudian menatap ke arah Maria karena Hendrik sangat menyukai wajah cantik Maria.
Tiba - tiba Hendrik teringat dengan mimpi semalam membuat Hendrik memeluk Maria dengan posesif seakan takut terjadi sesuatu dengan Maria.
"Silahkan sayang, apapun yang kamu minta Aku akan membelikannya." ucap pria itu.
"Terima kasih sayang." Jawab wanita itu sambil mengecup bibir pria itu dengan singkat.
"Aku mau kalung itu." ucap wanita itu dengan nada angkuh.
"Baik nona." Jawab pelayan toko sambil mengambil kalung sesuai yang di tunjuk wanita itu.
"Tuan Muda, ini cincin pertunangan limited edition silahkan di pilih." ucap pelayan toko memberikan beberapa sepasang cincin untuk di pilih.
"Yank, silahkan pilih cincinnya." ucap Hendrik yang masih memeluk Maria dari arah samping.
"Baik Sayang." Jawab Maria sambil tersenyum sambil memilih cincin pertunangan.
"Hendrik." pekik wanita itu dengan wajah sangat terkejut.
"Ada apa?" Tanya Hendrik dengan nada dingin sambil menatap sekilas ke arah wanita itu lalu menatap kembali wajah cantik Maria.
"Mau apa ke sini?" tanya wanita tersebut dengan nada sinis.
"Beli cincin tunangan karena sebentar lagi kami akan bertunangan. Oh iya Yank, kenalkan ini Violet teman sekolahku dulu." ucap Hendrik memperkenalkan Maria ke Violet.
Maria tersenyum dan mengulurkan tangannya tapi Violet tidak mau membalas uluran tangan Maria membuat Maria menurunkan tangannya.
"Sayang bagaimana cincin ini cantik tidak?" tanya Maria mengalihkan pembicaraan tanpa memperdulikan keberadaan Violet.
Biasanya Maria selalu perduli dan menghargai orang lain namun ketika orang itu ternyata sombong dan tidak membalas uluran tangan maka Maria menganggap orang itu tidak ada.
"Cantik Yank, tolong di bungkus dan sekalian tolong perlihatkan satu paket perhiasan limited edition untuk calon tunanganku." Ucap Hendrik yang juga tidak memperdulikan keberadaan Violet.
"Baik Tuan Muda." Jawab pelayan toko.
"Kamu dapat uang dari mana? Atau yang membayar calon tunanganmu ya?" Tanya Violet dengan nada menghina sekaligus menahan amarah karena dirinya di anggap tidak ada oleh mereka berdua.
"Aku dapat dari hasil kerja kerasku." Jawab Hendrik tanpa menatap ke arah Violet.
Violet yang melihat Hendrik tidak menatap dirinya di tambah nada suara Hendrik yang dingin membuat Violet sangat kesal karena selama ini tidak ada yang menolak pesona Violet.
"Maaf Nona, ini kalungnya." Ucap pelayan toko yang satunya melayani penjual.
"Ok terima kasih." Jawab Violet sambil menerima kalung itu untuk dicobanya.
__ADS_1
"Pasti kamu kerja jadi germo karena tidak mungkin kamu punya uang sebanyak itu." hina Violet lagi sambil mencoba kalungnya.